Review: The Tower (2012)

Jika boleh berkata jujur, ‘The Tower’ adalah film layar lebar korea pertama yang pernah saya tonton. Saya tidak pernah menyukai film korea. Menurut saya, korea hanya menang di drama nya saja. Namun, dalam film aksinya. Apakah ‘The Tower’ berhasil membuktikan kepada saya bahwa Korea juga bisa membuat film yang berkualitas selain drama nya? ‘The Tower’ telah membuktikan bahwa perfilman Korea tidak hanya stuck di drama saja. Namun, sebagai sebuah aksi saya memang belum mendapatkan apa yang saya inginkan dari ‘The Tower’. Adegan menegangkan sudah tentu kita dapatkan. Namun, sebagai sebuah film yang niatnya menakut-nakuti penonton lewat peristiwa mengerikan ini, seharusnya ‘The Tower’ bisa lebih baik lagi.

Tiga puluh menit pertama ‘The Tower’ dihabiskan dengan basa-basi. Memperkenalkan tiap-tiap pemain yang nantinya akan diutamakan di 116 durasi filmnya. Jujur saja, tiga puluh menit tersebut sangatlah membosankan. ‘The Tower’ pada akhirnya sampai juga di saat-saat yang ditunggu-tunggu. Memperlihatkan kejadian yang anda harapkan tidak akan pernah terjadi kepada anda. Dengan efek yang luar biasa, mengejutkan kita bahwa ternyata Korea tidak hanya pandai dalam membuat drama-drama sedih atau drama romantis saja. Dalam efek nya, mereka juga tidak mengecewakan. ‘The Tower’ sebagai sebuah film korea, cukup mampu tampil dengan baik.

The Tower’ cukup mampu memberikan rentetan adegan menegangkan yang mampu membuat anda ternganga-ngaga dan hanya terfokus pada film itu sendiri. Walaupun itu, ‘The Tower’ masih memiliki kekurangan di sana sini. Saya tidak mampu merasakan ikatan emosional para pemain yang sudah cukup diberikan dari awal film. ‘The Tower’ yang dominan di segi aksi nya masih juga memberikan adegan-adegan yang mengharapkan mampu menyentuh tiap penontonya. Sayangnya, saya tidak merasakan hal-hal tersebut. Semuanya datar. Meskipun di akhir film. Dan adegan perjuangan para pemadam kebakaran, saya tidak merasa tersentuh dengan hal tersebut.

‘The Tower’ pada akhirnya hanya sebuah aksi berbudget besar yang tampil sangat biasa. Bahkan saya bisa melupakanya esok hari. Beberapa momen memang mungkin mampu memberikan ketegangan yang berarti. Bahkan, ‘The Tower’ tidak mau mencoba memberikan adegan-adegan sadis atau darah-darahan yang pastinya akan sangat berhasil jika ditampilkan. Dan anda akan tetap melihat tindakan-tindakan bodoh dari beberapa pemain. Humor nya? Jangan berharap. Beribu-ribu kali kita disuguhkan humor nya yang sangat basi dan garing. Menyelipkan humor diantara ketegangan dan ketegangan tidak akan berhasil. Apalagi untuk film ini.

Secara keseluruhan, bukan sebuah karya yang benar-benar gagal atau gagal total. Namun, seharusnya ‘The Tower’ mampu menjadi sebuah film yang lebih baik lagi. Beberapa adegan mungkin sanggup mencuri perhatian, seperti adegan di lift, mencoba memberitahu kita bahwa dalam adegan darurat semacam ini dilarang menggunakan lift dan lihat apa yang terjadi jika anda menggunakan lift. Dan ending nya sedikit mengingatkan saya kepada film ‘Daylight’ nya Sylvester Stallone. Sama sekali tidak mengecewakan, namun saya seperti tidak mendapatkan apa-apa selama hampir dua jam. Berpotensi untuk menjadi dark horse, ‘The Tower’ berakhir dengan yaaah..begitulah. Dan sepertinya saya menemukan kesimpulan baru untuk ‘The Tower: Mudah ditebak, Bertele-tele, terlalu dramatis tetapi, jika tidak anda 3 faktor diatas ‘The Tower’ mungkin akan gagal total.

 Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s