Review: Upside Down (2013)

Menarik bukan? Anda pasti ketika baru melihat premis nya langsung penasaran akan film nya. Lewat trailer nya saja mungkin sudah langsung terpukau dan semakin tidak sabar untuk melihat film panjangnya. Saya beri tahu, semua yang ada di trailer sudah cukup menjelaskan ‘Upside Down’ secara keseluruhan. Dengan visual nya yang indah,sayang nya tidak mampu membantu ‘Upside Down’ secara keseluruhan menjadi film yang sempurna. Sebuah film yang tidak mengecewakan tentunya, tetapi bisa berakhir dengan lebih baik lagi.

Mengisahkan tentang dua dunia, Up Top dan Down Below. Dimana di Up Top kehidupan berjalan dengan sangat lancar, orang-orang kaya, tidak ada yang merengek kelaparan. Dan sebaliknya di Down Below. Awalnya agak memusingkan melihat kamera bergerak keatas kebawah, sebaliknya. Lama – kelamaan terbiasa sih. Adam (Jim Sturgess) bertemu dengan Eden (Kirsten Dunst), mereka berdua berasal dari dunia yang berlawanan. Sampai suatu ketika mereka berniat untuk bertemu secara bertatap mata, sebuah kejadian menimpa mereka yang membuat Eden amnesia. 

10 tahun berlalu, Adam bekerja di sebuah toko biasa di dunia nya, ia kemudian melihat Eden tampil di layar kaca. Ia bekerja di TransWorld. TransWorld adalah sebuah gedung yang menyambungkan kedua dunia tesebut dimana orang-orang Down Below bisa berkomunikasi dengan Up Top secara lebih dekat lagi. Adam dengan ide krim yang bisa membuat orang lebih terlihat muda menggunakan hal tersebut agar ia bisa betemu dengan Eden. Telah bertemu dengan Eden, Eden lupa akan semuanya. Kini, Adam kembali ingin meyakinkan Eden tentang masa lalu mereka. Dan kembali mendapatkan cinta nya Eden.

Memiliki premis yang menarik, ‘Upside Down’ pada akhirnya tidak menyia-nyiakan ide segar nya tersebut. Dengan hasil yang sejujurnya bisa diperindah lagi, ‘Upside Down’ masih dalam kategori film yang sangat layak tonton. Apalagi bagi pecinta drama, tentunya tidak akan dan tidak seharusnya melewatkan film yang satu ini. Film ini dengan cerita mirip-mirip dengan Romeo/Juliet jujur saja sangat indah pada drama nya. Sisanya? Tunggu dulu.

Dalam menciptakan ketegangan, sayangya ‘Upside Down’ bisa terbilang cukup gagal. Dalam 104 menit, sebuah durasi yang cukup lama sebenarnya, ‘Upside Down’ gagal menciptakan sebuah tensi ketegangan yang saya rasakan dalam trailer nya. Bisa dibilang sama sekali tidak ada ketegangan di sepanjang film yang saya nanti-nantikan. Momen gereget istilahnya. Mungkin, kekurangan ‘Upside Down’ bagi saya di dalam hal tersebut. Sungguh disayangkan.

Jangan buru-buru menilai ‘Upside Down’ sebagai film yang gagal hanya dengan melihat review di luar sana. Tampak jelas tidak banyak fans untuk film ini. Saya cukup menyukai film ini terlepas dari ending nya yang menurut saya sangat maksa dan kampungan. Keinginan Juan Diego Solanas untuk menciptakan berbagai momen romantis menyentuh sudah terwujud. Dengan hasil yang memuaskan dari bagian dramanya, tetapi kenapa ia tidak bisa menciptakan hal yang sama di bagian lainya? Akan lebih baik lho jika diselipkan contohnya aksi kejar-kejaran ketika Adam tertangkap basah berada di Up Top. Menyia-nyikana momen itu lah yang dilakukan Juan Diego Solanas.

Untuk masalah pemain nya, saya sama sekali tidak ada masalah. Saya yang awalnya tidak begitu menyukai Kirsten Dunst kali ini dibuat terpukau dengan kecantikanya dan ia membuktikan bahwa ia bisa berakting. Tidak hanya indah di tampang saja. Jim Sturgess pun bermain dengan sangat baik. Chemistry yang diciptakan oleh keduanya sangat berhasil di sepanjang film. Momen-momen mengharukan pun berhasil diciptakan. Penonton akan merasa kekuatan cinta Eden dan Adam dalam film ini berkat chemistry yang tercipta. Timothy Spall juga bermain dengan baik. Tidak ada cast yang mencolok karena memang film ini hanya berfokus kepada Adam dan Eden sehingga kesempatan bagi pemain lainya untuk mencuri perhatian ketika mereka berada di layar sangat kecil.

Jadi, kesimpulanya. Apakah ‘Upside Down’ berhasil tampil sebagai sebuah drama/fantasy yang seharusnya? Selama 104 menit, saya memang telah menguap beratus kali. Menjelaskan bahwa film ini memang membosankan. Cukup lama hingga sampai di momen-momen akhir nya. Masih banyak sekali pertanyaan dalam film yang tidak terselesaikan. Dilewatkan begitu saja. Cukup disayangkan. Film ini berpotensi menjadi salah satu film dengan ide paling orisinil dan dengan eksekusi yang seharusnya bisa lebih mantap lagi. Apalagi sudah didukung dengan Jim Sturgess dan Kirsten Dunst. Pada akhirnya, ‘Upside Down’ bukanlah sebuah film yang kuat yang akan bersaing dengan film-film sejenis ini lainya di 2013 mendatang. Saya yakin ‘Upside Down’ belum bisa. Masih sangat banyak hal-hal yang harus dipelajari Juan Solanas untuk menciptakan sebuah karya yang jauh lebih baik dari pada ini. 

 Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s