Review: Fun Size (2012)

‘Fun Size’ adalah sebuah film teen comedy yang tema nya sudah sering sekali diangkat ke dalam sebuah film. ‘Fun Size’ adalah sebuah teen comedy yang sangat ringan, sederhana dan kurang spesial namun dibalik hal-hal tersebut. Film ini mengajarkan kita untuk menunjukkan sikap toleransi dan bagaimanana harus move on dari kisah-kisah masa lalu dan juga sekaligus mengajarkan kita untuk bertanggung jawab. Sayangnya, tidak didorong oleh eksekusi yang matang membuat ‘Fun Size’ menjadi sekedar film yang hanya dibuat untuk pecinta Victoria Justice atau serial nya ‘Victorious’ dan terlalu sulit untuk dinikmati orang-orang yang tidak menyukai film sejenis. Dan pada akhirnya, ‘Fun Size’ tidak seindah dan se-keren poster filmnya.  

‘Fun Size’ dibuka dengan kisah Wren DeSantis (Victoria Justice) dan sahabatnya April (Jane Levy) yang ingin sekali menghadiri sebuah pesta Halloween yang diadakan oleh seorang pria yang paling diidam-idamkan seluruh wanita di mana ia bersekolah, Sudah berniat menghadiri ke pesta tersebut, sudah berdandan layaknya Dorothy seperti di film Oz, Ibunya malah menyuruhnya menjaga adiknya Albert ( karena ibunya juga harus menghadiri suatu pesta. Tetap tidak mau ketinggalan pesta tersebut, ia memutuskan untuk mengajak adiknya pergi ke pesta tersebut bersamanya dan sahabatnya. Ia pun bertemu dengan Roosevelt (Thomas Mann) serta Peng (Osric Chau) yang siap membantu Wren mencari adiknya sebelum ibunya pulanf dari pesta yang dihadirinya tersebut. Sebuah malam yang tidak menyenangkan bagi Wren ketika ia harus berjuang sebisa mungkin untuk mencari adiknya dalam keadaan utuh.

‘Fun Size’ awalnya berjalan dengan begitu lambat dan membosankan. Dan cenderung bodoh. Dari awal memang sudah gagal tampil dalam sisi komedinya. Dan adegan seorang anak kecil buang air besar adalah adegan ter-basi yang pernah ada di sebuah film. Dan ‘Fun Size’ tetap menghadirkan adegan-adegan semacam itu. Predictable, unfunny and a hot mess. ‘Fun Size’ untungnya tidak tampil sepenuhnya buruk. ‘Fun Size’ untungnya berhasil tampil dengan cukup menyentuh di akhir film. Sebuah koneksi kepada penonton yang begitu terasa dari adegan yang sangat menyentuh hati. Well, bagi saya. Dan lewat ending yang cukup menghibur itu pula. Hal lainya adalah ‘Fun Size’ yang dikategorikan kedalam teen comedy memang di beberapa momen tampil terlalu dewasa, sedikit mengingatkan saya kepada ‘I Love You Beth Cooper’.

Kelemahan ‘Fun Size’ mungkin sudah beribu-ribu kalinya tema dan jalan penceritaan seperti ini diangkat ke sebuah film. Membuat ‘Fun Size’ menjadi kurang istimewa untuk dipandang mata, sebagai sebuah sajian yang diharapkan akan berhasil memberikan sebuah momen-momen kocak yang mampu mengundang tawa, ‘Fun Size’ sepertinya telah gagal tampil dengan harapan-harapan bahwa film ini adalah film yang lucu dan mengundang tawa. Selain gagal tampil lucu, ‘Fun Size’ juga terlihat terlalu memaksakan akan adanya momen-momen tersebut. Seperti jatuhnya semacam patung ayam yang menimpa mobil yang dikendarai mereka, mungkin Josh Schwartz menyangka bahwa ini lucu padahal sama sekali tidak. Ya, bisa dibilang komedi nya basi. 

Para pemain sebenarnya mampu bermain dengan cukup baik. Setidaknya dalam takaran yang pas. Victoria Justice, dengan paras nya yang sangat cantik jelita mampu tampil konsisten sebagai Wren yang apa adanya. Walaupun terkadang cenderung datar di beberapa adegan dan emosi nya terkadang kurang pas, namun selebihnya ia malah tampil yang terbaik diantara pemain lainya. Thomas Mann, Jane Levy dan Osric Chau sebagai teman-teman Wren disini juga telah berakting dengan cukup baik. Tidak ada akting yang menonjol, namun setidaknya dalam film yang sudah mendekati buruk atau sudah hampir hancur ini dibantu oleh para pemain yang bermain dengan aman sentosa.

Secara keseluruhan, bukan sebuah sajian yang benar-benar buruk. Sedikit membingung-kan dimana ‘Fun Size’ cenderung tidak memakai logika di beberapa adegan di dalam filmnya. Seperti, mengapa Wren tetap mau diajak kemana-mana bersama April ketika ia tahu bahwa adiknya sedang hilang dan ia harus mencari? Hal-hal seperti itulah yang terlihat seperti ‘Fun Size’ membodohi penontonya. Penonton yang untungnya lebih pintar pasti terganggu dengan kebodohan semacam ini yang hadir di sepanjang film. Gagal tampil lucu, ‘Fun Size’ juga gagal tampil se-konyol yang saya kira sebelumnya. ‘Fun Size’ lebih pantas dihadirkan di Nickelodeon saja dibandingkan dirilis di layar lebarnya. Karena, ‘Fun Size’ memang benar-benar tidak spesial dan terlalu biasa dan ringan pula sebagai sebuah film layar lebar. Terlalu bermain aman dalam menyajikan sebuah teen comedy yang berharap mampu tampil lucu. Tidak sepenuhnya buruk, namun bukanlah sebuah film yang akan saya saksikan berulang kali. 

 Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s