Review – Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)

2018 adalah tahun horror bagi Indonesia. Dibanjiri oleh film-film horror dari yang memang beneran horror hingga horror asal-asalan. Setengah tahun pertama banyak sekali bermunculan film-film horror dari nama-nama seperti Jose Poernomo, Rizal Mantovani dan bermunculan horror yang cukup menarik seperti Sabrina, Danur 2: Maddah, 13 The Haunted dan sekarang ini Kafir. Memang tidak semua memiliki kualitas yang sama baiknya, namun setidaknya beberapa horror ini dibuat dan terlihat niat dibuat dan memiliki niat untuk membangkitkan nama baik horror seperti dahulu kala. Genre horror memang mengalami kemunduran dan hanya bisa dihitung dengan jari film horror Indonesia yang bisa terbilang tampil menyeramkan. Tahun lalu, kita diberkahi dengan Pengabdi Setan yang menurut saya film horror Indonesia yang benar-benar menyeramkan. Sejak saat itu, Joko Anwar telah menempatkan sebuah standar yang sangat tinggi bagi perfilman Horror Indonesia. Dimana orang Indonesia pun mempunyai ekspektasi sendiri bagi film horror yang berikutnya. Dan film-film horror berikutnya bisa dibilang gagal menyamakan kualitas dari Pengabdi Setan. Kafir bisa dibilang sebuah horror yang menurut saya memang tidak satu tingkat dengan Pengabdi Setan namun masih merupakan sebuah horror yang berkualitas dan wajib untuk disaksikan.  Continue reading “Review – Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)”

Advertisements

Review: 13 The Haunted (2018)

Image result for 13 THE HAUNTED POSTER 2018

Nama Rudi Soedjarwo memang tidak asing lagi di dunia perfilman Indonesia. Bahkan dalam genre film horror. Mulai dari Pocong 2 (2006), 40 Hari Bangkitnya Pocong (2008) sampai Hantu Rumah Ampera (2009). Dan karya-karyanya tidak mengecewakan, bahkan menurut saya Pocong 2 merupakan salah satu horor Indonesia yang mencekam sepanjang masa. Karya-karya Rudi yang lain juga tidak mengecewakan, seperti contohnya film drama remaja romansa paling terkenal di dunia perfilman Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta? (2002) kemudian tentu saja semua orang mengenal film-film seperti Mengejar Matahari (2004), Mendadak Dangdut (2006), Cintapucino (2007), Kambing Jantan (2009), Ah… dan masih banyak lagi. Dan film-film diatas bukanlah merupakan film kategori mengecewakan karena memang Rudi Soedjarwo bukanlah sutradara yang asal-asalan dan body of work nya memang tidak mengecewakan. Sudah lama tidak menggarap film bergenre horror, akhirnya Rudi Soedjarwo kembali dengan 13 The Haunted. Apakah hasilnya sama mengesankan dengan film-film horor Rudi yang lain? Continue reading “Review: 13 The Haunted (2018)”

BEST MOVIES OF 2017!

2017 adalah sebuah tahun yang baik bagi industri perfilman. Dari banyaknya film-film aksi superhero, film-film drama yang refreshing dan tidak klise dan juga film-film animasi. Setelah 5 tahun tidak membuat list film terbaik, akhirnya kali ini saya menyempatkan waktu untuk menyusun 30 film terbaik menurut saya di tahun ini. Film ini mampu membuat saya merinding ketakutan, menitikkan air mata, membangkitkan semangat saya, ada yang tidak bisa membuat saya move on untuk beberapa hari dan ada pula yang memberikan kesan mendalam yang akan selalu saya kenang. Film dibawah ini merupakan film-film yang dirilis tahun 2017, namun juga film-film yang baru dirilis di bioskop Indonesia pada tahun 2017. Dan juga film yang dirilis sampai 20 Desember 2017. Film-film yang dirilis stelah itu akan masuk ke dalam Best Movies of 2018! Continue reading “BEST MOVIES OF 2017!”

Review: Call Me By Your Name (2017)

Image result for CALL ME BY YOUR NAME

Sinopsis: Call Me By Your Name mengisahkan tentang Oliver (Armie Hammer) yang demi menyelesaikan tesis nya berkunjung ke “Somewhere in Northern Italy” (kata filmnya sendiri) dan tinggal di rumah milik seorang profesor dan bertemu dengan seorang pemuda bernama Elio (Timothée Chalamet) yang menghabiskan musim panas nya hanya bermain piano, membaca buku dan berenang-renang santai di sungai. Setiap tahun nya, Elio selalu menerima tamu namun kali ini merupakan tamu yang berbeda dimana Elio merasakan sesuatu yang berbeda dengan tamu-tamu yang lainnya dimana ia dibawa ke sebuah perjalanan cinta yang dipenuhi dengan senyuman namun juga luka.  Continue reading “Review: Call Me By Your Name (2017)”

REVIEW: DANUR (2017)

danurjadwal-tv

Synopsis: Danur bermula ketika Risa (Asha Kenyeri Bermudez) yang menginginkan seorang teman di ulang tahun ke-8 nya. Permohonan Risa terwujudkan saat itu juga ketika ia didatangi oleh tiga bocah pria bernama Janshen, William dan Peter. Namun, tiga teman baru Risa ini bukanlah teman biasa, melainkan merupakan mahkluk halus yang berasal dari rumah tersebut. Sejak hari itu, Risa menghabiskan hari-harinya bersama tiga teman barunya tersebut. Namun, sang Ibu (Kinaryosih) sudah mulai merasakan hal-hal aneh terjadi pada putrinya. Sampai pada akhirnya sudah tidak tahan lagi, mereka pun pindah rumah. Hingga beberapa tahun kemudian untuk merawat sang nenek (Inggrid Widjanarko), Risa (Prilly Latuconsina) harus kembali ke rumah lamanya bersama adiknya Riri (Sandrinna Michelle). Hal-hal aneh mulai terjadi ketika tiba-tiba mereka kedatangan seorang pengasuh bernama Asih (Shareefa Danish) yang kedatanganya memiliki niat terselubung. Continue reading “REVIEW: DANUR (2017)”

REVIEW: Beauty & The Beast (2017)

landscape-1478512906-beauty-and-the-beast-movie

Sinopsis: Berkisah tentang Belle (Emma Watson) yang dianggap sebagai seorang gadis perempuan aneh dan satu-satunya kutu-buku di desa kecil. Belle yang telah ditinggal ibunya sejak kecil sekarang hanya tinggal bersama sang ayah (Kevin Kline). Suatu ketika, sang ayah harus pergi untuk menjual barang-barang dari hasil buatannya sampai ia harus terjebak di sebuah Istana besar sebagai seorang tahanan yang ternyata ditinggali oleh barang-barang yang ternyata hidup dan seekor mahkluk buas yang buruk rupa, Beast (Dan Stevens). Setelah kuda milik ayahnya, Philippe kembali kerumah Belle tanpa sang ayah, Belle memutuskan untuk mencari jejak sang ayah yang kemudian menggantikan posisi sang ayah sebagai tahanan di Istana besar tersebut. Perkiraan bahwa Belle akan menjadi tahanan dan sengsara di dalam Istana tersebut ternyata salah ketika mahkluk buas yang buruk rupa tersebut tidaklah seburuk perkiraan orang-orang dan Belle. Lama kelamaan Belle menjadi nyaman tinggal bersama Beast tidak mengira bahwa ternyata Gaston (Luke Evans) sedang mengumpulkan massa untuk menghabisi Beast tersebut. Continue reading “REVIEW: Beauty & The Beast (2017)”

Review: Life (2017)

hero_Life-2017.jpeg

Sinopsis: Mengisahkan tentang enam orang pekerja di stasiun luar angkasa David (Jake Gyllenhaal), Miranda (Rebecca Ferguson), Rory (Ryan Reynolds), Sho (Hiroyuki Sanada), Kat (Olga Dihovichnaya) dan Hugh (Ariyon Bakare) yang bertugas untuk meneliti bahwa terdapat kehidupan di luar bumi, yakni di Mars lewat sampel tanah dari Mars yang diambil. Ketika terdapat tanda-tanda kehidupan dari organisme yang dinamai Calvin tersebut, Hugh terus merawat organisme tersebut yang kian hari kian membesar. Namun, yang tak mereka sadari adalah bahwa organisme tersebut bukan organisme biasa. Calvin adalah alien yang cerdik yang mencari segala cara untuk memangsa para mahkluk hidup yang tinggal di stasiun tersebut.  Continue reading “Review: Life (2017)”

Review: Galih & Ratna (2017)

9ba6331b45414fa9584a78d47da46379.jpg

Sinopsis: “Galih & Ratna” mengisahkan tentang Ratna (Sheryl Sheinafia) seorang gadis SMA yang baru saja pindah dari Jakarta menuju Bogor yang sama sekali bukanlah keinginan dari Ratna sendiri sampai ia bertemu dengan seorang pria remaja bernama Galih (Refal Hady) yang merupakan seorang sosok misterius, pendiam, kutu buku namun mencuri perhatian Ratna. Dimulai dari sama-sama mendengarkan lagu di Walkman milik Galih sampai Ratna membantu Galih membangun kembali toko kaset “Nada Musik” yang semakin lama semakin terpuruk yang membuat Ibu Galih (Ayu Dyah Pasha) merasa bahwa menjual toko tersebut adalah alasan yang tepat. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat Galih ketika bersama dengan Ratna mencari cara-cara kreatif agar tetap menghidupkan toko kaset yang dulunya milik ayah Galih. Lewat proses tersebut, keduanya mulai mengetahui hal yang mereka sukai antar satu sama lain namun juga perbedaan yang membuat kisah cinta Galih & Ratna tak semulus kaki Sheryl Sheinafia, kata pak Guru (Joko Anwar). Continue reading “Review: Galih & Ratna (2017)”

Review: La La Land (2016)

1.jpg

Terpaksa harus menempatkan La La Land di deretan film yang saya tonton di tahun 2017 walaupun rilisnya di tahun 2016 karena memang di sebagian negara memang diputar pada tahun 2017. Saya jujur saja syok ketika melihat bahwa peminat La La Land  ternyata cukup banyak. Ketika menyaksikanya kemarin, tempat duduk nya full mungkin hanya tersisa tiga baris kedepan. Agak tidak nyangka bahwa banyak orang yang memang senang atau mungkin tertarik menyaksikan sebuah film drama musikal yang memang not everyone’s cup of tea. Setelah menyabet 7 piala di Golden Globe kemarin, rasanya mungkin itu yang membuat penonton penasaran sebagus apakah film La La Land  ini dan saya tidak akan terkejut jika La La Land  kembali menyapu bersih di Oscar nanti.  Continue reading “Review: La La Land (2016)”

Review: The Monster (2016)

the-monster-2016-poster.jpg

Synopsis: 
Hubungan antara seorang ibu bernama Kathy (Zoe Kazan) dan anaknya Lizzy (Ella Balentine) tidak bisa dibilang baik dan sehat. Kathy cenderung terlalu cuek dan tidak pedulian terhadap Lizzy dan ditambah lagi dengan tidak adanya perhatian dari sang ayah karena Kathy dan suaminya telah bercerai. Pada hari itu, Kathy harus membawa Lizzy ke rumah sang ayah. Kathy dan Lizzy mengarungi jalanan-jalanan yang sepi dan hutan-hutan yang lebat yang tidak mungkin ditelusuri pada malam hari. Sampai suatu ketika, ditengah hujan yang lebat mobil yang dikendarai oleh Kathy menabrak sebuah serigala. Kathy dan Lizzy mau tidak mau terjebak ditengah hujan dan ditengah-tengah hutan yang gelap dan mengerikan. Semakin lama mereka semakin tersadar bahwa tidak hanya hutan yang gelap yang membuat suasana tersebut mengerikan namun apa yang ada didalam hutan tersebut. Continue reading “Review: The Monster (2016)”

Review: Lights Out (2016)

b1686f3d790f32dce182fc5574fa9a06.jpg

Apakah sudah pernah menonton film pendek berdurasi 2 menit 42 detik berjudul sama di tahun 2013 silam? Film berdurasi hampir tiga menit tersebut mampu membuat bulu kuduk saya berdiri dan ditutup dengan ending yang masih kebayang sampai sekarang. Setelah tahu bahwa film pendek tersebut akan dibuat versi film bioskop nya saya sangat excited karena dengan film pendek nya saja saya sudah ketakutan sendiri apalagi menyaksikanya dengan durasi satu jam lebih. David F. Sanberg yang juga menggarap film pendeknya mempunyai wewenang besar untuk memperpanjang film nya dan melakukan apa yang tidak sempat ia lakukan di film pendeknya. Ia tahu betul apa yang ia inginkan, karena itu menurut saya Lights Out bekerja dengan sangat efektif dalam rangka menakut-nakuti penontonya.  Continue reading “Review: Lights Out (2016)”

Review: The Shallows (2016)

the-shallows-poster.jpg

Banyak sekali shark movies yang telah beredar, namun masih belum ada yang mampu menyaingi kehebatan Jaws. Jaws memang membuat penontonya parno sendiri ketika berada di pantai dengan tata musik nya yang mencekam yang masih terngiang-ngiang di kepala. Tapi memang saya masih belum menemukan film yang mampu jika tidak lebih baik setidaknya sama baiknya dengan Jaws. Rasanya film-film tentang hiu entah mengapa masih belum ada yang tampil memuaskan. Contohnya saja Shark Night yang sangat buruk itu. Kemudian Dark Tide nya Halle Berry yang juga sangat datar, Bait yang cukup diakui mempunyai ide yang sedikit lebih berbeda namun pada akhirnya tampil dengan buruk lewat eksekusi yang lemah. Dan bahkan telah dibuat kembali belakangan ini campuran hiu dengan tornado, Sharknado yang sangat konyol itu. Kali ini giliran The Shallows hadir untuk menunjukkan apakah film ini mampu menyaingi film JawsContinue reading “Review: The Shallows (2016)”

Review: The Purge: Election Year (2016)

file_749823_Purge1.jpg

Rasanya, bagi saya The Purge (2013) memiliki premis yang sangat menarik, refreshing dan baru. Tiga tahun yang lalu, membaca premis nya saya seperti girang sendiri karena sebagai pecinta film horor slasher semacam ini seperti dream come true bagi saya. Walaupun sebagai hasilnya, The Purge (2013) yang memiliki potensi besar untuk menjadi sebuah film home invason dengan premis menarik dan ide yang baru itu gagal menjadi sebuah film horor yang menghibur secara keseluruhan. Hal ini tidak membuat James DeMonaco putus asa. Menghadirkan seri keduanya yang berjudul The Purge 2: Anarchy (2014) yang menurut saya jauh lebih baik dibandingkan seri pertamanya, walaupun ada kekuranganya di beberapa bagian namun secara keseluruhan jauh lebih baik dibandingkan seri pertamanya.  Continue reading “Review: The Purge: Election Year (2016)”

Quick Review: Fundamentals of Caring (2016) & Viral (2016)

the_fundamentals_of_caring__movie_poster__by_blantonl98-da4npgm

Sebuah film yang mengisahkan tentang seorang pengasuh yang sedang dalam tahap perceraian dengan istrinya, Ben (Paul Rudd) yang dipertemukan dengan seorang laki-laki bernama Trevor (Craig Roberts) yang mengidap penyakit Muscular Dystrophy (Distrofi Otot). Trevor yang hanya memiliki waktu 7 sampai 10 tahun lagi menghabiskan waktunya dengan menonton televisi dan memakan waffle sambil mengeluarkan perkataan penuh sarkasme yang mampu menyakiti hati orang-orang, namun lama-kelamaan Ben terbiasa dengan sikap Trevor. Ingin mengubah waktu-waktu Trevor yang tersisa berwarna, Ben mengajak Trevor untuk road trip. Sepanjang perjalanan, Trevor mempelajari banyak hal dan bertemu dengan orang-orang yang telah mengubah hidup nya yang singkat tersebut. Fundamentals of Caring adalah sebuah film yang sangat lembut dan membekas. Fundamentals of Caring bukanlah sebuah film cengeng yang terlalu berupaya dengan keras untuk menjadi sebuah film yang bikin penontonya mewek. Walaupun awalnya berjalan dengan lambat dan agak membosankan, Fundamentals of Caring “membayar” nya di beberapa menit terakhir menjadi sebuah film yang begitu membekas di hati penontonya. Tentu juga dengan penampilan yang baik dari para pemainya, Paul Rudd, Craig Roberts bahkan Selena Gomez dan juga chemistry antar pemainya yang begitu meyakinkan. Fundamentals of Caring berhasil menjadi sebuah film yang stood out dari film-film sejenisnya tanpa harus terlalu berusaha keras menjadi sebuah film tearjerker. Menampilkan sebuah perjalanan yang begitu menyenangkan, menyentuh dan berkesan. Continue reading “Quick Review: Fundamentals of Caring (2016) & Viral (2016)”

Review: Suicide Squad (2016)

suicide-squad-movie-2016-poster

Saya sangat mengantisipasi Suicide Squad semenjak trailer nya dirilis setahun yang lalu saya sudah tidak sabar untuk menyaksikanya. Dan hari pertama rilis di Indonesia, saya langsung bergegas untuk menyaksikanya. Dengan ekspektasi yang cukup tinggi dan harapana-harapan bahwa DC akan membayarkan kekecewaaan para penggemarnya dengan Batman v Superman yang mengecewakan kemarin. Bayangkan saja, menyatukan para supervillain dalam satu film, hasilnya pasti akan menyenangkan dan something different dari film-film lainya. Saya tidak mau buru-buru mengatakan bahwa Suicide Squad adalah film paling mengecewakan di tahun ini, namun saya memang seharusnya tidak terlalu menetapkan standar yang terlalu tinggi. Dengan DC dan Marvel yang terus-terus dibandingkan, sepertinya DC harus benar-benar step up their game karena pada akhirnya yang terkesan dengan hasil nya hanyalah para penggemar DC, namun bukan para casual.  Continue reading “Review: Suicide Squad (2016)”

Review: ILY From 38000 Ft (2016)

027848600_1462360041-FA_POSTER_70x100_-_ILYF3800FT_-_Text_2

Saya sebenarnya agak anti nonton film yang beginian karena saya pikir gak jauh beda dengan film-film FTV yang sering ada di layar televisi. Kayak bisa nonton dirumah gitu. Seperti film-film dari Screenplay Productions sebelumnya, Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016) yang lalu yang tidak mendapatkan review yang cukup baik, terutama Magic Hour. Film-film drama remaja romansa semacam ini seperti hanya mengandalkan bintang utama yang itu-itu saja dan adegan-adegan romantis yang bikin mau muntah saja. Ya, tapi untuk kali ini.. saya mau tidak mau harus menyaksikan karena sebenarnya penasaran juga. Dan juga kemarin mereka dengan niat mengadakan konser musik di SCTV untuk Launching film ini dan menurut saya niat mereka patut diacungi jempol dan dengan jumlah penonton yang sudah menembus satu juta penonton dan menjadi film ke-7 tahun ini yang menembus satu juta, mereka layak mendapatkanya dengan usaha yang mereka kerahkan untuk kesuksesan film ini. Ya, jadi untuk masalah promosi mereka sih hebat banget. Continue reading “Review: ILY From 38000 Ft (2016)”

Review: Dirty Grandpa (2016)

dirty-grandpa-teaser-poster.jpg

Awalnya melihat trailer nya, saya tidak berharap lebih. Saya hanya ingin dibuat ketawa oleh film nya yang menurut saya akan menjadi sebuah film yang lucu dan menggelitik, simpel namun mengena di hati. Apalagi Robert De Niro, berpikiran bahwa tidak akan sembarangan memilih film. Zac Efron dan Robert De Niro dalam satu film? tampaknya akan menarik perhatian banyak sekali penonton, terutama kaum hawa. Tidak Robert De Niro maupun Zac Efron terlihat cerdas karena mereka telah bermain dalam sebuah film yang mungkin bahkan bagi Zac Efron saja sudah dibawah standar, apalagi Robert De Niro.  Continue reading “Review: Dirty Grandpa (2016)”

FAVORITE MOVIES REVIEW #2: MARI LARI (2014)

wpid-mari-lari

Sangat jarang sekali melihat film Indonesia bertemakan olahraga lari. Mungkin banyak film Indonesia bertemakan olahraga lainya seperti bulutangkis (King), sepakbola (Cahaya Dari Timur) namun lari? Saya baru kali ini menyaksikan nya. Betul-betul disayangkan saya tidak menyaksikanya di layar lebar karena tidak kesampaian. Karena hasilnya, Mari Lari adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa. Film yang begitu mengena di hati dan menyentuh tanpa harus terlihat berlebihan dan berusaha untuk membuat penontonya menangis. Wajib tonton!
Continue reading “FAVORITE MOVIES REVIEW #2: MARI LARI (2014)”

Favorite Movies Review #1: You Are The Apple Of My Eye (2011)

you_are_the_apple_of_my_eye_ver2

Saya bukan termasuk orang yang tergila-gila dengan film-film Asia. Seperti film-film Korea, Thailand, Filipina atau Mandarin.. namun pengecualian untuk horor Thailand yang masih suka saya tonton beberapa. Selain genre horor, saya tidak terlalu menyukai menonton drama-drama romantis Asia yang menurut saya agak lebay. Mungkin ada beberapa yang saya tonton seperti Love of Siam (2007) dari Thailand yang menurut saya merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Kemudian, Suckseed (2011) yang juga dari Thailand yang menurut saya not bad.. dan ada juga Crazy Little Thing Called Love (2010) dari Thailand juga yang sampai sekarang tidak tahu letak bagusnya dimana. Hanya sedikit film-film Asia yang berhasil mencuri perhatian saya dan saya agak sulit untuk dipuaskan dengan film-film Asia. Namun, You Are the Apple of My Eye mungkin bukan merupakan film drama-romance terbaik dari Asia namun merupakan my personal favorite karena banyak hal. Continue reading “Favorite Movies Review #1: You Are The Apple Of My Eye (2011)”

Review: Now You See Me 2 (2016)

now_you_see_me_two_ver18

Masih ingatkah dengan film Now You See Me 3 tahun yang lalu, yang menjadi sebuah film yang tak diduga telah mencuri perhatian banyak sekali orang dengan mempertontonkan trik-trik sulap namun dibalut dengan cara yang lebih fresh dari film-film bertemakan magic lainya. Saya pun awalnya tak tahu akan eksistensi film Now You See Me tersebut, teman saya yang mengenalkan film ini kepada saya. Dan sekuel nya pun tiba-tiba ada saja, saya tidak mengantisipasi sekuelnya karena memang tidak tahu kapan sekuelnya akan tayang. Apakah sekuelnya bisa meneruskan kesuksesan seri pertamanya? Continue reading “Review: Now You See Me 2 (2016)”

Review: Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)

Ada-Apa-Dengan-Cinta-AADC-2

Sudah 14 tahun semenjak kita diberkahi dengan sebuah film yang sangat iconic berjudul Ada Apa Dengan Cinta dan sepertinya semenjak film tersebut sudah membuat standar yang cukup tinggi bagi film-film drama romansa remaja yang lainya. Dan sepertinya tidak ada atau belum ada drama romansa yang seindah Ada Apa Dengan Cinta. Sepertinya film yang dibuat 14 tahun yang lalu paling dapet feelnya. Serasa paling ngena di hati dan sangat memorable. Bahkan sudah 14 tahun saya masih ingat adegan-adegan di dalamnya, dan line di dalam film tersebut pun masih diingat banyak orang. Ada Apa Dengan Cinta mendapatkan sebuah tempat tersendiri di hati para penonton-penontonya. Rangga dan Cinta terasa seperti hadir di kehidupan nyata para penonton. Salut untuk Rudy Soedjarwo yang mampu membuat Ada Apa Dengan Cinta menjadi sebuah film yang tak akan pernah tergantikan. Continue reading “Review: Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)”