Review: Mean Girls (2004)

Kenapa saya baru menonton Mean Girls? Saya padahal sudah punya dvd nya namun saya tidak sempat menontonya betul-betul. Mean Girls, kisahnya telah diangkat beribu-ribu kali kedalam sebuah film. Mean Girls bisa jadi sebuah pembuka bagi film-film sejenis kemudian ditiru oleh film-film sekarang ini. Suprisingly, Mean Girls hadir dengan jalan penceritaan yang menarik. Saya cukup menikmati, ya walaupun memang masih belum sempurna. Untuk sebuah Drama/Comedy semacam ini, Mean Girls cukup tampil sebagai film yang menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan. Dimana zaman sekarang sulit untuk mendapatkan tontonan semengasyikan ini. 

Mean Girls mengisahkan tentang Cady (Lindsay Lohan) yang baru saja pindah dari Afrika, Cady belum pernah mersakan bersekolah dengan teman-teman lainya karena ia melakukan homeschooling. Jadi, agak canggung untuk melanjutkan high school nya di sekolah biasa. Ia bertemu dengan Janis (Lizzy Caplan) dan Damian (Daniel Franzese) yang menjadi teman akrab. Namun, hari pertama dan seterusnya tidak berjalan begitu baik sampai ia bertemu dengan tiga wanita terlicik di sekolah tersebut, yaitu Regina (Rachel McAdams), Gretchen (Lacey Chabert) dan Karen Smith (Amanda Seyfried). Walaupun Janis dan Damian melarang Cady untuk berteman dengan mereka, Cady tetap berteman dengan mereka.

Berteman dengan mereka perlahan-lahan Cady berubah menjadi seorang “plastik” ya, mereka menyebut ketiga wanita tersebut dengan sebutan “plastik”. Cady yang menyukai pria bernama Aaron (Jonathan Bennett) memberitahu ketiga tersebut. Bukanya membantu, Regina malah memanas-manasi Cady. Cady, Janis dan Damian pun berniat untuk membalas dendam kepada Regina. Membalas dendam membuat Cady berubah menjadi seorang wanita jahat seperti mereka. Cady tidak sadar bahwa Cady telah berbuat kesalahan yang seharusnya ia tidak lakukan. Cady tidak sadar bahwa ia telah mengecewakan banyak orang.

Mean Girls mempunyai kelebihan dari cerita nya yang walaupun sudah diangkat berulang kali tetap menyegarkan dan mudah untuk dinikmati juga menghibur. Kekuranganya mungkin terletak pada ending, sebenarnya bukanlah kekurangan yang berarti, namun jika kekurangan tersebut tidak ada pasti Mean Girls akan menjadi sebuah drama komedi yang sempurna. Endingnya terlihat terlalu dipaksakan untuk happy-ending. Dan 10 menit sebelum ending terlihat konyol dan aneh. Siapa yang mau melakukan hal tersebut? Selain dialog-dialog lucu dan adegan-adegan yang mampu mengundang tawa, Mean Girls juga hadir dengan adegan-adegan setiap saat yang sangat bisa anda temukan di kehidupan nyata. Jadi, setiap adegan dikemas oleh Mark Waters dengan begitu ngena kepada penonton nya. Dan tiba saatnya serius, Mark Waters membuang jauh-jauh komedi-komedi dan mulai serius. Mean Girls begitu mudah untuk dinikmati, bukan hanya kaum hawa, semua dapat menikmati film ini secara keseluruhan.

Karakter di film Mean Girls tidak perlu berusaha untuk disukai penontonya karena mereka memang sudah disukai sejak menit pertama. Terutama Lindsay Lohan, sebagai gadis yang lugu lalu kemudian menjadi seorang perempuan yang sangat jahat dan licik. Kemudian, Rachel McAdams yang memang seorang gadis yang terjahat dari pada gadis-gadis jahat. Kemudian, Lacey Chabert yang licik dan tidak bisa menyimpan rahasia. Kemudian, Amanda Seyfried yang sangat bodoh dan jahat. Jadi, mereka semua mempunyai sifat-sifat yang begitu ditonjolkan sehingga kita bisa mengingat setiap karakter yang ada di dalam film ini. Masalah akting, tak usah dipertanyakan lagi. Lindsay Lohan, Rachel McAdams, Lacey Chabert dan Amanda Seyfried bermain dengan sangat total. Mereka mampu menghidupkan karakter mereka masing-masing. Tina Fey, sebagai guru mampu bermain dengan takaran yang pas walaupun sediki tertutupi oleh keempat karakter utama yang telah saya sebutkan tadi. Pemeran pendukung juga memberikan akting yang cemerlang.

Overall, Mean Girls berakhir sebagai sebuah film comedy yang hampir mendekati sempurna. Lewat karakter-karakter yang sangat mudah untuk disukai. Dan lewat jalan penceritaan yang menyegarkan. Konflik yang hadir di sepanjang film juga tidak basi dan masih bisa untuk diikuti. Beberapa momen mampu menyentuh hati, dan film ini begitu relate dengan penonton-penonton yang pastinya juga pernah merasakan apa yang karakter-karakter di dalam film rasakan. Menyegarkan dan tidak pernah terasa jenuh untuk diikuti. Memang benar jika mengatakan bahwa Mean Girls adalah salah satu film drama/komedi terbaik. Karena, anda harus betul-betul menyaksikan apa yang dihadirkan oleh Mark Waters. Walaupun Sedikit mudah ditebak di beberapa bagian. Sebuah film drama/komedi yang sangat jauh dari kata mengecewakan. Lucu, menyegarkan dan menghibur! Bravo!  And Amanda Seyfried, you’re so hot!

Image

Advertisements

One thought on “Review: Mean Girls (2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s