Review: HICK (2012)

 

“Hick” diangkat dari novel berjudul sama karangan Andrea Portes. Kesan pertama melihat trailernya, saya benar-benar akan menonton film ini. Dan melihat poster nya yang serba berawarna ini cukup enak dipandang. Dan Tagline yang cukup keren, “Trouble Travels Together”. Apapun itu, “Hick” pada akhirnya cuma sebatas film kentut atau film angin yang sangat mudah untuk dilupakan. Hanya sekedar lewat saja. Memang mudah dilupakan atau saya yang benar-benar ingin melupakan. Hm, tidak juga. Karena saya masih menyukai para pemainya disini. Sudah banyak yang mengangkat tema seperti ini. Seorang gadis yang ingin kabur dan mencari kehidupan baru namun malah berakhir tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dari tindakan bodoh di dalam film yang sangat mempertanyakan bagaimana Derick Martini tidak dapat memperhatikan hal-hal yang kecil begini saja. “Hick” adalah film karya Derick Martini yang luar biasa membingungkan.

 

Hick megisahkan tentang Luli (Chloe Grace Moretz) yang bosan dengan kehidupanya dengan orang tua yang sering sekali bertengkar. Ketika melihat sebuah iklan di televisi mengenai Las Vegas, Luli memutuskan untuk pergi ke Las Vegas tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya. Di tengah jalan mencari tumpangan, Luli bertemu dengan Eddie (Eddie Redmayne) yang ternyata berniat jahat kepada Luli. Luli lagi-lagi kabur, dan kali ini ia bertemu dengan Glenda (Blake Lively). Selama perjalananya bersama Glenda, Glenda mengajarkan Luli banyak hal. Luli pun direbut-rebut oleh Glenda dan Eddie. Sampai pada akhirnya, Glenda, Luli dan Eddie dipertemukan. Ternyata Glenda dan Eddie telah menyimpan sesuatu yang sangat mengejutkan. Perjalanan dari kota kecil ke Las Vegas yang telah mengajari Luli banyak hal, terutama tentang kejamnya dunia sekarang ini. Pertanyaan terbesar saya setelah menontonya adalah, Apa sebenarnya yang ada di benak Luli yang membuat ia tetap terus-terusan bertahan bersama Glenda dan Eddie dimana ia tahu bahwa mereka berdua bukanlah benar-benar orang yang baik dan dipercayai?

Semakin lama durasi berjalan membuat Hick semakin tidak nyambung dengan penontonya. Sepertinya Hick benar-benar tidak ada sesuatu yang membuat penontonya tetap bertahan. Mungkin selain penampilan para pemainya yang menjadi hal yang paling tidak mengecewakan di sepanjang film. Oh! Mungkin ada satu lagi, ending nya yang menurut saya ditutup dengan cukup cerdas. Awalnya “Hick” memang berjalan seperti film biasa, masih terasa nyaman. Namun, lama kelamaan Derick Martini mulai kehilangan fokus. Itu semua terlihatkan dari film ini. Apa sebenarnya yang ingin ditujukan oleh Derick? Sepertinya gambaran-gambaran diatas cukup menjelaskan bahwa saya memang kecewa dengan film ini. 

Jika Derick Martini ingin menggambarkan kebrutalan dari film ini. Well, sepertinya Derick Martini harus bekerja lebih giat lagi karena kebrutalan tersebut sangat kurang terlihat di film ini selain usaha Eddie ingin mendapatkan Luli. Dan yang saya lihat adalah “Hick” adalah film tentang kokain dan pemerkosaan. Apakah “Hick” benar-benar sangat layak untuk disaksikan para remaja? Tidak! Film ini bukanya memberikan tontonan untuk remaja agar tidak melakukanya melainkan menunjukkan bahwa melakukan hal-hal bahaya seperti ini cukup menyenangkan. Derick Martini percaya kepada dirinya sendiri abhwa ia telah menyampaikan sebuah pesan yang sama sekali tidak tersampaikan kepada penontonya. Cukup menyedihkan melihat “Hick” sangat gagal untuk tampil menghibur karena sudah didukung oleh para pemainya.

Chloe Grace Moretz adalah seorang gadis berusia 15 tahun yang sangat cerdas. Ia mampu menghidupkan karakter demi karakter yang ia perankan. Pertama kali jatuh cinta adalah semenjak menonton Kick Ass dan kemudian Let Me In. Sudah cukup jelas bahwa semuanya menginginkanya untuk berada di filmnya masing-masing. Dan disini sebagai Luli, Chloe Grace Moretz bermain dengan sangat baik. Sebuah penampilan yang sangat jauh dari kata mengecewakan. Eddie Redmanyne juga bermain dengan cukup baik. Dan Blake Lively yang bermain sebgai perempuan nakal mampu bermain dengan cukup nakal. Intinya, semuanya bermain dengan baik. Derick Martini harus benar-benar berterimakasih karean ia telah mempunyai casts untuk filmnya yang sama sekali tidak mengecewakan dibandingkan filmnya yang tidak karuan.

Overall, Hick memang menang dalam pemain-pemainya. Terutama Chloe Grace Moretz yang sepertinya belum pernah dan semoga tidak akan pernah mengecewakan saya dan saya yakin penonton dalam berakting. Dan Blake Lively yang juga tidak mengecewakan. Ia bermain pas, yang biasanya bermain cukup kaku di beberapa film. Dan cukup menawan. Selain banyaknya adegan-adegan yang cukup menganggu. Hick tidak pernah membuat saya tersenyum walaupun sudah diselipkan lelucon-lelucon kecil. Semakin lama semakin membosankan. Walaupun sebenarnya poster nya yang cukup berwarna dan menarik perhatian itu mampu mengundang, serta dari trailernya saja sudah cukup menarik perhatian. 93 menit berlalu sepertinya saya tidak mendapatkan semua apa yang saya ingingkan selain tingkah bodoh dari para pemain yang cenderung mengesalkan. Ya, walaupun saya harus mengatakan bahwa endingnya cukup cemerlang. Derick Martini saya katakan gagal mengeksekusi “Hick” menjadi film yang menyenangkan. Dan jelas sangat mudah untuk dilupakan. Sebuah karya yang jauh dari kesan sempurna, sangat mengecewakan.

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s