Review: Chernobyl Diaries (2012)

Chernobyl Diaries mengisahkan tentang sekelompok turis Chris (Jesse McCartney), Paul (Jonathan Sadowski), Amanda (Devin Kelley) dan Natalie (Olivia Dudley) yang ingin berlibur ke Pripyat. Mereka juga bertemu dengan dua turis lainya. Dipimpin oleh Uri (Dimitri Diatchenko), Keenam turis ini menjelajahi Pripyat yang layaknya kota mati tersebut. Awalnya, mereka tidak diperkenankan untuk masuk ke wilayah tersebut, namun turis-turis bodoh ini tetap saja pergi ke wilayah terlarang tersebut. Ketika mereka mencoba pulang kembali, tiba-tiba mobil Uri tersebut tidak bisa dihidupkan. Hal tersebut menjadi mimpi buruk bagi para turis ini yang tidak tahu bahwa akan ada hal yang lebih menyeramkan dari anjing-anjing galak tersebut yang siap untuk menanti mereka semua. 

 

Premis nya sebenarnya menarik. Namun, “Chernobyl Diaries” masih dibilang kurang berhasil tampil memikat. Kesalahan utama Bradley Parker adalah dalam durasi yang sebenarnya tergolong singkat, Bradley Parker masih terlau berbasa-basi di awal film. Memperlihatkan hal-hal tidak penting kepada para penontonya. 10 menit di awal film bisa dibilang momen-momen yang sangat menjenuhkan. Cukup diakui pula bahwa “Chernobyl Diaries” tidaklah seburuk para kritikus-kritikus katakan. Saya cukup menikmati bagaimana “Chernobyl Diaries” berjalan. Masih banyak pekerjaan untuk Bradley Parker dalam mengeksekusi sebuah fim menjadi film yang disukai oleh penontonya. Jika kita mengesampingkan hal-hal yang menganggu selama 80 menit ini, pasti kita akan lebih merasa terhibur. 

“Chernobyl Diaries” memiliki ending yang sangat mengecewakan. Menjadi kurang orisinil. Apa yang ada dipikiran Bradley Parker mengakhiri film yang sebenarnya semakin lama durasi berjalan semakin membaik kemudian dihancurkan oleh ending nya yang kurang saya sukai. Butuh waktu lama bagi “Chernobyl Diaries” untuk tampil menegangkan. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa selama 40 menit waktu bergulir. Namun, saya tidak begitu merasa jenuh setelah sepuluh menit pertama karena saya menyukai bagaimana mereka menjelajahi bagian-bagian dari Chernobyl dengan mengenalkan satu per satu yang ada di sekitar wilayah Pripyat tersebut lewat pergerakan kamera yang sangat tidak pas yang terlalu goyah kesana goyah kesini di sepanjang film.

Hal yang paling menganggu adalah kebodohan tingkat tinggi dari para karakter-karakter di film tersebut. Karakter-Karakter annoying mau tidak mau akan selalu kita dapatkan di genre sejenis “Chernobyl Diaries” ini. Dan biasanya hanya satu dari seluruh karakter di dalam film yang tampil sangat menganggu. Bayangkan, anda menonton film dimana seluruh karakter di dalam filmnya tampil se-annoying mungkin. Bodohnya karakter tersebut bahkan dalam momen menegangkan tidak mampu melakukan hal yang sepantasnya mereka lakukan. Saya bahkan menemukan bahwa karakter di dalam film ini terkadang lebih bodoh dari karakter-karakter film horror lokal kita sebagian. Sebagian saja. Contoh kebodohanya, “Mengapa karakter “itu” terus-menerus dihidupkan sementara jika berpikir logika, nyawanya sudah pasti tidak tertolong. Kemudian, “Orang sebodoh apa yang membiarkan temanya yang lagi sakit ditinggalkan sendirian di tangga yang gelap gulita sementara mereka ingin mengecek sesuatu di luar sana?” Kemudian, ” Mengapa tidak mereka keluar di pagi hari? kan si “itu” bisa digendong?” Saya tak habis pikir dengan karakter-karakter di dalam film. Sangat menganggu.

Akting dari pemainya sebenarnya tidak buruk. Malah mengejutkan. Mengejutkan di sisi positif. Mereka semua mampu tampil dengan se-natural mungkin. Jesse McCartney yang dikenal dengan lagu “Shake” nya pun tidak tampil buruk-buruk pula. Namun, justru ia memang yang tampil kurang meyakinkan dari tujuh karakter yang tampil di sepanjang film. Devin Kelley dan Olivia Dudley juga berhasil tampil dengan baik. Berhasil memancarkan kecantikan nya di sepanjang film. Karakter nya sebenarnya mampu aja tampil dengan lovely. Namun, dengan melihat kebodohan demi kebodohan nya jadi menjijikan. Dan Bradley Parker membiarkan karakter-karakter bodoh itu hidup selamanya di film ini. Kalo penonton boleh nge-vote, mungkin karakter Michael dan Paul sudah dimatiin sejak menit-menit awal.

Overall, Chernobyl Diaries sebagai horror low-budget tidak seburuk yang saya kira sebelumnya. Walupun gagal tampil semenarik dan semenyenangkan dari seharusnya. Premis nya sudah menarik, namun pada akhirnya Chernobyl Diaries hadir sama seperti film horror lainya. Dan Bradley Parker tidak pernah berusaha untuk menakut-nakuti penontonya dengan sosok mutants yang menyeramkan. Tidak pernah memperlihatkan sosok asli dari bagaimana mutants tersebut. Kita betul-betul dapat melihat sosok nya hanya di ending-nya itupun tidak begitu jelas. Sayang, Chernobyl Diaries kurang berhasil menakut-nakuti penontonya walaupun atmosfir di film ini sudah lumayan mengerikan. Jadi, Chernobyl Diaries sepertinya sah-sah saja dikatakan sebagai horror yang layak tonton. Tidak buruk. Namun masih belum dapat memuaskan sebagian besar penontonya. Sepertinya nama Oren peli juga tidak mampu membantu Chernobyl Diaries untuk tampil semenakutkan Paranormal Activity. Chernobyl Diaries masih sajian yang menghibur.

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s