Review: Rumah Kentang (2012)

Jose Poernomo adalah salah satu sutradara horor lokal terbaik selain Rizal Mantovani. Itu dulu, sekarang? kita belum menemukan horor lokal yang beneran mengerikan mungkin semenjak Keramat oleh Monty Tiwa. Apakah Monty Tiwa akan menjadi sutradara terbaik sekarang? Rumah Kentang bukanlah hasil yang sempurna. Bahkan untuk mengatakan bahwa Rumah Kentang dengan kata “bagus” saja sedikit membingungkan. Jose Poernomo kali ini harus benar-benar kembali ke wujud aslinya, kembali ke Jose Poernomo yang kita kenal. Rumah Kentang memiliki banyak sekali kekurangan. Tidak sepenuhnya buruk. Setidaknya Rumah Kentang masih layak untuk disaksikan jika kita hanya memikirkan kengerian dari awal hingga akhir. Dan tidak memikirkan kelemahan demi kelemahan. Namun bagaimana untuk tidak memikirkanya jika kelemahan tersebut justru berada di scriptnya?

 

Rumah Kentang menceritakan tentang Farah (Shandy Aulia) yang harus kembali akibat meninggalnya sang ibu. Meninggalnya ibu dari Farah membuat adiknya, Rika (Tasya Kamila) shock. Ibu Farah meninggalkan sebuah rumah besar yang terkenal dengan nama Rumah Kentang. Semenjak Farah dan Rika tinggal di rumah tersebut. Farah dan Rika merasa tidak nyaman tinggal dirumah yang telah ibu mereka wariskan kepada mereka. Mereka merasakan ada mahkluk gaib yang juga tinggal di dalam rumah tersebut. Keadaan semakin rumit ketika Farah,Rika dan sang kekasihnya mulai melukai hati sang hantu kecil. Ya hanya segitu simpel plot cerita dari Rumah Kentang.

Sungguh menyedihkan, film ini adalah film lokal yang paling saya tunggu-tunggu di bulan ini atau mungkin tahun ini. Namun hasilnya tidak begitu memuaskan. Saya seperti tidak percaya bahwa Jose Poernomo bisa dibilang gagal mengeksekusi film Rumah Kentang yang sebenarnya banyak sekali potensinya untuk menjadi film lokal terbaik di tahun ini. Saya tidak menyangka bahwa film Rumah Kentang akan dicaci-maki. Scoring yang berlebihan menurut saya wajar-wajar saja. Saya tidak akan memasukkan point itu kedalam hal-hal negatif dalam film ini. Durasi nya terlihat pas. Sinematografi nya harus diacungi jempol. Dan karena itu Jose seperti mengenyampingkan semuanya sehingga adegan-adegan konyol pun masih bisa kita lihat. 

Masalah ngeri atau tidaknya, Rumah Kentang memang cukup mengerikan dan mengejutkan di beberapa bagian. Tidak sepenuhnya buruk, dan tidak seburuk apa yang orang katakan. Karena film ini mampu mengejutkan tiap penontonya dengan sangat tepat. Yang cukup disayangkan adalah sang “hantu” yang sama sekali tidak menyeramkan. Dan seperti nya momen-momen lebih menyeramkan jika ia tidak muncul sama sekali. Porsi nya pun disini tidak begitu banyak. Jadi, Jose Poernomo lebih memilih menakut-nakuti penontonya dari versi-versi dan teknik lamanya yang telah ia lakukan di film-film horror sebelumnya. Film ini tidak konsisten. Karena di pembukaan, atmosfir jauh berbeda. Pembukaan Rumah Kentang mungkin adalah momen yang terkuat selain bagian akhir-akhir ketika tersisa Farah dan Rika. 

Kesalahan pertama adalah memilih Shandy Aulia sebagai pemeran utama. Muka kaku masih terlihat dari mimik Shandy Aulia yang memang sangat datar disepanjang film. Dan berbicara layaknya sedang membaca puisi. Namun memang kecantikan dan keseksian Shandy Aulia memang sangat diumbar. Dengan dress yang sangat ist Dan Tasya Kamila pun sebenarnya kurang memuaskan. Walaupun sebenarnya Tasya memiliki potensi disini. Bahkan Tasya mampu bermain lebih baik dibandingkan Shandy Aulia. Namun mungkin ini karena masalah porsi Tasya yang memang terlalu sedikit. Gilang bermain cukup memuaskan. Walaupun di beberapa bagian sedikit berlebihan. Penampilan terbaik saya berikan kepada Rina Nose yang adalah angin segar di sepanjang film ini. 

Overall, Rumah Kentang bukanlah apa yang telah di idam-idamkan pecinta horror lokal kita. Kita memang sudah menuntut lebih. Jelas-jelas telah tercantum nama Jose Poernomo yang memang terkenal sebagai sutradara yang telah membuat Jelangkung. Rumah Kentang cukup jauh dari kata memuaskan. Akting dari Shandy Aulia yang sangat datar, dan script yang memang telah dibahas oleh banyak orang yang sangat-sangat lemah. Siapapun yang telah menulis script untuk film ini jelas menghancurkan film ini sendiri. Memang Rumah Kentang masih menghadirkan momen-momen menyeramkan dibalik kelemahan yang menurunkan mood penontonya. Bagi orang-orang yang penakut mungkin akan menyukai film yang satu ini. Namun, bagi orang yang memang sudah menonton film semacam ini berkali-kali dan telah menaikkan ekspetasi karena Jose Poernomo lah sang sutradara mungkin akan kecewa. Menurut saya, Rumah Kentang jauh dari apa yang saya harapkan bukan hanya sekedar horror yang kaget-kaget. Dan sang “hantu” disini pun belum cukup menyeramkan. Tidak seluruhnya buruk, setidaknya adegan-adegan terakhir cukup dikemas dengan baik. Rumah Kentang seharusnya tampil lebih baik dari ini. 

 

Image

 

Advertisements

One thought on “Review: Rumah Kentang (2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s