Review: Fright Night (2011)

Remake lagi..Remake lagi..Sudah berapa kali remake yang gagal. Me-Remake sebuah karya adalah hal yang cukup sulit karena penonton tepatnya sudah memiliki ekspektasi yang tinggi akan film yang diremake ini. Remake yang paling saya ingat hingga sekarang adalah Friday The 13th, Disturbia, The Eye, Clash Of The Titans, The Crazies ah, banyak sekali remake hingga sekarang. Dan hanya beberapa dari remake tersebut yang tampil dengan memukau. Sisanya? Diletakkan di tempat sampah. Seperti halnya dengan Disturbia, yang tidak menghilangkan sama sekali efek tradisional nya dan membawanya kembali ke versi remake nya, ‘Fright Night’ melakukan hal yang sama. Yang membuat ‘Fright Night’ menjadi film yang sangat menyenangkan untuk disaksikan dan sebuah hiburan yang tepat bagi pecinta horor. 

‘Fright Night’ mengisahkan tentang Charlie (Anton Yelchin) yang sekarang sudah populer di sekolahnya, berpacaran dengan gadis yang paling terkenal di sekolah Amy (Imogen Poots) dan berteman dengan teman-teman yang populer pula, salah satunya Mark (Dave Franco). Berteman dan berkencan dengan teman-teman hingga pacar populer dan membuat dirinya sendiri populer membuat Charlie melupakan teman lamanya Ed (Christopher Mintz-Plasse). Ed dikenal sebagai anak yang aneh. Semenjak sahabatnya yang lain menghilang, Ed mengajak Charlie untuk mencari tahu, Charlie awalnya tidak percaya karena Ed mengatakan bahwa ada mahkluk bernama vampir yang tinggal disebelah rumahnya. 

Keesokan harinya, Ed menghilang dan Charlie berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semakin ia mencari tahu mengenai vampir yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya Jerry (Collin Farell), semakin ia terjerumus kedalam perangkap Jerry. Semakin ia mencari tahu, ia dengan tidak sadar mengorbankan dan menaruh pacarnya serta ibunya Jane (Toni Collette) kedalam bahaya. Charlie menjadi seorang nomor satu yang dicari-cari dan diincar oleh Jerry. Charlie baru tersadar bahwa seharusnya ia tidak ikut campur dalam masalah yang melibatkan Jerry. 

Well…. ‘Fright Night’ memang tidak begitu serius. Memang film ini tidak dibuat dengan 
begitu serius. ‘Fright Night’ mengajak penonton untuk bersenang-senang lewat teror vampir nya yang menegangkan. Maka itu, ‘Fright Night’ adalah tontonan yang ringan. Dan ‘Fright Night’ pun terkadang tidak masuk akal di beberapa adegan, mungkin hal tersebut yang sedikit menganggu bagi saya. Hal yang menganggu lainya adalah plot hole nya yang lumayan banyak. Namun, saya tidak begitu mempermasalahkan karena ‘Fright Night’ memang dibuat untuk bersenang-senang. Sebagai sebuah film horor yang membawa nama vampir, ‘Fright Night’ jelas sangat diatas rata-rata film horor vampir lainya.

Hal yang paling saya kagumi adalah bagaimana ‘Fright Night’ masih bisa menyelipkan horor-horor oldschool nya di beberapa bagian. ‘Fright Night’ tidak sepenuhnya modern. Hal ini lah yang paling saya sukai dari ‘Fright Night’. Walaupun ‘Fright Night’ tidak begitu menyeramkan bagi saya. Namun, saya cukup terkaget-kaget dibuatnya lewat adegan-adegan mengejutkanya yang selalu berhasil membuat saya terkejut. Menegangkan. ‘Fright Night’ menang dalam hal tersebut, ‘Fright Night’ mampu tampil menegangkan sejak awal hingga akhir. Mungkin hal ini juga saya harus acungi jempol. ‘Fright Night’ adalah horor ringan yang cerdas. 

Dari jajaran pemainya, semuanya sangat saya sukai. Anton Yelchin sebagai Charlie mampu bermain dengan cukup baik. Imogen Poots juga mampu bermain dengan sangat baik pula. Dengan wajahnya yang cantik, Imogen Poots mampu meningkatkan mood saya untuk menyaksikan film ini. David Tennant yang disini dikhususkan dan dibuat untuk lucu-lucuan. Hampir semua lelucon-lelucon yang menurut saya lucu keluar dari mulut Peter Vincent atau bahkan dari tingkah lakunya bodor nya sepanjang film. Christopher Mintz-Plasse pun juga cukup meningkatkan kelucuan film ini. Jadi, semua jajaran pemain bermain dengan sangat baik. Mereka mendapatkan sebuah porsi yang pas, membuat mereka mampu bersinar lewat akting cemerlang mereka masing-masing.

Fright Night’ pada akhirnya berakhir sebagai salah satu remake yang paling memuaskan yang pernah saya saksikan. Dengan komedi nya yang sangat pas, ‘Fright Night’ menjelma menjadi sebuah horor/komedi yang begitu menyasyikan dan tontonan yang sangat pas untuk disaksikan oleh teman-teman karena filmnya yang benar-benar ringan, namun masih sangat bisa dinikmati. ‘Fright Night’ bagaikan sebuah film mengenai vampir yang sengaja dibuat oleh Craig Gillespie untuk remaja, maka itu hasilnya sangat sesuai dan sangat menyenangkan untuk disaksikan. Tidak lepas dari kekurangan, ‘Fright Night’ tetaplah sebuah film horor yang sangat jauh dari kesan buruk, sebuah tontonan yang menghibur dan cukup mengerikan. Menegangkan, ‘Fright Night’ mungkin salah satu film horor/komedi terfavorit saya hingga sekarang. 

 Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s