Review: The Notebook (2004)

Image

Cukup sulit untuk menemukan sebuah drama-romansa yang menghibur. Seringkali drama-romansa direndahkan karena banyaknya hal-hal klise yang dapat ditemukan dalam sepanjang film tersebut. Tahun 2011 adalah tahunya drama-romansa, dimana walaupun masih sangat banyak drama-drama romansa yang klise namun pada akhirnya film tersebut masih jauh dari kata tidak layak nikmati. Drama-Romansa yang paling underrated menurut saya adalah Dear John. Amanda Seyfriend dan Channing Tatum adalah titik utama kesuksesan film Dear John karena untuk melihat kembali ke film tersebut bahwa benar-benar tak ada yang baru yang bisa kita temui dalam film tersebut. Kesamaan dari The Notebook dengan Dear John adalah keduanya adalah film adaptasi Nicholas Sparks. Nicholas Sparks terkenal akan novel nya yang semuanya berisi tentang drama romansa antara dua pasang kekasih. The Notebook adalah awal kesuksesan Nicholas Sparks, ya walaupun didahului oleh Message In A Bottle dan A Walk To Remember, namun banyak orang mulai mengenal Nicholas Sparks dari film The Notebook. Begitu banyak pujaan-pujaan untuk The Notebook membuat The Notebook menjadi salah satu drama-romansa yang paling banyak diperbincangkan dari dulu hingga sekarang. 

The Notebook mengisahkan tentang ketertarikan pria muda bernama Noah (Ryan Gosling) terhadap Allie (Rachel McAdams) pada pertama kali Noah bertemu dengan dia di sebuah tempat bermain. Noah mengajaknya untuk keluar, namun Allie menolak. Karena Noah bersikeras untuk tetap mengajaknya, akhirnya Allie menyetujuinya. Sesekali berjalan bersama Noah, Allie mulai menaruh hati kepada Noah hingga akhirnya mereka menjadi pasangan kekasih dalam waktu yang bisa dibilang cepat. Menjadi pasangan kekasih yang romantis membuat kedua orang tua mereka ingin mengenal satu sama lain lebih. Sayangnya, Orangtua Allie terlalu meremehkan Noah karena Noah hanyalah orang biasa sedangkan Allie adalah orang yang cukup kaya raya. Hal tersebut membuat orangtua Allie terpaksa harus pindah ke New York, membuat Allie dan Noah akhirnya putus. Namun hal tersebut bukan berarti kisah cinta mereka berakhir begitu saja, Noah yang berjanji membuatkan sesuatu kepada Allie membuat Allie harus kembali ke Seabrook dan bertemu kembali dengan cinta pertamanya, Noah.

Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah film drama-romansa jika tidak ada adegan-adegan romantis klise yang sekarang mulai terlihat hampir sama dari setiap film. Menurut saya, “The Notebook” memang hadir dengan begitu mudah untuk dinikmati dalam durasinya yang hampir menempuh dua jam. Terkhusus genre Drama, mungkin dalam waktu sejam lebih sedikit sepertinya sudah terbayang akan bagaimana ending dari film tersebut. Namun, beberapa film sengaja memanjang-manjangkan cerita hingga membuat penonton merasa kebosanan dan merasa jemu akan adegan tiap adegan yang ditunjukkan pada dasarnya sama-sama saja. “The Notebook” bisa dibilang sebuah film yang cukup spesial. Karena “The Notebook” benar-benar menggambarkan dan mungkin memberikan contoh bagi film-film drama romansa lainnya yang sepertinya sudah kehilangan ide dan sudah salah arah.

Image

“The Notebook” sangat beruntung bahwa film ini dikenang hingga sekarang, mengingatkan akan adegan-adegan romantisnya yang terlihat seperti betul-betul dihayati oleh kedua pemeran utama dalam film ini. “The Notebook” berhasil tampil emosional di beberapa bagian. Namun, menurut saya ending nya terlalu cemen dan lembek. Seharusnya ending nya bisa lebih menyayat hati lagi. Saya terlalu berekspektasi bahwa ending nya akan menjadi sesuatu yang betul-betul menyentuh hati mengingat bahwa dari awal film, “The Notebook” bisa dibilang berhasil tampil dengan emosional dan sisi emosionalnya betul-betul pas dan tidak berlebihan. Masalah akting para pemain, Ryan Gosling bermain dengan sangat bagus dan begitupula Rachel McAdams. Jika pasangan duo favorit saya hingga sekarang Amanda Seyfriend dengan Channing Tatum mengingat bahwa mereka betul-betul klop bersama, Rachel McAdams dan Ryan Gosling jauh lebih klop bersama.

Secara keseluruhan, “The Notebook” menurut saya adalah sebuah film yang sungguh spesial. Betul-betul menyentuh hati dan memubat kita betul-betul merasa simpati terhadap karakter-karakter di dalam film. Saya begitu menikmati durasinya yang hampir dua jam tanpa memikirkan sudah berapa lama saya menyaksikan film ini, saya betul-betul menikmati adegan demi adegan sepanjang film. Memenangkan hati para penonton dari adegan nya yang unik dan mampu membuat penonton sesekali tersenyum. “The Notebook” akan menjadi film drama-romansa yang tidak akan terlupakan. Walaupun tidak ada hal yang baru yang mampu ditawarkan  Nick Cassavetes, namun Nick berhasil mengemas “The Notebook” menjadi sebuah sajian drama-romansa menarik dan menghibur bagi kalangan remaja, dewasa dan lanjut usia yang ingin menyaksikan akan keindahan kisah romansa dan betapa abadinya cinta Noah dan Allie yang patut dicontoh oleh pasangan-pasangan zaman  sekarang. Salah satu film yang akan senang hati saya saksikan berulang-ulang kali dan masih tidak merasa kebosanan. I’m impressed!

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s