Review: Crazy Little Thing Called Love (2010)

 

Crazy Little Thing Called Love mengisahkan tentang anak SMU bernama Nam (Pimchanok Lerwisetpibol) yang sedang jatuh cinta dan tergila-gila dengan kakak kelas nya, P-Shone (Mario Maurer) yang memang selalu membuat para wanita tergila-gila. Merasa tidak percaya diri, Nam memutuskan untuk mengubah dan mengorbankan semuanya hanya untuk mendapatkan hati P-Shone. Namun, itu tidaklah mudah. Banyak sekali halangan yang menghalangi jalan Nam untuk menjadi satu-satunya wanita untuk P-Shone.

Sayangnya, apa yang dikatakan teman-teman saya tepatnya kaum hawa bahwa film ini sangat mudah untuk dinikmati dan segala hal-hal positif yang keluar dari mulut mereka tidak sepenuhnya saya rasakan sepanjang 112 film ini berlangsung. Ya, cukup lama memang film ini. Apalagi bagi orang-orang yang kurang menyukai jenis film ini mungkin 30 menit pertama sudah terasa membosankan. Sejujur-jujurnya bagian terlemah dari film ini terletak dari beberapa adegan dan kalimat-kalimat cheesy yang sangat disayangkan berada di paruh pertama film ini. Saya sebenarnya lebih menikmati paruh pertama karena paruh kedua terasa kurang spesial.

Crazy Little Thing Called Love masih cukup menghibur. Terutama dari adegan-adegan lucu dari karakter-karakter yang sangat membantu dan semakin membuat film ini lebih menghibur. Saya awalnya memang terlalu merendahkan film thailand ini. Meremehkan bahwa film ini akan berakhir sama seperti film-film drama lainnya. Namun, hasilnya Crazy Little Thing Called Love cukup menghibur dan mengejutkan. Adegan-adegan yang mampu membuat para penonton mengatakan “Awwww…so sweet” hadir dari awal hingga akhir. Wasin Pokpong mampu mengemas Crazy Little Thing Called Love menjadi sangat imut dan sangat sulit untuk tidak menyukai film ini. Hanya orang bodoh mungkin yang membenci film seimut film ini.

Berterimakasih kepada para pemain yang semuanya mampu menghidupi karakter mereka masing-masing. Mereka melakukan tugas mereka dengan sangat-sangat baik. Terutama Pimchanok Lerwisetpibol yang mampu membuat karakter Nam menjadi sangat menggemaskan. Dan Mario Maurer yang tidak bisa disangkal mampu membuat para perempuan berteriak keras dan berandai-andai jika merekalah perempuan yang beruntung bermain bersamanya di dalam film ini. Kemudian, ketiga teman Nam yang sangat mencuri perhatian. Dan yang terakhir, sang guru yang bermain dengan sangat total. Hadir menjadi karakter guru yang sangat lucu yang mampu membuat para penontonya tertawa melihat adegan konyol yang tidak pernah gagal untuk tampil lucu.

Overall, Crazy Little Thing Called Love adalah film drama/comedy biasa yang mungkin seratus-persen hanya mampu dinikmati oleh kaum hawa yang jelas sangat menyukai jenis-jenis film semacam Crazy Little Thing Called Love. Dua karakter utama yang lucu-lucu juga pastinya akan disenangi oleh penyuka-penyuka film sejenis. Jujur saja saya tidak menikmati Crazy Little Thing Called Love sepenuhnya, karena beberapa adegan tampak terlalu dibuat-buat. Dan film terkadang terasa terlalu bertele-tele. Dari segi pengeksekusiaan mungkin bisa dikatakan Wasin PokPong mampu mengeksekusi film ini dengan begitu muda, segar dan lucu. Mungkin Crazy Little Thing Called Love memang dibuat hanya untuk senang-senang saja. Saya cukup menyukai film ini. 

 

Image

Advertisements

2 thoughts on “Review: Crazy Little Thing Called Love (2010)

  1. Hello! My name is Andrew. Great blog you have there. Interesting. I shall look further into it! I liked your post. Would you mind if you could check out my blog and probably give me a follow?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s