Review: Operation Wedding (2013)

operation-wedding

Huh! Sudah lama sekali tidak menyaksikan sebuah film lokal. Jika ada nama Monty Tiwa, saya menggambarkan sebuah sutradara yang sangat angin-anginan. Beberapa karya sangat patut diacungi jempol. Beberapa karyanya pula yang yaah gitu deh. Tidak terlalu buruk, namun bukan sebuah karya yang akan diingat. Contoh karya yang sangat cemerlang adalah “Test Pack” pada tahun 2012. Dimana ia berhasil menciptakan sebuah sajian yang sangat dewasa dan sangat ngena dihati para penonton dengan akting luar biasa dari kedua pemeran utama yang tak pernah tampil mengecewakan di setiap film menurut saya. Kemudian ada, “Keramat” sebuah mockumentary Indonesia yang sangat luar biasa menyeramkan dan menjadi sajian yang paling diingat-ingat hingga sekarang ini. Kemudian sebuah film yang menurut saya sangat underrated, “Barbi3” yang tampil dengan menghibur. Versi Indonesia dari “Mean Girls”, inspirasi bukan copycat. Ada pula yang tampil dibawah rata-rata Monty Tiwa sendiri, seperti “Kalau Cinta Jangan Cengeng”, “Get Married 3” atau “Wakil Rakyat” dan kini “Operation Wedding” yang sayat idak percaya adalah garapan dari Monty Tiwa.Operation Wedding mengisahkan tentang Kardi (Bucek) seorang ayah yang sudah pensiun demi menjaga anak-anaknya yang sangat over-protektif terhadap putri-putrinya. Kardi memiiki empat putri, Tara (Sylvia Fully R), Lira (Kimberly Ryder), Vera (Dahlia Poland) dan anak kesayanganya, Windi (Yuki Kato). Windi selalu berada diatas kakak-kakaknya karena Windi mampu bertahan cukup lama di dalam air dan selalu memenagkan sebuah perlombaan yang dibuat oleh ayahnya tersebut. Hal tersebut membuat ketiga kakak-kakanya merasa cemburu terhadap Windi. Dan suatu kali Tara, Lira dan Vera sempat ingin membuang Windi namun gagal. Beranjak dewasa, hal tersebut masih belum hilang-hilang juga. Windi bertemu dengan teman masa kecil nya Rendy (Adipati Dolken) yang menyimpan rasa sejak kecil hingga sekarang. Hal gila terjadi ketika Rendy ingin menikahi Windi diumurnya yang ke-17. Sang Ayah tidak akan merestuinya, dan mengharuskan kakak-kakak Windi untuk menikah terlebih dahulu kemudian Rendy boleh menikahi Windi. Operation Wedding pun dibuat, Windi merancang sebuah ide-ide agar pacar-pacar kakak-kakaknya serta Rendy mau melamar Tara, Lira, Vera dan Windi. Namun, hal tersbut tidaklah mudah. Karena mereka harus melewati sebuah rintanga yang sungguh berat, yakni ayah Tara, Lira, Vera dan Windi.

Operation Wedding adalah contoh premis yang cukup menarik namun eksekusi yang gagal. Monty Tiwa gagal mengeksekusi sebuah ide yang menyegarkan. Kisah penceritaan “Operation Wedding” kian memarah ketika film ini sengaja dipanjang-panjang kan dengan konflik-konflik dangkal nan ringan yang dipanjang-panjangkan dan dirumit-rumitkan ketika penonton dan kita semua tahu bahwa ada jalan yang cepat dalam menyelesaikan masalah tersebut namun “Operation Wedding” dengan sengaja membodoh-bodohi penontonya dengan konflik konyol tersebut. “Operation Wedding” jelas adalah suatu kekecewaan bagi saya yang sudah berharap lebih bagi “Operation Wedding” karena melihat trailer nya yang asik dan posternya yang menurut saya salah satu poster lokal paling menarik beberapa tahun belakangan ini.

Selain Konflik nya yang sangat konyol, “Operation Wedding” memiliki kelemahan lainya yakni Pendalaman karakter nya yang sangat dangkal. Saya bahkan tak mengenal nama dari kakak-kaka Windi. Maka saya harus mengecek ke beberapa sumber untuk meyakinkan. Beberapa karakter seperti diberi batasan untuk eksplorasi. Sepertinya film in hanya memfokuskan pada karakter Windi dan itu saja. Membuat kakak-kakanya mau tidak mau terlupakan dan dilupakan begitu saja. Kemudian karakter Ayah nya yang sebenarnya bisa saja tampil dengan mencuri perhatian malahan rasanya saya ingin sekali memukul kepala ayahnya karena sifatnya. Saya tak mengerti mengapa dari sosok ayah yang galak dan tegas namun memberikan izin bagi Nino Fernandez untuk menikahi Sylvia Fully dalam film ini. Sangat tidak masuk akal dan sangat memaksakan.

Untuk masalah akting, Yuki Kato tampil dengan cukup baik. Ia tampil dengan menghibur dan kata-kata yang terlontarkan dari mulutnya sesekali mampu mengundang tawa. Dan sungguh terlihat jelas bahwa akting-nya tidak terpaksakan seperti akting Kimberly Ryder dalam film ini yang sangat dipaksakan. Saya sangat menyukai Kimberly Ryder, menurut saya ia tidak hanya tampang namun akting nya masih bisa dibilang oke. Namun difilm yang satu ini ia seperti benar-benar tak berguna dan aktingnya sangat kaku. Begitu pula Sylvia Fully R. Namun, dibalik aktingnya yang biasa-biasa saja, wajah-wajah mereka tentu menjadi nilai plus bagi film ini. Dibalik kekurangan-kekurangan yang memenuhi sepanjang film, melihat Yuki Kato, Dahlia Poland, Kimberly Ryder dan Sylvia Fully R sungguh memperbaiki mood yang sudah rusak. Adipati Dolken, Nino Fernandez, Chris Laurent dan Junior Liem juga tak diberikan ruang khusus untuk mengeksplorasi karakter mereka masing-masing yang membuat mereka menjadi begitu terbatas dan akting mereka jadi seperti niat tak niat.

Untuk sisi komedi nya, “Operation Wedding’ tidak mentah-mentah gagal menciptakan sebuah adegan-adegan lucu. Karena dapat dibuktikan bahwa disepanjang film saya sempat tertawa sedikit-sedikit melihat aksi Yuki Kato yang sesekali bertindak konyol. TJ dan Desta yang walaupun mendapatkan porsi yang sangat minim. Bahkan sepertinya 2 menit pun tak sampai sanggup membuat saya tertawa pula. Menghibur, sangat menghibur. Namun, tak dapat disangkanya tokoh atau karakter Ingrid dan Joe Project P sangatlah annoying. Terlalu ingin tampil lucu malah gagal. Dan karakter Ence Bagus yang saya harapkan bisa lebih menghibur lagi. Tak lupa pula adegan romansa nya yang sangat klise sehingga terkadang-kadang membuat saya ingin muntah.

Untuk menghitung kekurangan dari “Operation Wedding” seperti tak ada habis-habisnya. Namun, dibalik kekuranganya tersebut, “Operation Wedding” pada akhirnya masih termasuk sajian yang menghibur. Saya tidak seratus persen membenci film ini, saya masih suka-suka saja dan sebagai bukti saya mash tertawa menyaksikan beberapa adeganya. Menyia-nyikana pemain-pemain berwajah cantiknya seperti Kimberly Ryder, Sylvia Fully dan Dahlia Poland begitu saja. Padahal without any doubts, kedelapan karakter-karakter muda yang ada difilm ini mampu tampil dengan sangat likeable karena “Operation Weddign” memiliki aktris dan aktor yang sangat mampu tampil dengan likeable dan banyak penonton yang pasti menyukai aktris dan aktor yang tertera dalam poster “Operation Wedding” tersebut. Sangat tampak jelas sebagai pemanis. Kemudian, sebenarnya di dalam “Operation Wedding” mampu ditambahkan sis-sisi emosional. Apalagi kisah “Operation Wedding” adalah kisah orang tua dengan anaknya, jika hal tersebut berhasil, maka “Operation Wedding” tidak sepenuhnya mengecewakan. Mungkin usaha tersebut sesekali ditampilkan, namun malah gagal. Dan dengan pendalaman karakter yang sangat dangkal membuat “Operation Wedding” mungkin menjadi salah satu karya Monty Tiwa yang paling mengecewakan. Beda halnya dengan buruk. Pada akhirnya, bukanlah sebuah karya yang sangat-sangat buruk. Namun jelas sedikit mengecewakan.

2-5-star-rating-small-md

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s