Review: 247°F (2011)

 

Film-Film teror ruang sempit pastinya akan selalu disukai. Salah satu teror ruang sempit yang paling saya sukai adalah “Devil” yang dirilis tahun 2010. Banyak kritikan yang mengatakan bahwa “Devil” adalah salah satu karya M. Night Shyamalan selain “The Last Airbender” yang menurut saya jauh lebih buruk atau bahkan film terburuk pada tahun film tersebut dirilis. Kemudian, munculah “247°F” dengan premis yang cukup menarik. Dan sebenarnya “247°F” sama sekali bukanlah karya yang mengecewakan. Saya memang tidak mendapatkan semua yang saya mau dari film ini, namun film ini cukup menghibur dan cukup menakutkan jika membayangkan bahwa kita berada di situasi tersebut.

 

“247°F” menceritakan tentang Jenna (Taylor Compton) yang trauma karena kecelakaan mobil yang menimpanya. Jenna yang berteman dengan Renee (Christina Ulloa), Michael (Michael Copon) dan Ian (Travis Van Winkle) yang berniat untuk berliburan dengan mengunjungi kabin milik paman Ian. Selain kabin tersebut, adapula ruangan sauna yang akhirnya membuat ketiganya terperangkap didalamnya. Sempat menduga-duga bahwa itu kerjaan usil dari temanya sendiri, Michael. Apapun yang terjadi, “Every Degrees Matters”. Mereka harus bertahan di dalam ruang sauna yang semakin lama semakin panas yang bisa membunuh dan menggoreng mereka bertiga di dalam ruangan pengap tersebut.

“247°F” isn’t that bad. Apalagi jika melihat dari posternya yang kurang meyakinkan. Setelah menonton keseluruhan filmnya, “247°F” masih jauh dari kata mengecewakan. Walaupun dengan naskah yang tidak begitu spesial. Dengan karakter-karakter yang memang jika ditempatkan disituasi yang seperti ini memang tampak bodoh dan tak punya akal. “247°F” membuat penonton nya mengira-ngira hampir seluruh karakter di dalam film ini mempunyai niat jahat kepada satu sama lainya. Kita akan betul-betul diberitahu di akhir film dimana “247°F” mampu membuat saya ternganga lebar akan endingya yang untungnya tidak seburuh ending teror ruang sempit lainya. Bahkan lebih baik dibandingkan “Devil”.

Ketegangan sepertinya belum akan kita rasakan sampai di 1 jam film berjalan. Ya, sekitar 30 menit lebih atau kurang barulah kita merasakan ketegangan maksimal sekaligus adegan-adegan yang cukup sadis yang tampak tidak dibuat-buat. Levan dan Beqa memang terlalu lamban dalam bercerita. Dimana kita baru akan melihat ketiga karakter di dalam ruang sauna mulai berdebat dan melakukan hal-hal yang cukup mengerikan. Namun, selama 1 jam berbasa-basi, “247°F” memang sedikit membosankan karena selama 1 jam tersebut kita hanya akan melihat karakter-karakternya berbicara dan berdebat. Ending-nya yang memang terlihat begitu sepele, ya memang apalagi yang lebih baik dari ending tersebut? melihat mereka bertiga terkapar di ruang sauna tanpa penjelasan akan lebih buruk dibandingkan ending-nya yang satu ini.

Overall, “247°F” memang bukanlah Thriller terbaik di tahun lalu. Levan Bakhia dan Beqa Jguburia sepertinya harus belajar banyak lagi untuk menaikkan ketegangan. Naskah yang sedikit konyol serta banyak sekali adegan yang tak penting membuat filmnya sedikit membosankan dan datar di 30 menit pertama. Memang film ini yang juga sekalian menjual tubuh dua gadis di film ini sepertinya akan kita lupakan di akhir film. Tidak peduli akan kritikan-kritikan terhadap film ini. Menurut saya, “247°F” sudah cukup menghibur saya sendiri. Jika anda suka dengan film-film teror ruang sempit, sepertinya anda harus mencoba film yang satu ini.

 

Image

 

B-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s