Review: Air Terjun Pengantin (2009)

Cukup telat untuk kembali mereview ‘Air Terjun Pengantin’ karena dirilis 4 tahun yang lalu. 

‘Air Terjun Pengantin’ bisa dikatakan horror-slasher lokal kita yang berhasil. Berhasil dalam

menggaet penontonya sehingga tercatatlah jumlah penonton yang tembus sejuta. Berhasil dalam keseluruhan film nya? Tunggu dulu. Berdampingan dengan ‘Air Terjun Pengantin 2’ yang dirilis akhir Januari nanti, maka itu saya mengulang kembali film pertamanya. ‘Air Terjun Pengantin’ bisa saja membuat Riza Mantovani bangga karena sudah menembus sejuta. Tetapi, tidak semua penonton puas dengan hasilnya. Terkejut melihat nama Rizal Mantovani yang sempat berhasil dalam mengeksekusi sebuah salah satu film horor lokal terbaik kita. Ya, tidak usah diucapkan lagi. Apakah ini pertanda bahwa Rizal akan berubah menjadi seorang sutradara semacam KKD dan Nayato dan akan terus membuat sebuah film semacam ini kedepanya? Berdoa saja tidak. 

‘Air Terjun Pengantin’ mengisahkan tentang Tiara (Tamara Blezynski), Mandy (Navy Rizky Tavania), Lilo (Kieran Sidhu), Icang (Marcel Chandrawinata), Amy (Tyas Mirasih), Stacy (Jenny Cortez), Dinar (Nanie Darham) dan Bram (Andrew Ralph) yang berlibur kesebuah pulau yang dinamakan Pulau Pengantin. Pulau Pengantin tersebut terkenal dengan Air Terjun nya yang dinamakan Air Terjun Pengantin. Air Terjun Pengantin tersebut dipercaya mampu mengabulkan permintaan siapa saja yang telah datang ke tempat tersebut. Mereka ber-delapan berharap mereka mampu mendapatkan apa yang mereka mau. Pulau Pengantin memang dari awal digambarkan sebagai Pulau yang sepi penghuni. Bahkan tidak ada satu pun orang di dalam pulau tersebut. Namun, mereka tidak sadar bahwa ada yang telah mengikuti mereka. Seseorang yang haus akan darah.

Saya tidak tahu akan jadi apa sekuel dari ‘Air Terjun Pengantin’ nanti di akhir Januari. Berharap sekali mendapatkan sesuatu yang lebih baik dibandingkan yang satu ini. Dari jajaran pemainya sih ‘Air Terjun Pengantin 2’ jauh lebih meyakinkan dari yang pertama ini. Yang katanya akan lebih banyak adegan aksi. Tambah bingung saya memikirkan akan jadi apa sekuel nya. Saya berharap akan menjadi sebuah film yang menakjubkan. Namun, saya mencium aroma kegagalan lagi dari Rizal Mantovani. Hm.

‘Air Terjun Pengantin’ adalah sebuah kegagalan dari sutradara Rizal Mantovani. Semakin lama hasil karyanya semakin menurun saja. Namun, yang satu ini benar-benar menurun drastis. ‘Air Terjun Pengantin’ hanya memanfaatkan keindahan tubuh setiap pemainya. Tampil berani? Mereka memang tampil berani. Namun, lama-lama mata saya lelah melihat tubuh mereka karena mereka telah memamerkan tubuh mereka berulang-ulang kali sejak menit-menit pertama. Jadi, ‘Air Terjun Pengantin’ adalah sebuah slasher yang sangat gagal tampil sebagai yang seharusnya.

‘Air Terjun Pengantin’ yang katanya menyeramkan. Um, saya sama sekali tidak merasakan keseraman yang seharusnya saya dapatkan. Adegan yang katanya sadis? Tidak juga. Saya justru menemukan adegan-adegan di sepanjang film tidak se-sadis adegan di Rumah Dara. Slasher kita yang berhasil dirilis di tahun 2010. Membandingkan Rumah Dara dengan ‘Air Terjun Pengantin’ sangat jauh berbeda. Lebih memilih untuk tidak membandingkanya. Kasihan Rizal Mantovani. Kembali ke adegan yang katanya menyeramkan. ‘Air Terjun Pengantin’ juga kurang adegan darah-darahan. Seharusnya, jika ada adegan potong-memotong harusnya darah berceceran. Dalam membunuh satu-satu karakter nya di sepanjang film, ‘Air Terjun Pengantin’ malah terlihat terlalu lama ke saat-saat yang ditunggu tersebut. Jadi,‘Air Terjun Pengantin’ akan menjadi film yang cukup membosankan bagi orang yang telah berharap lebih. 

Selain kurang menyeramkan. ‘Air Terjun Pengantin’ juga gagal tampil dengan baik dalam pemain-pemainya. Tamara Blezynski sebagai karakter utama bermain dengan biasa saja. Tidak menonjol. Dan pemain-pemain wanita nya? Tidak usah ditanyakan lagi betapa buruk nya akting mereka satu-per-satu. Bahkan seorang Tyas Mirasih bermain sekaku mungkin. Marcel Candrawinata juga gagal bermain konyol. Kadang malah berlebihan dan menjadi menijikan. Kieran Sidhu dan Andrew Ralph asik pasang wajah sok tampan yang akhirnya malah jadi menjijikan. Asik tebar pesona yang akhirnya malah jadi lupa ber-akting. Tidak ada akting yang membanggakan dari para jajaran pemain yang ada disepanjang film. Kasihan sekali film ini. Bahkan ada wanita yang masih diam-diam saja padahal tangan nya sudah putus dan sudah tertancap. Malah seperti tidak merasa kesakitan sedikit pun. 

25 menit terakhir bisa dibilang adalah momen yang jauh mendingan dari sepanjang film tersebut. Walaupun terkadang memang terlihat basi dan tidak menyeramkan sama sekali. Saya kurang merasakan ketegangan yang ingin saya rasakan ketika menyaksikan film ini. Yang saya rasakan malah rasa kebosanan menyaksikan kedelapan, eh tujuh. Karena ada satu karakter di dalam film yang sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Dan selama 79 menit. ‘Air Terjun Pengantin’ berakhir sebagai film yang sangat basi dan tidak menyeramkan.  

Mana adegan sadis yang telah dijanjikan? Mana? Errr…‘Air Terjun Pengantin’ adalah film slasher yang sebenarnya tidak mempunyai kelebihan apapun. Jika melihat kembali sepanjang film, tidak memiliki hal yang positif sepertinya. Kecuali usaha Rizal Mantovani dalam menciptakan sebuah momen-momen mengerikan (ya, setidaknya ia telah berusaha) Usaha yang terkadang gagal. Satu-satunya momen yang membuat saya geregetan adalah mungkin ketika aksi kejar-kejaran Mandy, Amy dengan dukun sialan tersebut. Itu saja. Sisanya, basi dan garing. Banyak sekali hal-hal yang membingungkan di sepanjang film. Seperti adegan ketika salah satu karakter hampir dibunuh atau dalam proses pembunuhan malah dibiarkan begitu saja hanya teriak-teriak. Teriak tidak membantu tahu!  Tidak lupa pula dengan lagu-lagu yang mengisi sepanjang film ini. Seperti Peterpan. Lagu peterpan sambil melihat Tamara berjemur agak lucu sih sebenarnya. Rizal Mantovani bahkan tidak mengambil kesempatan dalam pemandangan Pulau Pengantin tersebut. Overall, ‘Air Terjun Pengantin’ adalah sebuah film yang seharusnya mampu tampil dengan baik. Tidak mengapa sebenarnya menambah unsur-unsur seks seperti itu. Namun juga dengan film nya yang memang kuat dari awal. Film ini mampu saja menjadi film yang layak tonton. Asalkan Rizal Mantovani memang serius mengeksekusi film ini dari awal. Bukan hanya ingin menyajikan sebuah slasher yang hanya mengandalkan tubuh pemain-pemain wanita nya saja. 

Image

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s