Review: Sampai Ujung Dunia (2012)

Sampai Ujung Dunia menceritakan tiga orang sahabat Daud(Dwi Sasono), Gilang(Gading Marten) dan Anissa(Renata Kusmanto) yang sudah bersahabat sejak kecil sampai besar. Awalnya mereka bertiga hanya berteman saja, namun makin kelamaan Daud dan Gilang menyukai Annisa. Annisa pun dilema untuk memilih yang mana, terbentuklah sayembara. Barang siapa yang bisa membawa Annisa ke Belanda akan menjadi miliknya, dengan memakai uang dari jerih payah masing-masing. Ditengah-tengah perjuangan Daud dan Gilang, Annisa menyimpan rahasia bahwa ia memiliki suatu penyakit yang memprihatinkan.

 

Saya sangat terkejut karena Monty Tiwa adalah sang sutradara dari film Sampai Ujung Dunia. Sangat terkejut karena film ini salah satu film drama lokal favorit saya. Film yang tidak cengeng, namun sangat menyentuh. Sampai Ujung Dunia memang tidak sempurna. Masih banyak kekurangan-kekurangan yang jelas memberikan dampak bagi film itu tersendiri. 

 

 

Sampai Ujung Dunia dimulai dengan flashback antara tiga sahabat. Ya, meman film ini dipenuhi dengan flashack-flashback yang ditata dengan rapih. Alur yang tertata rapi pula. Sampai Ujung Dunia memang memiliki premis yang sangat pasaran, mungkin bukan hanya di perfilman Indonesia. Namun di seluruh perfilman di dunia. Misalkan,Satu Jam Saja yang jelas sangat mengecewakan. Satu Jam Saja jelas salah satu film yang “cengeng”..harus memperlihatkan kesedihan yang mendalam namun tidak didukung oleh alur cerita dari film itu sendiri.

 

Akting Dwi Sasono patut diacungi jempol. Ia sangat menjiwai karakter nya dan membuatnya nyata. Begitupula Gading Marten yang sangat konyol. Ia sangat dibutuhkan oleh film ini agar tampak lebih fresh. Dan Gading Marten berhasil. Ia tampak memukau dan begitupula Dwi Sasono. Hampir semua bermain dengan baik. Dwi Sasono dan Renata Kusmanto mampu membangun chemistry yang nyata dan natural. Dari departemen akting, semua memuaskan.

 

Tidak lupa pula disisipkan beberapa lelucon yang sangat membantu dan membuat film ini tampak lebih segar. Bukan cuma dari Gading Marten namun dari beberapa aktor dan aktris yang juga bermain di film ini. Masih banyak kekurangan dari film ini, Ending nya tampak terlalu dibuat-buat seperti banting stir dari ending yang seharusnya. Mungkin Monty Tiwa mau membedakan film nya dari film-film bergenre sejenis, namun tampaknya banyak yang tidak menyukai ending dari film ini.

 

Overall, Sampai Ujung Dunia memang tidak sempurna. Namun, banyak pesan-pesan singkat yang bisa dipetik dari film ini.Dengan adegan-adegan yang sangat menyentuh dan alur yang sangat rapih. Ditambah akting dari para pemain yang sangat memuaskan. Salah satu fim drama lokal favorit saya. Dan jangan lupa pula scoring yang jempolan dan ear catchy. Namun sayangnya film semacam ini sangat sedikit penggemarnya. 

 

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s