Review: MAMA (2013)

“Mama” adalah sebuah film horror yang secara keseluruhan telah tampil menghibur. Awalnya sih sempat bingung untuk menyebutkan apa sebenarnya kekurangan “Mama” sebagai horor pembuka di 2013 ini. Lemahnya dan kurangnya horor-horor yang betul-betul menyeramkan di tahun lalu, membuat para pecinta horor berekspektasi tinggi-tinggi akan “Mama”. Well, beberapa orang mungkin akan kecewa dengan hasil “Mama” yang masih belum sempurna ini. Sebagai tontonan horor, sama sekali tidak ada salahnya jika mengatakan bahwa “Mama” adalah sebuah horor pembuka tahun 2013 yang cukup memuaskan dan menghibur.  

“Mama” mengisahkan tentang pasca kecelakaan yang menimpa Victoria (Megan Charpentier) dan adiknya Lily (Isabelle Nelisse) yang kemudian dibawa oleh ayahnya kesebuah pondok tua ditengah Hutan. Niat ayahnya yang ingin membunuh Victoria gagal akibat bantuan dari seorang mahkluk yang tak dikenal dan tak diketahui wujudnya. Lucas (Nikolaj Coster-Waldau) yakin bahwa Victoria serta Lily masih hidup. Akhirnya, mereka pun ditemukan di tengah hutan dengan perubahan tingkah laku. Mereka berubah menjadi dua anak kecil yang brutal dan liar, tidak seperti anak-anak kecil pada umumnya.

Lucas berniat untuk mengurus Victoria dan Lily. Walaupun sempat susah untuk mengurus Victoria dan Lily, Lucas mendapat bantuan dari kekasihnya Annabel (Jessica Chastain) yang awalnya juga kewalahan mengurus Victoria dan Lily. Victoria dan Lily sejak awal memang bertingkah aneh, mereka sering menyebut nama ‘Mama’. Dan semenjak Victoria serta Lily pindah kerumah Annabel dan Lucas, kejadian-kejadian aneh mulai dialami oleh kedua pasangan yang awalnya tentram-tentram saja. Sudah merawat Victoria dan Lily membuat seseorang marah dan berniat untuk mengambil kembali Victoria dan Lily ketanganya. Namun, tak semudah itu. Annabel dan Lucas yang sudah sayang kepada Victoria dan Lily tidak akan semudah itu memberikan Victoria dan Lily ketangan mahkluk tersebut. 

Kelemahan terbesar “Mama” adalah pastinya lewat ending nya.  Saya sangat yakin sebagian besar penonton sangat kecewa dengan ending nya yang sangat membingungkan dan aneh.  Ya, saya hanya memasang muka datar setelah keluar dari bioskop karena ending nya yang sangat mengecewakan tersebut. Kekurangan lain tampak dari “Mama” yang terlalu terlihat terpaksa dipanjang-panjangkan serta sang ‘Mama’ yang terlalu sering diperlihatkan sehingga tidak begitu spesial lagi ketika muncul di paruh keduanya. Paruh keduanya memang lebih menyenangkan, namun paruh pertamanya jauh lebih mengerikan. Terlepas dari kekurangan-kekurangan diatas, “Mama” masih sebuah horor yang menghibur dan menyenangkan.

Kelebihan “Mama” yang paling menonjol adalah dari para jajaran pemainya seperti Megan Charpentier dan Isabelle Nelisse yang bermain dengan sangat cemerlang. Apalagi ketika mereka pertama ditemukan di pondok tua tersebut. Mereka sangat mampu bermain dengan begitu natural. Jessica Chastain bermain dengan cukup baik walaupun saya melihat bahwa Jessica Chastain kurang bersinar di sepanjang film. Tampil berbeda dengan yang biasanya ia tampil. Jajaran pemain tampil dengan baik, semuanya mampu menghidupkan karakter mereka masing-masing. Apalagi ketika Victoria dan Lily masih kecil, mereka sungguh menggemaskan.

Apakah “Mama” sebuah horor yang cukup menyeramkan? Jawabanya bisa jadi bisa tidak. Tergantung penontonya masing-masing. “Mama” dibalut bagaikan kisah dongeng yang tentunya belum sempurna. Dongeng yang disampaikan dengan baik oleh Andries Muschietti walaupun seharusnya mampu tampil lebih menyeramkan dari ini. Mengejutkan, mengagetkan dan masih mampu membuat penontonya geregetan. Beberapa momen terkadang juga terlalu basi dan terlalu banyak ditemukan di film-film horor lainya. “Mama” masih tampil mengerikan bagi saya di suatu adegan yang belum pernah saya temukan di film-film lain sebelumnya. 

Overall, “Mama” adalah sebuah horor yang menyenangkan. Mampu tampil mengerikan di saat-saat ‘Mama’ muncul. Bagi orang yang telah menyaksikan horor sejenis mungkin tidak begitu terkejut dengan hasil dari Andries Muschietti. Malah justru bisa jadi kecewa dengan hasilnya. “Mama” memang tidak semenyeramkan yang saya kira sebelumnya. Tetapi, dalam menyampaikan bagian drama nya, “Mama” menang. “Mama” sungguh mampu menciptakan sebuah momen-momen mengharukan akan kasih saya seorang Ibu. Cukup mampu menyentuh penontonya apalagi yang sering berbuat tidak sopan kepada sang Ibu mungkin akan berbalik dan lebih menyayangi Ibunya. Begitu pula pesan kuat yang disampaikan oleh “Mama”. “Mama” jelas adalah sebuah film yang cukup mengerikan di sebagian adegan. Namun, tampil lebih menyentuh dibandingkan menyeramkan seperti yang seharusnya terjadi. 

 Image

 

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s