Review: Django Uchained (2012)

Quentin Tarantino, terkenal dengan Inglourious Basterds-nya yang cemerlang tersebut. Serta Kill Bill. Kita semua tahu sutradara bernama Quentin Tarantino selalu hadir dengan ide yang gila namun sekaligus menyegarkan. Dengan ide yang lagi-lagi menyegarkan, hadir sebuah film ‘Django Unchained’ yang sempat dinominasikan di Oscar sebagai film terbaik. Sudah tidak usah disangkal lagi bagaimana film ‘Django Unchained’ akan seperti. Yang jelas, sebuah film berdurasi 155 menit yang tersusun begitu rapi oleh Quentin Tarantino. Dengan segala pernak pernik jadulnya, humor segar nya dan darah-darah yang berceceran dimana-mana membuat ‘Django Unchained’ begitu menghibur. 

‘Django Unchained’ mengisahkan tentang seorang budak Django (Jamie Foxx) yang diselamatkan oleh seorang bounty hunter, King Schultz (Christoph waltz) yang tentunya menyelamatkan Django ada maunya. King Schultz meminta bantuan Django untuk membunuh tiga bersaudara yang menjadi target King Schultz. Berhasil membunuh tiga bersaudara tersebut. Kini, giliran Django yang meminta bantuan King Schultz. Django menginginkan istrinya kembali, Broomhilda (Kerry Washington) yang sekarang berada bersama Calvin Candie (Leonardo DiCaprio).  King Schultz dan Django yang sekarang menjadi begitu dekat mencoba merebut istrinya kembali, hal tersebut membuat Calvin Candie begitu kesal. Rencana yang awalnya berjalan dengan lancar dan berakhir dengan berantakan.

Mungkin banyak orang menilai dan memberikan ‘Django Unchained’ dengan nilai yang sempurna atau mungkin hampir sempurna. Namun, tidak bagi saya. Saya yang awalnya juga ogah-ogahan menyaksikan ‘Django Unchained’ sudah untung sekali masih menikmati ‘Django Unchained’ secara keseluruhan. Dengan durasi yang hampir mencapai 2 jam 30 menit membuat ‘Django Unchained’ terasa begitu lama dan serasa dipanjang-panjangkan. Bahkan, sebenarnya ‘Django Unchained’ mampu diselesaikan hanya dalam waktu yang benar-benar singkat. Bahkan bisa saja tidak mencapai 2 jam lamanya. Serasa dipanjang-panjangkan di paruh pertamanya, banyak sekali adegan-adegan yang memang sengaja dibuat untuk menambah durasi atau apalah itu.

‘Django Unchained’ memiliki kelemahan lain, yaitu dari pemainya Jamie Foxx. Saya tidak merasa Jamie Foxx bermain sepenuhnya dengan baik di film ini. Malah saya jauh lebih menyukai Chrisoph Waltz dan Leonardo DiCaprio. Jamie Foxx seperti sudah ditutupi oleh akting cemerlang dari Christoph Waltz. Walaupun itu, aktingnya tidaklah buruk. Kurang menonjol. Christoph Waltz mampu membuat saya tertawa dan terhibur dengan lelucon-leluconya. Begitu pula dengan Leonardo DiCaprio dengan kata-katanya yang cerdas dan lucu pula. Leonardo DiCaprio juga sedikit tertutupi oleh Christoph Waltz. Untung masalah akting, ‘Django Unchained’ sepertinya tidak menemukan masalah besar. Hanya saja, akting sang pemeran utama kurang terasa dibandingkan akting pemeran-pemeran pembantunya yang jempolan.

Tingkat kesadisan ‘Django Unchained’ sudah tidak usah ditanyakan lagi. ‘Django Unchained’ memiliki adegan-adegan yang sadis dan terasa nyeri. Melihat dan menunjukkan betapa kejamnya dulu, tepatnya beberapa tahun sebelum Civil War. Sadis dan mengerikan, itulah ‘Django Unchained’ yang sudah memperkenalkan dirinya dari awal. Dari awal memang kita sudah disuguhkan oleh adegan-adegan mengerikan. Tidak hanya mengerikan, untungnya ‘Django Unchained’ juga tampil dengan lelucon yang sangat lucu. Menurut saya, setiap lelucon bekerja dengan sungguh baik. Mungkin Quentin Tarantino sengaja memberikan lelucon yang bertebaran dari awal hingga akhir agar penonton tak sepenuhnya merasa kebosanan dengan film yang berdurasi lama ini.

Hal lain yang saya sukai dari ‘Django Unchained’ adalah kejadulanya. Dari awal, kita sudah diperlihatkan dan diperkenalkan oleh aktor-aktor nya lewat tulisan merah membara seperti api yang saya tidak tahu mengapa sungguh enak dilihat. Dan lewat lagu-lagunya yang jujur sangat asyik. Kemudian, walaupun tidak begitu penting membahas hal ini. Saya sangat menyukai slow-motion di adegan-adeganya. Membuat saya merinding. Dan mampu berkata ‘keren’. Saya juga tidak akan pernah melupakan tema yang terdapat juga di dalam film ini, yaitu rasisme. Dimana di dalam film banyak sekali membahas ‘si kulit hitam’, ‘si kulit putih’, saya sangat menyukai bagaimana hal tersebut begitu kuat dan begitu saya nikmati. 

Secara keseluruhan, ‘Django Unchained’ adalah sebuah film action-western yang sangat menghibur. Lewat humor nya yang sangat ngena dan mudah dimengerti. Dan tentu yang paling kuat di sepanjang film. Kemudian, Christoph Waltz dan Leonardo DiCaprio yang bermain dengan sangat baik juga. Tidak akan melupakan Kerry Washington yang juga sangat layak mendapatkan pujian dan sanjungan lebih. Kemudian, lagu-lagu di sepanjang film yang sangat pas tentunya menemani setiap adegan di dalam film. Sayangnya, saya tetap merasa bahwa ‘Django Unchained’ harusnya lebih dipersingkat lagi dalam durasinya sehingga membuat ‘Django Unchained’ jauh lebih mudah untuk dinikmati. Dengan naskah yang begitu kuat dan sinematografi yang indah. Saya untungnya masih menyukai ‘Django Unchained’ secara keseluruhan. Dengan darah-darah dan adegan yang mendebarkan tentunya, semuanya dikemas dengan sangat tepat.  Ide yang baru dari Quentin Tarantino yang juga sempat numpang lewat di tengah film membuat ‘Django Unchained’ sangat menyegarkan. Setidaknya selama 155 menit saya tidak terbuang sia-sia karena telah menyaksikan sebuah film yang cerdas dan menghibur!

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s