Review: A Monster In Paris (2012)

A Monster In Paris atau judul aslinya “Un monstre à Paris” mengisahkan tentang sebuah monster yang awalnya dibuat oleh Emile ( Jay Harrington ) dan Raoul ( Adam Golberg ) yang sedang diincar-incar oleh banyak orang di Paris. Ternyata, Sang monster yang diberinama Francoeur ini bersembunyi di rumah seorang penyanyi terkenal bernama Lucille. Lucille, Emile dan Raoul pun kewalahan untuk menyembunyikan sang monster yang sudah dicari-cari oleh seluruh orang di Paris. 

 

A Monster In Paris sedikit berbeda. Tidak seperti kebanyakan film animasi lainya yang mengandalkan humor dan lelucon untuk membuat penonton yang lebih tepatnya kaum muda untuk tertawa. A Monster In Paris tidak selucu Madagascar mungkin, yang dirilis sedikit berdekatan. Namun, A Monster In Paris adalah sebuah film animasi yang bernyawa, yang dibuat hidup oleh kisahnya yang “cantik”.

Memang tidak sepenuhnya A Monster In Paris tidak lucu. Namun, untungnya kita masih diselip-kan humor yang bisa dibilang lucu dan mampu mengundang tawa. Namun tidak terlalu banyak lelucon bekerja dengan baik disini. Pada akhirnya, lelucon yang disisipkan terlihat sedikit basi dan sudah pasaran. Bibo Bergeron adalah salah satu sutradara yang smart untuk tidak terlalu mengandalkan lelucon untuk suatu film Animasi yang sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi film animasi yang lucu.

 

Kita juga diperlihatkan keindahan suara Lucille dan suara emas sang monster yang sebenarnya tidak seburuk apa yang dipikirkan oleh semua orang di Paris tersebut. Ditemani dengan scoring-scoring yang sangat enak didengar. Pengisi suara Lucille sangat mampu membuat tokoh Lucille menjadi sangat mudah untuk disukai. Saya berpikir bahwa peran utama disini adalah tokoh Emile.  Namun, porsi Lucille disini jauh lebih banyak dari pada porsi Emile sendiri. 

 

Adakalanya A Monster In Paris menjadi sangat membosankan karena tidak didukung oleh humor yang lucu terutama bagian awal hingga pertengahan. Saya sangat menyukai ending dari film ini yang sangat berwarna dan sangat indah. Ya, film animasi memang tidak luput dari hal-hal klise. Sang Monster yang tiba-tiba berubah menjadi kutu adalah hal teraneh. Dan masih banyak lagi hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal.

 

Bukan film terbaik pada tahun ini. Atau bahkan bukan film favorit saya. Bukan pula film animasi terbaik, dan bukan pula film animasi favorit saya. Namun, A Monster In Paris masih mampu menghibur penontonya dengan setiap adegan yang sangat mudah dinikmati. Ditemani juga dengan scoring original dengan suara merdu pula. A Monster In Paris seperti sebuah Animasi yang hidup dan mempunyai hati.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s