Review: Safe Haven (2013)

Nama Nicholas Sparks itu terkenal dengan novel-novel nya yang mengisahkan tentang cinta. Adaptasi nya terkadang kurang semenarik novel nya. Tidak menonton seluruh adaptasi dari novel karya Nicholas Sparks ini, namun saya menonton beberapa dari kumpulan adaptasi tersebut. Saya paling terkesan dengan Dear John (2011) . Simple, tapi sangat mengena di hati. Hampir seluruh adegan berhasil membuat saya berkaca-kaca. Akting Amanda Seyfried dan Channing Tatum yang cukup membantu. Kemudian, The Last Song (2011) yang menurut saya adalah hampir murni sebuah kegagalan. Kemudian, berturut-turut The Lucky One (2012) yang menurut saya hampir sama dengan karya-karyanya sebelumnya. Dan yang terakhir Safe Haven. 4/8. Sudah setengahnya. Karya-karya adaptasi novel Nicholas Sparks memang hampir semua sama. Namun, saya menemukan se-titik hal yang berbeda dari Safe Haven.

Safe Haven mengisahkan tentang Erin/Katie (Julianne Hough) yang melarikan diri dari kejaran polisi. Diperlihatkan tangan Katie berlumuran darah. Erin/Katie menempuh perjalanan yang cukup jauh sampai ia berhenti di sebuah kota kecil bernama Southport. Simple, Katie bertemu dengan Alex (Josh Duhamel) yang telah kehilangan Isterinya akibat penyakit kanker yang dideritanya. Katie memutuskan untuk tinggal di Southport. Semakin lama ia tinggal di Southport, semakin dekat pula ia dengan Alex. Tak hanya Alex, begitu pula dengan anaknya. Katie juga bertemu dengan teman barunya, Jo (Colbie Smulders). Katie menikmati hari demi hari di Southport hingga ia lupa bahwa ia sedang diincar oleh seorang polisi bernama Kevin (David Lyons).

Safe Haven masih sama seperti film-film Nicholas Sparks lainnya. Nothing’s special. Hingga sampai pada suatu hal yang membuat Safe Haven sedikit berbeda dengan film lainya. Namun, saya tidak akan melupakan Dear John sebagai film adaptasi novel karya Nicholas Sparks terbaik menurut saya. Safe Haven memiliki durasi yang jauh lebih lama dibandingkan dengan film-film lainnya. Hal tersebut membuat saya cukup bingung karena apa yang akan diberikan oleh Lasse Hallstrom selama kurang lebih 115 menit tersebut. Klise, itu pasti sudah bisa kita temukan di film ini. Saya juga sudah menduganya sebelum menyaksikanya. Dengan nilai-nilai review yang cukup rendah, apalagi di Rotten Tomatoes membuat ekspektasi saya setidaknya menurun. Mungkin hal tersebut yang membuat saya sedikit lebih menerima Safe Haven dibandingkan orang-orang lain yang seperti sudah muak dengan film-film klise semacam ini.

Hal yang cukup membingungkan lainya adalah tidak adanya sweet moments di sepanjang film. Adegan-adegan romantis yang sangat minim mungkin buat sebagian orang akan sangat menyesalinya. Sebab film-film yang diangkat dari novel Karya Nicholas Sparks terkenal dengan adegan-adegan romantisnya. Kali ini sangat sulit untuk menemukan adegan semacam itu di durasi yang cukup lama. Hm. Menggabungkan drama dengan crime-thriller cukup berjalan dengan baik di film ini. Ada hal baru lainya dalam Safe Haven. Crime-thriller nya tidak mendominasi untungnya, dan saya cukup menyukai bagaimana ia menyelipkan adegan-adegan tersebut kedalam adegan drama yang cukup membosankan.

Safe Haven berjalan lama, untung ada Julianne Hough yang membuat saya marah sekali kepada Ryan Seacrest untung memutuskan hubungan mereka. Seharusnya ia beruntung mempunyai wanita secantik Julianne Hough. Tidak mengatakan bahwa Julianne Hough tidak bisa berakting, namun disini ia terlihat seperti tidak begitu nyaman berakting dengan Josh Duhamel. Josh Duhamel berakting sebisa ia berakting. Tidak ada yang benar-benar memukau. Colbie Smulders yang juga sangat beruntung mendapatkan screentime yang cukup dan bagaimana tokohnya begitu bermanfaat bagi keseluruhan cerita. Chemistry antara Julianne Hough-Josh Duhamel terlihat sedikit maksa di beberapa adegan yang cukup menganggu.

 ecara keseluruhan, Safe Haven tidaklah seburuk yang dikatakan oleh rating Rotten Tomatoes tersebut. Setidaknya masih ada hal yang membuat Safe Haven sedikit lebih berbeda. Saya lupa akan hal tersebut, hal tersebut adalah twist di ending yang sangat cantik. Lasse Halstrom mampu menjaga twist tersebut baik-baik hingga pada akhirnya penonton merasa bahwa Safe Haven bukan hanya film yang dibuat untuk dilupakan melainkan akan membekas di hati akibat ending dari film ini yang begitu membekas di hati. Klise dan cheesy mungkin akan ditemukan di sepanjang film. Namun, Safe Haven beruntung karena twist tersebut begitu berperan penting bagi keseluruhan filmnya yang membuat Safe Haven sedikit lebih berbeda dari film lainnya. Tidak lupa juga scoring yang sangat asik di sepanjang film yang menemani penontonya. Safe Haven adalah sebuah drama yang kurang “sweet”, namun mampu membuat anda menangis di akhir film ini. Save the best for the last, eh?

Image

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s