Review: The ABCs Of Death (2013)

Entah ini ide gila dari siapa mengumpulkan 26 sutradara-sutradara potensial kedalam satu buah film yang menunjukkan 26 ways to die. Saya awalnya berpikir bahwa akan terlalu banyak film dalam satu film jika harus memuat cerita sebanyak 26 buah kedalam satu buah film. Namun, pada akhirnya dengan ke-26 segmen-segmen dalam ‘The ABCs Of Death’, ‘The ABCs Of Death’ jelas telah menunjukkan sebisa mungkin. Saya pun sangat bangga melihat nama Timo Tjahjanto, satu-satunya sutradara yang berasal dari Indonesia mampu membuat sebuah segmen yang menurut saya terbaik diantara semuanya. ‘The ABCs Of Death’ memang tidak seindah dan semengerikan yang saya kira sebelumnya, namun ‘The ABCs Of Death’ jelas masih mampu saya katakan sebagai sebuah film yang cukup menghibur dan kreatif karena ide gilanya ini.

Seperti alphabet yang dimulai dari A, Segmen pertama A is for Apocalpyse menurut saya biasa saja. Sebuah pembuka yang lumayan baik. Adegan gore yang lumayan. A is for Apocalpyse berakhir dengan sebuah kisah yang dikemas dengan cukup baik. B is for Bigfoot harus diakui sama sekali kurang mampu tampil sebagai sebuah segmen yang tampil dengan mengerikan. C is for Cycle menurut saya adalah sebuah segmen yang cukup cerdas. Walaupun sudah melihat sejenis itu, saya tetap menyukai C is for Cycle sebagai sebuah segmen yang cukup menyegarkan. D is for Dogfight adalah segmen terfavorit saya diantara semuanya. Salah satu segmen favorit selain L is for LibidoD is for Dogfight dibalut dengan adegan slow-motion yang sangat cerdas dan menegangkan pula. Segmen yang cukup mengerikan. E is for Exterminate, salah satu segmen yang lumayan mengecewakan, dimana saya sangat penasaran akan laba-laba yang terus hadir tersebut. E is for Exterminate berakhir dengan lumayan baik namun sedikit mengecewakan. F is for Fart, segmen terlemah diantara seluruh film. F is for Fart selain membosankan, bodoh, tak lucu, menjijikan dan juga tidak menyeramkan. F is for Fart jelas sebuah kegagalan. Segmen yang sama sekali tidak menarik.  

G is for Gravity, salah satu segmen cerdas namun kurang mampu meningkatkan ketegangan dan kengerian yang seharusnya ditampilkan. Namun, masih berada di jalur yang aman dibandingkan segmen F, M, W,  Kemudian, H is for Hydro-Electric Diffusion dikemas dengan cukup unik. Segmen terunik. H is for Hydro-Electric Diffusion bukanlah segmen favorit saya, namun jelas adalah segmen yang baik. I is for Ingrown adalah segmen yang paling membingungkan, tidak buruk namun sedikit aneh. I is for Ingrown adalah segmen yang lumayan asyik jika disaksikan di versi panjangnya. J is for Jidai Geki adalah segmen yang sangat mampu membuat saya tertawa. Adegan gore nya dapet. Yudai YamaGuchi sebagai sutradara sangat mampu membuat segmen nya menjadi segmen yang menyegarkan. K is for Klutz adalah segmen yang saya tempatkan di honorable mentions. Sebuah segmen animasi yang sangat menyenangkan dan juga lucu. Konyol dengan cara bagaimana sang tokoh mati. K is for Klutz cukup mudah untuk dinikmati. L is for Libido, segmen ter-cerdas dengan bangganya mengenalkan bahwa ini adalah karya dari Timo Tjahjanto. Cerdas, mengerikan, menggelikan, menjijikan, memilukan, menegangkan… semuanya bercampur aduk. Saya sangat mengharapkan akan adanya versi panjang namun saya tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi.

M is for Miscarriage, segmen ter-aneh (dalam hal negatif). Tidak mampu tampil dengan baik, M is for Miscarriage sayangnya ditimpa dengan segmen-segmen yang jauh lebih baik yang membuat karya Ti West ini tepat berada di bawah segmen-segmen lainya. N for Nuptials adalah salah satu segmen yang juga akan saya tempatkan di honorable mentions. Dengan konsep nya yang sangat lucu. N for Nuptials adalah segmen yang cerdas dan kocak. O is for Orgasm, mempunyai segi artistik yang sungguh indah. Namun, bukanlah segmen yang saya sukai. Karena terlihat begitu membosankan padahal dengan durasi yang hanya kurang lebih 5 menit. O is for Orgasm tidak mencuri perhatian saya, walaupun harus saya akui memang indah. P is for Pressure salah satu segmen yang ter-garing diantara semuanya, bukan terburuk namun P is for Pressure gagal tampil sebagai segmen yang mengerikan. P is for Pressure, segmen yang hampa dan terlupakan. Q is for Quack, sebuah segmen yang cukup menarik dan cukup mengundang tawa. Namun, bukanlah sebuah segmen yang spesial. R is for Removed, menjadi salah satu favorit saya juga. Dengan adegan yang sangat sadis. Membuat saya ingin muntah. R is for Removed adalah segmen yang paling membuat saya menutup mata terbanyak. Saya tak sanggup.S is for Speed, karakter wanita di dalam nya sejujurnya sangat membantu keseluruhan segmen. Segmen yang tidak spesial namun masih bisa dikatakan sebuah segmen yang aman.

 


T is for Toilet, yang menurut saya adalah salah satu segmen terbaik serta terfavorit saya. Lucu, unik, menarik. Dan adegan gore nya yang sangat menyenangkan. T is for Toilet adalah segmen yang menyenangkan dan sangat-sangat menarik. U is for Unearthed juga tak kalah menarik. Walaupun cukup disayangkan tidak bisa melihat sosok dan wujud vampir yang mungkin bisa membuat kita ketakutan, U is for Unearthed juga bisa dikatakan sebagai segmen yang seru dan baik. Saya jelas telah menemukan top 5 saya sejauh ini, D, L, R, T, V. Yang terakhir, V is for Vagitus. Salah satu favorit saya, menyenangkan dan mudah untuk dinikmati. Sedikit kurangnya unsur horor tersebut, dan berharap akan unsur kekerasan yang lebih. V is for Vagitus adalah sebuah segmen yang sangat menyenangkan. Mendekati akhir bukanya malah membaik malah tambah membosankab, W is for WTF. Salah satu segmen terburuk. Untungnya sedikit terselamatkan karena ada F dan M yang jauh lebih buruk. W is for WTF adalah sebuah segmen yang sangat tidak layak untuk disaksikan dengan editing yang sangat sampah. And here it comes, the craziest one. X is for XXL. Segmen tergila sampai-sampai saya dibuat ngilu. Lebih parah dibandingkan R is for Removed. Dan lebih baik dibandingkan R is for Removed pula. X is for XXL adalah sebuah segmen yang sangat gila. Y is for Youngbuck. Tidak begitu menarik, bukan sebuah segmen yang mencuri perhatian saya. Karena berakhir dengan begitu saja. Tidak mengejutkan pula walaupun memang cukup berhasil menghadirkan adegan sadis nya dengan cukup baik. Sebagai sebuah penutup, segmen penutup yaitu Z is for Zetsumetsu, yang sama sekali tidak menarik di mata saya. Sebagai penutup, Z is for Zetsumetsu betul-betul tidak mempunyai sebuah faktor yang membuat segmen ini mudah untuk dinikmati. Sebagai hasilnya, Z is for Zetsumetsu adalah segmen gila yang mudah untuk dilupakan.‘The ABCs Of Death’ adalah memiliki 26 total segmen yang sayangnya tidak semua berjalan dengan baik. Dengan waktu yang sungguh minim, hanya sekitar 4-6 menit bahkan hanya ada yang 3 menit, memang sulit untuk mengutarakan sebuah ide yang hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Namun, pintar-pintarnya para sutradara, dan sesusah-susahnya toh masih ada yang sanggup tampil maksimal. Bahkan yang terbaik jelas jatuh kepada L is for Libido, dan D is for Dogfight. Saya jelas tak bisa memilih satu dari dua itu karena keduanya memang jempolan. Dan yang terlemah, F is for Fart dan Z is for Zetsumetsu. Z is for Zetsumetsu adalah segmen yang benar-benar buruk. ‘The ABCs Of Death’ gagal tampil se-mengerikan yang saya kira sebelumnya, ‘The ABCs Of Death’ hanya menang di ide awal dalam mengikutsertakan 26 ide-ide dalam satu film dengan total durasi 129 menit. Kecewa? Jelas. ‘The ABCs Of Death’ jelas telah membuat sebuah harapan para penonton yang tinggi-tinggi dan dijatuhkan dengan hasil yang benar-benar di bawah ekspektasi. Dari total 26 segmen, yang menurut saya masih layak disebut sebagai segmen yang menarik dan baik hanyalah A, C, D, K, L, N, O, Q, R, T, U, V, X. Hanya 13 segmen yang menurut saya menarik, ya… hanya setengahnya. ‘The ABCs Of Death’ pun berakhir dengan “hah? udah gitu doang?”

Image 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s