Review: The Collection (2012)

Saya tahu ‘The Collector’, saya juga pernah mendengar dan membaca review nya. Bahkan saya sempat melihat dvd-nya tetapi memutuskan untuk tidak membeli karena waktu itu saya memakai sistem ‘judge the book by it’s cover’. Poster nya yang tak menarik dan tak mengundang tersebut membuat saya tidak membeli ‘The Collector’. Kini, sekuel nya dirilis berjudul ‘The Collection’. Tidak berharap banyak karena takut kecewa, ternyata ‘The Collection’ benar-benar bukanlah sekuel yang buruk. Mampu menjaga ketegangan. Saya mampu berkata demikian mungkin karena saya belum menonton film pertamanya, namun saya tulis apa yang saya rasakan. ‘The Collection’ memang tak sesadis SAW dan tak se-gore pula. Namun, ‘The Collection’ mempunyai faktor-faktor lain yang SAW tidak dapatkan.

‘The Collection’ dibuka dengan kejadian tabrakan mobil yang dialami Elena dan ayahnya (Christopher McDonald) ketika Elena masih muda. Kini, Elena (Emma Fitzpatrick) sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, ia mempunyai pacar dan sahabatnya Missy (Johanna E. Braddy) yang mengundangnya untuk menghadiri sebuah pesta di klub malam. Awalnya berjalan seperti kehendak mereka, mereka bersenang-senang, menghilangkan rasa penat. Sampai-sampai ia harus bertemu dengan Arkin (Josh Stewart) dari sebuah kotak yang berukuran tidak terlalu kecil. Pada saat itu juga, seluruh orang di klub malam tersebut mengalami sebuah kejadian yang sungguh mengerikan. Tubuh mereka terpotong-potong, jebakan ini jelas dari The Collector yang sudah menyiapkanya dan akan mengambil salah satu dari yang selamat di klub tersebut.

The Collector tersebut mengambil Elena untuk dibawa kesebuah motel yang sudah lama tak dihuni. Walaupun Arkin selamat, Ia harus kembali berhadapan dengan The Collector. Karena tiba-tiba ia dikunjungi oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Lucello (Tee Tergesen) yang ingin mencari keberadaan Elena dan membawanya kembali ke tangan ayahnya. Ia ingin Elena berada di tanganya lagi dengan keadaan selamat.  Elena harus segera keluar dari motel tua tersebut dengan bantuan dari Lucello beserta tim juga Arkin sebelum ia menjadi korban selanjutnya. Namun, Lucello beserta timnya tidak sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang liciknya bukan main. 

Mengingat karya-karya Marc Dunstan yang sangat memalukan seperti “Piranha 3DD” dan franchise Saw, Marc Dunstan memang tak pernah tampil maksimal dalam karya-karya nya. Apalagi Piranha 3DD yang pointless itu. Tidak hanya Piranha 3DD, SAW pun tak kalah mengecewakan. Semakin lama kualitas semakin menurun. Namun, untuk pertama kalinya saya merasa bahwa ‘The Collection’ adalah film yang tepat untuk mengundang ketegangan ketika sedang menyaksikan sebuah adegan-adegan yang menakutkan. Tampil menegang-kan sejak awal membuat ‘The Collection’ mampu tampil sebagai sebuah horror/slasher yang menghibur. 

Kekurangan ‘The Collection’ mungkin berada di kurangnya adegan gore yang katanya didapatkan di film pertamanya. Ya, saya betul-betul mengharapkan akan lebih banyak lagi darah-darahan. Adegan tubuh terpotong-potong. Saya justru paling kecewa melihat durasi film nya yang hanya mencapai 70 menit kurang atau lebih. Hampir sama seperti film-film horor kacrut Indonesia yang ga niat hanya berdurasi 70 menit kurang atau lebih. Dalam durasi nya yang minim, Marc Dunstan pastinya akan kesusahan untuk menciptakan adegan-adegan gore nya. Dan yang sangat disayangkanya lagi, adegan gore nya ketimpa dengan adegan aksi yang lebih dominan dibandingkan adegan gore nya. Dan cukup menganggu melihat Marc Dunstan terlalu sengaja ingin menghidupkan hanya Arkin dan Elena dan dengan membunuh karakter-karakter lainya dengan cara yang sangat maksa.

Secara keseluruhan, Marc Dunstan telah menghadirkan sebuah film yang sangat menyegarkan dalam genre horor/slasher. ‘The Collection’ memang mudah ditebak. Namun, ‘The Collection’ masih mampu membuat penontonya menjadi tegang dan ketakutan. Sungguh disayangkan bahwa ‘The Collection’ lebih mengarah ke Action dibandingkan adegan-adegan gore nya. Adegan gore nya menjadi terabaikan. Dan tidak adanya dukungan dari akting para pemainya juga cukup disayangkan. Namun, Mungkin 10 menit pertama di pub itu adalah 10 menit terfavorit saya dari horor/slasher yang pernah saya tonton. Walaupun kurangnya kesadisan dalam adegan-adegan tersebut, ‘The Collection’ masih mampu tampil menakutkan dengan banyaknya darah di sekeliling. ‘The Collection’ memang tak sempurna, namun ia masih mampu tampil menghibur dan menegangkan. Dan yang terakhir, ‘The Collection’ tampil sangat menakjubkan di bagian-bagian akhirnya. Yang tampaknya masih ada kelanjutan dari cerita The Collector ini. 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s