Review: Garuda Di Dadaku (2011)

Setelah Garuda Di Dadaku(2009) berhasil memperoleh 1 juta lebih penonton dan berada pada peringkat #4 di tahun 2009, kini Garuda Di Dadaku2 kembali. dan digarap oleh Rudi Soedjarwo(Pocong 2, Lima Elang). Setelah berhasil menawarkan film anak-anak dan sekaligus film keluarga  yang menyenangkan untuk ditonton, kini Rudi Soedjarwo pun harus bisa mengulangi kesuksesan film garuda di dadaku yang sempat digarap oleh Ifa Isfyansyah 2 tahun lalu.

 
Garuda Di Dadaku menceritakan tentang Bayu(Emir Mahira) yang sekarang menjadi kapten di tim nya(U-15). Kemudian, secara tiba-tiba pelatih tim mereka Harri(Dorman Borisman) dan kemudian diganti oleh Wisnu(Rio  Dewanto). Cara melatih kedua pelatih sangat jauh berebeda dan membuat sebagian anak-anak keluar dari tim mereka.   
  Kemudian, Bayu bertemu dengan Anya(Monica Sayangbati) dan juga masih dengan teman lamanya Heri(Aldo Tansani). Begitu banyak rintangan dan halangan Bayu. Dan kemudian datangnya anggota baru Yusuf(Muhammad Ali) dan juga ibunya(Maudy Koesnadi) yang sibuk dengan urusanya sendiri.
Saya berani berkata bahwa Garuda Di Dadaku 2 tak sebaik Garuda Didadaku. Konflik yang bertubi-tubi dan tak habis-habisnya. Memang konflik-konflik seperti persahabatan dan lain-lain memang sering kita alami namun konflik itu terlalu berat bagi Bayu. Garuda Di Dadaku kurang cocok jika dibilang sebagai film anak-anak. 
 
Pertandingan-Pertandingan terlihat biasa saja, yang harusnya sebagai salah satu yang ditunggu-tunggu terlihat biasa saja. Penonton di pertandingan itu lah yang luar biasa. Apalagi ketika mereka mulai menyanyikan lagu ‘Garuda di dadaku, garuda kebanggaan ku‘. 
 
Kekurangan lainnya adalah alur cerita yang kadang terlihat datar, dan momen menyentuh yang seharusnya kita dapati lebih tidak mampu menyentuh para penonton nya. Konflik yang berat namun dapat diselesaikan begitu cepat dan singkat. Jangan lupakan scoring film ini yang bisa menambah tersendiri.
 
Akting-Akting para pemain nya bisa dibilang bagus. Momen-momen unyu antara Monica Sayangbati dan Emir Mahira mampu membuat penonton tersenyum kecil, dan juga akting Rio Dewanto yang sangat mencolok dan mencuri perhatian. Dan Ramzi yang terkadang lucu dan terkadang tidak.
 
Garuda Di Dadaku 2 memang tak sebagus film pertamanya(Garuda Di Dadaku). Namun, film ini masih sangat layak untuk ditonton, istilahnya jauh dari kata buruk. Apalagi, jika dibandingkan dengan film-film sekarang ini. Dan juga banyak yang membandingkan film ini dengan “Tendangan Dari Langit” nya Hanung Bramantyo, saya pun setuju. Tendangan Dari Langit memang masih lebih baik dari GDD2 ini. Memang banyak kekurangan film ini. namun, dapat dibantu dari cast nya dan percakapan-percakapan yang sangat nyantol di otak. dan juga nyanyian Garuda Di Dadaku yang membuat saya merinding, bukan pertandinganya.
 
NB: Sepertinya, GDD2 tak seberhasil GDD pertamanya. penonton hanya berjumlah 37 orang ketika saya menontonya. mudah-mudah film ini mampu menggeser ‘Kuntilanak Kesurupan’ dari 10 besar tahun ini. dan juga liat nilai film ini di IMDb.
Image
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s