Review: The Grey (2012)

The Grey mengisahkan mengenai sekelompok penambang minyak yang terdampar akibat pesawat yang mereka tumpangi jatuh di pedalaman Alaska. Diantara penambang-penambang minyak yang selamat, terdapat Ottway(Liam Neeson). Ottway disana untuk membunuh serigala-serigala atau hewan-hewan buas lainnya yang mengancam nyawa para penambang minyak tersebut. Ottway dan keenam orang yang selamat lainnya harus bertahan dari kurangnya bahan makanan. Namun,tidak hanya sampai disitu saja. Mereka juga harus bertahan hidup dari binatang-binatang buas yang menbuntuti mereka dan berniat jahat pada mereka.

 

 

 

 

The Grey memang seperti film-film survivors Hollywood. Namun, The Grey bisa tampil sangat menghibur dari awal, pertengahan hingga akhir. Liat saja bagaimana Joe Carnahan merancang satu demi satu adegan darri film ini menjadi adegan yang sangat sulit untuk dilupakan. Yang paling saya sukai dari film ini adalah Perjuangan ketujuh penambang minyak dari cobaan yang bertubi-tubi selama tiga hari. Joe Carnahan dengan ide cemerlang nya telah berhasil membuat saya terpukau pada film ini. 

 

Jika disaksikan ulang, ada banyak film-film yang serupa dengan The Grey. Awalnya pun tidak bertele-tele menceritakan kepenatan Ottoway dan bayang-bayang sang istri, dan sempat ditunjukkan aksi-aksi Ottoway di awal film yang cukup membuat penonton bertanya-tanya. Kejadian jatuh nya pesawat yang mereka tumpangi juga mampu membuat saya, atau mungkin seluruh penonton terkaget-kaget. Ternyata, hanya Ottoway lah yang paling pintar di pesawat itu. Awalnya, saya mengira bahwa hanya dialah yang selamat dan kita akan menyaksikanya hingga akhir film. Dugaan saya salah.

 

Munculnya karakter-karakter baru di pertengahan film juga akan membuat penonton tidak merasa kebosanan. Karakter-karakter yang fresh dan bisa diingat dari karakter yang mencolok pula. Yang memakai kacamata, yang paling sering mengeluh, si cerewet, yg paling bijak, yang berkulit hitam. Joe Carnahan mampu membuat setiap adegan sangat berharga untuk ditonton. Memang datangnya hewan- hewan buas memang salah satu momen paling menegangkan. Apalagi ketika momen kejar-kejaran tersebut yang akan membuat para penonton diam, duduk dan menganga. 

 

Sayangnya, bagi saya 114 menit lamanya terlalu lama. Ada perbincangan yang seharusnya dihilangkan, The Grey memang tidak sempurna. Tetapi, dibalik ketidak sempurnaan itulah yang membuat The Grey sangat menarik dan sangat mencolok dibandingkan film ber-genre sejenisnya. The Grey adalah film yang ‘cool’ sampai pada akhirnya, tidak terlalu banyak lelucon dan adegan-adegan konyol. Namun masih tampil menarik dan menghibur. Mungkin sebagian dari penonton akan mengetahui akhir dari film-film sejenis The Grey ini. 

 

The Grey adalah film thriller survivor karya Joe Carnahan yang patut dibanggakan. Bisa dilihat cara dia mengeksekusi The Grey menjadi film yang sangat spesial dengan adegan-adegan yang sangat natural. Tidak membosankan, banyak pesan-pesan kecil yang bisa dipetik dengan aktor-aktor yang bisa membangun karakter mereka masing-masing. Yang paling saya sukai dari film ini adalah bagaimana Ottoway dan penambang minyak lainnya dapat bertahan hidup. ditambah lagi dengan jiwa kemanusiaan mereka yang semakin diuji di setiap cobaan yang diberikan. Sangat menghibur!

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s