Review: KM97 (2013)

Jika mengingat nama Jose Poernomo, pasti yang terlintas di dalam pikiran anda adalah nama-nama film berikut: Jelangkung, Angkerbatu, Rumah Kentang yang baru dirilis tahun lalu atau bahkan Pulau Hantu.. Film terakhirnya, Rumah Kentang dianggap sebagai horor ‘benar’ semenjak ia menggarap Pulau Hantu yang hanya mengandalkan tubuh dan bikini pemain wanitanya. Ternyata, Rumah Kentang tidak berjalan demikian. Walaupun memang diyakini berbeda dibandingkan horor esek-esek Indonesia, Rumah Kentang masih memiliki banyak kekurangan. Rumah Kentang bisa dibilang horor yang ‘benar’ hanya karena tidak menampilkan keseksian-keseksian tubuh wanitanya. Tapi, apakah Rumah Kentang berhasil memberikan sebuah sajian horor berkualitas Indonesia seperti dahulu? Belum. 

KM97 sangat mirip sekali seperti Rumah Kentang, Jose Poernomo memang berniat untuk membuat film horor yang beneran horor. Bahkan, nuansa horor dalam film ini jauh lebih terasa dibandingkan nuansa yang dimiliki Rumah Kentang yang saya anggap sebagai horor ‘mati’. Walaupun begitu, masih saja kita belum mendapatkan sebuah horor yang benar-benar horor. ‘KM 97’ bahkan terlihat lebih bodoh dibandingkan Rumah Kentang. Dan sampai sekarang saya masih belum bisa memilih mana yang lebih baik, Rumah Kentang atau KM97. Semoga saja Jose Poernomo kembali ke jalan yang benar di film-film berikutnya..

KM97 mengisahkan tentang sepasang suami istri, Anton (Restu Sinaga) dan Lydia (Feby Febiola) serta anaknya Bintang (Zidane) yang baru datang dari Italia untuk mengunjungi ayahnya di Bandung karena ibu Anton yang telah meninggal dunia. Dari Jakarta, pastinya mereka melewati Tol Cipularang dan tentunya KM97 yang banyak sekali diperbincangkan orang-orang. Di KM97 tersebut, mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berhenti dan Anton terpaksa harus mengecek apa yang terjadi. Semenjak kejadian tersebut, banyak sekali hal aneh yang terjadi bukan hanya kepada Bintang yang berubah juga sosok-sosok gaib yang menghantui Lydia dan seluruh orang di rumah sang Ayah yang ingin menyampaikan sesuatu.

KM97 memang lebih terasa horornya. Beberapa kali mampu menghadirkan sebuah momen-momen yang betulan mengerikan. Namun, seringkali tata musik nya yang begitu menganggu sendiri menghancurkan momen-momen yang mampu menjadi momen yang menyeramkan namun jadi biasa saja akibat tata musik yang terlalu dilebih-lebihkan atau di dramatisir. Lagu-lagu jawa berhasil membuat bulu kuduk berdiri. Kalau untuk horornya, kita semua akan mendapatkan apa yang tidak kita dapatkan dalam Rumah Kentang. Jika dalam Rumah Kentang sang hantu sendiri malu-malu untuk keluar, dalam KM97 ini, sosok gaib lebih frontal jadi lebih terasa horornya.

Masalah akting para pemain, semuanya pas-pasan. Bintang, yang saya ekspektasikan akan bermain luar biasa disini malah sangat datar. Walaupun tidak buruk pula. Feby Febiola walaupun disini berhasil tampil seksi seperti Shandy Aulia dalam Rumah Kentang. Namun, untuk akting ia sama sekali belum menampilkan penampilan terbaiknya di sini. Restu Sinaga, sama sekali tidak menonjol dibandingkan pemain-pemain lainya. Dan August Melasz yang menjanjikan namun hasilnya aktingnya malah cenderung berlebihan. Sisanya, memang tidak ada akting mencolok seperti yang saya katakan.

Tata sinematografi nya mampu menunjukkan bahwa KM97 memiliki kelebihan dalam hal tersebut. Dan mungkin hanya itu yang benar-benar mencolok. Jalan cerita KM97 yang tidak berhasil menciptakan hal yang baru membuat KM97 menjadi tidak begitu istimewa di mata saya. Seperti sama saja dengan Rumah Kentang namun dengan lokasi yang berbeda. Hal yang menganggu buat saya dalam film ini selain musik nya yang menganggu adalah endign film nya yang whatsoever. Selama 80 menit film kita menunggu ending dari film ini dan akhirnya seperti pointless.

Yah, beginilah horor kita yang sepertinya tidak akan pernah kembali seperti horor-horor yang dulu. Jangan berharap apa yang kita dapatkan dalam film Jelangkung, Angkerbatu yang menurut saya sangat cemerlang. Keramat, Kuntilanak atau bahkan Pocong 2 akan kembali kita dapatkan sekarang-sekarang ini. Mungkin memang horor Indonesia sudah mati? KM97 sama sekali tidak mendekati horor-horor diatas, dengan naskah yang tidak istimewa, akting nya yang sedikit mengecewakan dan ending nya yang sangat menjijikan, KM97 hanyalah film dari Jose Poernomo yang setingkat lebih baik dibandingkan Pulau Hantu nya itu. Dan setara dengan Rumah Kentang, namun masih dibawah horor-horor diatas. Tidak bisa dibilang menyeramkan, namun saya appreciate bahwa ini adalah pure horor movie.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s