Review: We Bought A Zoo (2012)

"We Bought a Zoo Poster" 

Menceritakan tentang Benjamin Mee (Matt Damon) yang ingin memulai sesuatu yang baru semenjak istrinya meninggal dunia. Hubungan Benjamin dengan anak lelakinya, Dylan Mee (Collin Ford) tidak begitu baik. Itulah yang membuat Benjamin ingin memulai awal yang baru dengan pindah ke rumah baru yang tidak sengaja dipilih oleh nya sebuah kebun binatang yang terbuang. Benjamin ingin membangun kembali kebun binatang tersebut, dengan bantuan dari Kelly Foster (Scarlett Johanson) dan orang-orang yang masih peduli akan binatang-binatang dan kebun binatang itu sendiri.

We Bought A Zoo adalah film drama keluarga yang sangat pas jika disaksikan bersama seluruh anggota keluarga. We Bought A Zoo memiliki momen-momen yang sangat menyentuh, tanpa harus bersikap cengeng. Kita jelas bisa merasakan kepedihan dan kerinduan Benjamin akan istrinya, Matt Damon jelas sudah memerankan tokoh Benjamin dengan cukup baik. Segi cerita sebenarnya cukup mencuri perhatian dan membuat penasaran. Banyak orang yang menaruh film ini kedalam list film-film terbaiknya. Um, we’ll see.

Saya tidak mengatakan bahwa saya seratus persen menikmati seluruh menit dan detik film ini. Malah menurut saya, durasi sepanjang 120 menit lebih terlalu lama dan terlalu bertele-tele. Maafkan saya. Tapi memang We Bought A Zoo sedikit membosankan di bagian awal. Tiba di bagian akhir, saya baru merasa bahwa We Bought A Zoo mulai mudah untuk dinikmati. We Bought A Zoo tidak menyuruh penontonya untuk berpikir keras, tidak. Film ini adalah film yang bisa dikatakan cukup ringan, maka itu film ini sangat layak jika ditonton oleh seluruh keluarga.

Untuk casts nya, Pimp spot harus saya berikan kepada Elle Fanning untuk bermain dengan sangat-sangat baik. Dialah udara segar di film ini. Kemudian, Scarlett Johanson juga cukup baik. Cukup, sudah pas. Matt Damon seperti yang sudah saya katakan sangat baik. Dan masih banyak lagi. Terutama si unyu Rosie, Maggie Elizabeth Jones yang juga mampu membuat kita tertawa sedikit. 

Hal yang paling saya sukai dari film ini adalah hubungan Benjamin dengan anak laki-laki nya. Cara Benjamin untuk memulai awal yang baru dengan membuat kebun binatang itu berharap anak laki-lakinya menyukainya. Saya merasakan sakit hatinya Benjamin. Selain hubungan antara ayah dan anak tersebut. Saya juga menyukai ending di film ini yang sangat-sangat menyentuh. Tidak perlu menangis, adegan tersebut sudah masuk ke hati saya. We Bought A Zoo bukanlah film yang lembek yang meningingkan penontonya untuk nangis darah ketika menyaksikanya. Lewat adegan-adegan menyentuh, kita bisa memetik pesan-pesan singkat yang sengaja disampaikan oleh Cameron Crowe disini.

Keseluruhan, We Bought A Zoo belum bisa saya masukan ke daftar film terbaik saya. Tidak istimewa, namun jelas saya akan meningat ending yang super-cute ini. We Bought A Zoo mempunyai beberapa adegan menyentuh. Sedikit membosankan, adakalanya berharap film ini untuk berakhir. Tetapi, We Bought A Zoo tetap mampu tampil menghibur. Berterimakasih kepada Elle Fanning yang membawa udara segar setiap kali wajahnya tampil di layar kaca, dan kisah percintaan antara Lily dan Dylan yang sangat lucu dan menyenangkan untuk ditonton. We Bought A Zoo bukanlah jauh dari kata buruk. Good, but not great.

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s