Review: Texas Chainsaw Massacre (2013)

Texas Chainsaw Massacre, begitu banyak versi dari film ini. Namun, tak ada yang betul-betul bekerja dengan baik. Versi yang juga saya pernah tonton adalah versi Jessica Biel, yang menurut saya cukup menghibur namun bukanlah horror/slasher terbaik yang pernah ada. Chainsaw Massacre telah dikenal diseluruh dunia. Sosok Leatherface tersebut telah dikenal sebagai salah satu tokoh yang sangat menyeramkan mungkin setelah Freddie dalam Nightmare On Elm Street dan Jason dalam Friday The 13th. Bagi film-film sejenis, sulit bagi mereka untuk disukai karena biasanya film-film semacam ini terlihat bodoh. Sang sutradara seakan-akan tidak betul-betul serius menggarap. Kebanyakan film horror/slasher tampil sesuai dengan dugaan dan akhirnya menjadi film yang sama dengan film-film sejenis lainya. Tidak ada yang istimewa dari film horor/slasher, kebanyakan. Namun mereka masih bisa tampil menghibur bagi sejumlah orang.

Texas Chainsaw mengisahkan tentang Heather (Alexandra Daddario) yang dikejutkan dengan dua kabar sekaligus bahwa Ia ternyata adalah anak angkat. Kabar lainya, yang jauh lebih baik Ia diberi warisan oleh neneknya berupa sebuah rumah besar atau mansion di Texas. Ia beserta teman-temanya, Ryan (Trey Songz), Nikki (Tania Raymonde), Kenny (Keram Malicki-Sanchez) dan Daryl (Shaun Sipos) yang mereka temui di sebuah pom bensin. Mereka kemudian memasuki mansion yang diwariskan oleh nenek Heather. Awalnya mereka hanya bersenang-senang, seperti anak muda biasa. Sampai-sampai Daryl mencuri seluruh perabotan rumah, dan ia tidak sengaja bertemu dengan Leatherface yang membawa Chainsaw yang siap untuk memotong-memotong tubuh mereka semua. Hal mengejutkan terjadi ketika Heather ternyata mempunyai suatu hubungan dengan sosok Leatherface tersebut.

Texas Chainsaw 3D seperti yang saya katakan, tidak ada yang istimewa. Sulit untuk tiba-tiba menyukai film-film sejenis karena film sejenis terkadang tidak masuk akal dan membuat penontonya menjadi kesal sendiri. Apalagi ketika sang sutradara sudah mulai melakukan hal-hal bodoh yang membuat filmmnya sendiri semakin kurang menarik. Texas Chainsaw 3D sangat jauh dari kata sempurna, namun sebagai sebuah film horor/slasher, dan juga untuk membandingkan dengan film horor/slasher lainya. Texas Chainsaw tidaklah begitu buruk. Setidaknya masih bisa dinikmati dibalik kekurangan yang menyelimuti film ini dari awal.

10 menit pertama, yang cukup membingungkan kembali ke beberapa tahun yang lalu. Cukup membosankan. Bisa dibilang 30 menit pertama tidak ada momen yang benar-benar berarti. Ketika menginjak menit ke 45, mulai beberapa kejutan-kejutan terjadi. Texas Chainsaw 3D cukup mengejutkan di beberapa adegan, membuat filmnya sendiri menjadi cukup menghibur. Kandungan drama di dalam film ini bisa dibilang terlalu banyak, sehingga membuat Texas Chainsaw 3D begitu bland, atau flat di paruh pertamanya. Dan ketika John Luessenhop mulai bermain-main dengan twist-twist dan kejutan-kejutan kepada penontonya yang mungkin beberapa bekerja dengan baik, beberapa malah jadi basi.

Untuk mengatakan bahwa Texas Chainsaw 3D mengerikan atau tidak, jawabanya tidak. Kandungan gore di dalamnya menurut saya cukup kurang. Saya menginginkan lebih dari itu. Adegan kejar-kejaranya pun terbilang kurang. Sosok Leatherface disini dibuat agak lebih tolol. Sehingga penonton kebingungan apakah Leatherface disini benar-benar ingin membunuh atau cuma hanya menakut-nakuti. Masalah akting, sepertinya bukan sesuatu yang perlu dibahas. Alexandra Daddario, walaupun cantik. Masih lebih lepas berakting di Percy Jackson dibandingkan disini. Begitu pula sisanya yang sangat sulit untuk mengekspersikan diri mereka masing-masing apakah mereka ketakutan, bahagia, terkejut. Ya, tidak kaget. Film semacam ini tidak mempermasalahkan akting pemain, tetapi tubuh pemain. That’s a fact.

Secara keseluruhan, Texas Chainsaw 3D memang tidak keseluruhan runtuh. Setidaknya ending nya menurut saya cukup unik. Berbeda dari versi lainya yang membingungkan. Tidak ada yang baru dan istimewa dari Texas Chainsaw 3D. Beberapa adegan telah kita temukan di film-film lainya. Begitupula adegan gore nya yang kurang terasa kesadisanya. Saya memang tak mencari kesempurnaan dari awal dari film ini, namun saya berharap Texas Chainsaw 3D bisa menjadi horor/slasher yang layak untuk dinikmati dibalik kesederhanaanya. A lackluster movie that still enjoyable in overall. It’s Hate It/Love It now.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s