QUICK REVIEW: WE’RE THE MILLERS, AIR TERJUN PENGANTIN PHUKET 2, INSIDIOUS CHAPTER 2, MIKA & THE MORTAL INSTRUMENTS: CITY OF BONES

mika-poster

Mika mengisahkan tentang gadis yang mengidap penyakit skoliosis, Indi (Velove Vexia) yang harus memaksanya memakai brace agar tulangnya kembali normal. Indi bertemu dengan Mika (Vino G. Bastian) yang penyandang HIV Aids. Indi bukanya takut malah semakin dekat dengan Mika karena untuk pertama kalinya Indi tidak dijudge oleh seseorang dalam hidupnya. Mika yang pemberani, seru dan selalu positif membuat Indi jatuh hati kepada Mika dan sebaliknya. Mika membuat Indi berhasil mengarungi hari demi hari bersama melawan penyakit yang dimiliki Indi dan juga berjuang untuk melawan penyakit yang diderita oleh Mika sendiri. Mika awalnya berjalan dengan sangat baik. Khususnya sekitar 45 menit pertama, cukup menggambarkan hubungan antara Indi dan Mika yang sangat lovable dan menghanyutkan hati. Namun, lama-kelamaan adegan demi adegan yang dihadirkan terlihat cukup monoton dan cukup sulit untuk menikmati kelanjutan MIKA. Apalagi dengan ending dari MIKA yang cukup preditcable. Namun, saya harus memberikan jempol bagi Vino Bastian untuk memerankan tokoh Mika dengan sangat baik begitupula Velove Vexia yang walaupun chemistry mereka belum terjalin dengan baik namun akting mereka cukup baik. Dan MIKA juga menghadirkan beberapa momen-momen menyentuh dan pesan-pesan moral bagi penontonya sendiri. Namun, pada akhirnya, Mika hanyalah sebuah drama-romansa lokal biasa yang ujung-ujungnya jatuh kejurang yang sama. Tidak lebih.

three-star-rating-md

Insidious_Chapter_2_1

Insidious Chapter 2 mengisahkan tentang kelanjutan kisah keluarga Lambert, Josh (Patrick Wilson) dan Renai (Rose Bryne). Pada chapter one nya, Dalton (Ty Simpkins) telah kembali. Dan keluarga mereka sudah berjalan seperti biasa kembali. Josh dan Renai memutuskan untuk tinggal di rumah Lorraine (Barbra Hershey). Renai berpikir bahwa hidupnya akan damai seperti semula, namun Renai dan Josh serta Loraine mulai dihantui kembali dengan sosok wanita berjubah putih yang mulai menghantui dan menginginkan sesuatu dari keluarga Lambert. Hal ini membuat Lorraine harus cepat-cepat bertindak sebelum semuanya terlambat. Insidious (2011) berhasil menghadirkan sebuah sajian horor yang betul-betul menakutkan dan mengerikan dari awal hingga akhir. Membuat saya tidak bisa tidur, James Wan berhasil menghadirkan dan memberikan atmosfir berbeda ketika penonton sedang menyaksikan Insidious. Ingin mengulang kesuksesanya, ia menghadirkan Insdious chapter 2, tak semengerikan seri pertamanya namun ada suatu hal dalam Insidious Chapter 2 yang membuat film nya lebih epic. Walaupun formula nya masih sama dengan seri pertamanya. Insidious Chapter 2 merupakan sajian horor yang masih layak untuk dinikmati dan masih bisa menakut-nakuti penontonya walaupun sosok gaib nya tak semenyeramkan seri pertamanya. Insidious Chapter 2 adalah sebuah hiburan yang tidak mungkin anda lewatkan begitu saja.

3-5-star-rating-md

phuketketket

Air Terjun Pengantin Phuket adalah sebuah sekuel dari seri yang sangat tidak penting untuk disekuel-kan, Air Terjun Pengantin (2009). Air Terjun Pengantin Phuket mengisahkan tentang Tiara (Tamara Blezynski) yang sudah pindah ke Thailand dan sangat tertarik dengan thai boxing. Alan (Darius Sinarthya) beserta Adiknya, Maureen (Kimberly Ryder), Aida (Una Putri), Kenny (Stefan William) dan Lea (Laras Monica) memutuskan untuk berlibur bersama Tiara sekaligus merayakan kemenanganya dalam tanding Thai Boxing. Namun, akibat tidak datangnya kapal yang seharusnya ditumpangi, membuat Tiara dan kawan-kawan harus menaiki kapal lainya yang menurut rekomendasi pengemudi nya bahwa mereka harus mencoba ke suatu pulau yang tidak lama kemudian Tiara kenal dengan Air Terjun Pengantin yang menewaskan teman-temanya. It’s no different. Same shit. Air Terjun Pengantin Phuket bahkan seperti lebih parah dari seri pertamanya. Jika Rizal Mantovani mau membuat film Air Terjun Pengantin Phuket merasa disukai oleh kaum adam, ia juga harus menghadirkan adegan-adegan panas seperti seri pertamanya. Sekuel nya ini tidak memberikan adegan-adegan panas yang berhasil dipertunjukkan oleh Tyas Mirasih dan kawan-kawan di seri pertamanya. Kemudian, sekuel nya ini terlihat lebih bodoh, dangkal, konyol dan tidak masuk akal. Sepertinya Rizal Mantovani tidak memakai otak dan logika dalam mengeksekusi film sampah semacam ini. Air Terjun Pengantin Phuket hanyalah sebuah film lokal sampah yang sok mau seksi-seksian dengan pemain-pemain yang tidak berbakat untuk berakting dan film ini sangat jauh dari kata menyeramkan. Sebuah slasher yang sangat tidak masuk akal dan sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. Sebuah film yang sangat-sangat tidak layak untuk dinikmati.

1194984980941885933zero_stars_saurabh_nanda_01.svg.med

LenaHeadey(TheMortalInstrumentsPoster)

Mortal Instruments: City Of Bones mengisahkan tentang gadis muda bernama Clary (Lily Collins) yang dirahasiakan oleh ibunya bahwa ibunya, Jocelyn (Lena Headey) adalah shadowhunters. Suatu hari, Ibunya dipaksa untuk memberikan sebuah cangkir namun ia menolak, membuat Clary harus bekerja sama dengan shadowhunters bernama Jace (Jamie Campbell Bower), Alec (Kevin Zegers) dan Isabelle (Jemima West) untuk mencari dan mendapatkan cangkir itu dan memberikan serta menggunakanya dengan tepat. Hal itu tidaklah mudah, apalagi dengan berbagai orang yang mengincar dan menginginkan cangkir tersebut. The Mortal Instruments: City Of Bones adalah sebuah film yang sangat menyedihkan. Menyedihkan akan kualitas film ini yang sangat dibawah rata-rata kualitas film-film Hollywood lainnya. Jika film ini katanya mirip dengan Twilight, HELL NO! Twilight is much better. Beberapa hal yang membuat The Mortal Instruments: City Of Bones begitu buruk adalah romansa yang sangat dipaksakan kehadiranya. Drama-romansa yang dihadirkan sepanjang film terlihat begitu dipaksakan dan tanpa adanya chemistry yang terjalin. Jadinya datar. Dan adegan-adegan bodoh yang sangat cocok jadi bahan tertawaan. The Mortal Instruments: City Of Bones pun berakhir sebagai kandidat film terburuk di tahun 2013 ini, walaupun bukan yang terburuk, namun salah satunya. Datar, klise, nanggung, membingungkan. Salah satu hal yang membuat saya masih bertolerir terhadap film ini adalah Lily Collins sebenarnya berusaha untuk berakting dengan baik.

2-star-rating-md

Were-the-Millers-poster

We’re The Millers mengisahkan tentang David (Jason Sudelkis) seorang pengedar narkoba yang sangat sukses. Akibat menyelamatkan seorang gadis dari para preman-preman membuat semua barang-barang dan uang yang ia miliki lenyap begitu saja. Menginginkan uang untuk bertahan hidup, ia ditawarkan pekerjaan oleh Brad (Ed Helms) untuk melakukan drug-smuggler ke negara lain dan hal ini sangat berbahaya. Kemudian, ia mendapatkan ide, agar tidak terlihat mencurigakan, Ia meminta bantuan dari seorang stripper bernama Rose (Jennifer Aniston), seorang pria muda yang tinggal dekat dengan David, Kenny (Will Poulter) dan seorang perempuan yang kabur dari rumahnya, Casey (Emma Roberts) untuk menjadi sebuah keluarga bernama keluarga Millers. We’re The Millers dengan mengejutkan tampil dengan begitu konsisten di sepanjang durasinya. Pada menit-menit awal, We’re The Millers berjalan dengan lambat dan agak membosankan, namun lama-kelamaan We’re The Millers menjadi sebuah sajian komedi yang sangat menghibur. Beberapa adegan mampu membuat anda tertawa terbahak-bahak. Dan dibantu pula dengan akting yang cemerlang dari para pemain-pemainya. Adapun satu kelemahan We’re The Millers adalah We’re The Millers terlalu bertele-tele dan dipanjang-panjangkan. Walaupun tidak ada yang baru dan istimewa dalam penceritaanya, We’re The Millers masih sebuah komedi yang menyenangkan dan menghibur.

3-5-star-rating-md

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s