Review: Sinister (2012)

Bosankah anda dengan remake, sekuel, prekuel, franchise dan lain-lain? Rindukah anda dengan film-film yang mempunyai cerita baru yang menyegarkan? Dengan “torture porn” dan sejenisnya. Jujur saja, saya sudah cukup jenuh dengan remake dan lain-lainya. Akhirnya, saya menemukan sebuah film horror yang cerdas dan mengerikan. Sebuah film yang sepertinya akan menjadi horror tergila di tahun ini. Bagi yang sudah menonton film “Sinister”. Mari kita gebukin Scott Derickson untuk membuat kita semua panik dengan kengerian “Sinister”. Scott Derickson terkenal dengan film “The Exorcism Of Emily Rose” nya yang belum pernah saya tonton sebelumnya. Mungkin akan, untuk melihat apakah Scott Derickson memang benar-benar sutradara yang pandai dan pintar dalam membuat genre sejenis. Jika anda mencari tontonan horror yang mampu membuat bulu kuduk anda berdiri, so please watch this movie.

Sinister mengisahkan tentang satu keluarga Elisson (Ethan Hawke), Tracy (Juliet Rylance), Ashley (Ciare Foley) dan Trevor (Michael Hall) (sampai sekarang saya masih belum tahu apakah Trevor seorang laki-laki atau perempuan. Could you at least cut your head please so i can see the difference? Rumah baru yang mereka tempati bukanlah seperti apa yang mereka impikan. Rumah baru tersebut menyimpan sebuah misteri yang telah membunuh keluarga lainya. Membunuh keluarga tersebut di sebuah pohon yang ada di sekitar rumah tersebut. Elisson memutuskan untuk mencari tahu akan pembunuhan tersebut yang semakin membawanya ke masalah yang lebih besar. Sebuah tamparan bagi Elisson untuk tidak mencampuri urusan yang bukan urusan kita.

 

Sinister’s plot are predictable as hell. Sudah basi sebenarnya plot-nya. We could predict everything. Namun, kehebatan Scott Derickson untuk mengelola sebuah plot yang basi kemudian menjadi sebuah tontonan yang menyegarkan yang bisa dikatakan cukup jarang untuk kita temui belakangan ini. Lihat saja, kita bahkan bisa menghitung tangan film-film yang masih tergolong menyeramkan. Terakhir berteriak atau terlompat dari kursi adalah ketika saya menyaksikan film Insidious. Atau Paranormal Activity 3. Itu tahun lalu. Tahun ini, tahun yang sangat lemah. “Sinister” mungkin adalah sebuah film horror yang berada di puncak list film horror terbaik. Scott Derickson mampu mengemas sebuah film berdurasi 104 menit dengan sangat menyeramkan. 

 

Saya ada beberapa saran untuk yang belum pernah menonton film ini sebelumnya, hindarilah spoiler-spoiler di sekitar. Itu sangat menganggu. Sama seperti saya. Saya sudah terlanjur membaca spoiler-nya jadi saya tidak begitu terpesona akan keseluruhanya. Dan trailer? Sebenarnya bagus untuk melihat trailer sebelum menyaksikanya. Untuk meyakinkan kita kalau kita benar-benar menyukai atau memutuskan untuk tidak menonton sama sekali. Pengecualian untuk film “Sinister” dan turunkan ekspektasi anda untuk film yang satu ini. Film ini dibuat untuk bersenang-senang dengan kengerian di dalamnya. Namun, saya sejujurnya tidak menemukan kengerian tersebut di 45 menit pertama. Cukup berat untuk bertahan selama 45 menit untuk menyaksikan dan memastikan jika anda benar-benar mendapatkan sebuah hiburan yang anda inginkan. Di 45 menit terakhir adalah dimana momen-momen mengerikan dimulai.

 

Scott Derickson mampu membangun sebuah atmosfir horror yang jarang kita dapatkan di film lainya. Walaupun itu, Sinister masih belum dapat menghindari adegan-adegan bodoh yang menurut saya sangat tolol untuk disaksikan. Scott Derickson might think the boy coming out from the box is clever, tapi menurut saya itu malah berakhir dengan sangat lucu. Laki-laki kayang? ya, itu lucu. Saya sebenarnya tertawa melihatnya. Karakter di dalam film ini tidak dibuat untuk disukai. Semua karakter di dalam hanya hadir saja namun tanpa dibuat bagi penonton untuk menyukai karakter demi karakter disana. Karakter di dalam film ini tidak diberikan momen-momen untuk bersinar lebih. Hanya berfokus kepada Ethan Hawke yang beperan sebagai Elisson. Dan untungnya, akting dari Ethan Hawke sangat mengesankan. Untung sekali ia tidak mengecewakan. Saya jujur menyukai bagaimana diselipkanya kisah keluarga didalam nya sehingga kita lebih merasakan sepenuhnya apa yang dirasakan. 

 

Overall, “Sinister” adalah tontonan yang cerdas. Mampu membuat bulu kuduk anda berdiri dengan hantu-hantu atau mahkluk gaib yang cukup mengerikan. Sedikit predictable, mungkin itulah hal yang sedikit menganggu disini. 20 menit pertama sedikit membosankan. Melainkan, 20 menit terakhir saya harus memberikan dua jempol untuk Scott Derickson. Jika 20 menit awal dihadirkan lebih singkat lagi, pasti “Sinister” akan lebih menyenangkan dan lebih diterima dengan baik. Paruh awal yang membosankan, lalu kemudian dibabat abis dengan paruh kedua nya yang jauh lebih mengesankan dan mengerikan. Untuk membandingkan Insidious atau Sinister mana yang lebih mengerikan, jujur saja saya tidak bisa memilih. Karena Insidious dan Sinister dua-duanya mempunyai momen yang mampu mengagetkan penontonya sekaligus menakut-nakuti penontonya. Sebuah tontonan yang sedikit old-fashioned namun cerdas dan berkualitas

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s