Review: Turistas (2006)

Image

Turistas mengisahkan tentang sekumpulan turis yang hendak pergi ke Brazil, namun dalam perjalanan mereka, bus yang mereka tumpangi menjadi hilang kendali ketika supr bus menghindari bus dari menabrak para pejalan kaki. Akibat bus mereka yang sudah jatuh ke jurang, Alex (Josh Duhamel), Bea (Olivia Wilde) dan Amy (Beau Garett) harus menunggu 18 jam hingga bus berikutnya datang dan menjemput mereka. Alex, Bea dan Amy bertemu dengan Pru (Melissa George) yang bisa berbahasa Portugis dan mereka bertemu juga dengan dua sahabat karib Finn (Desmond Askew) dan Linn (Max Brown). Mereka berenam memutuskan untuk mencari sebuah tempat untuk bersantai. Mereka akhirnya bertemu dengan sebuah pantai indah. Bersenang-senang, mereka bertemu dengan orang sekitar bernama Kiko (Agles Steib) yang nantinya membantu mereka mencari tempat yang aman bagi mereka sehabis terkena masalah akibat Linn yang tidak sengaja melemparkan batu kepada anak-anak disekitar kota dan membuat masalah.Akibat semua barang-barang mereka hilang, mereka tak tahu kemana akan mereka pergi. Dan dengan menunggu bus yang datangnya 2 hari lamanya, Kiko membawa mereka kesuatu tempat yang menempuh perjalanan 10 jam dengan berjalan kaki. Walaupun mereka mengeluh, semua kelelahan dan jerih payah terbayarkan ketika mereka menemukan sebuah air terjun indah dengan air jernih dan gua yang indah pula. Kiko menunjukkan rumah sang paman yang katanya akan aman bagi mereka. Namun, kesialan mereka baru saja dimulai ketika kepala Kiko bocor akibat terbentur bagian dasar sungai. Mereka akhirnya membawa Kiko kerumah sang paman dan mengobati kepala Kiko yang bocor. Sayangnya, Kiko tidak serta-merta memberi bantuan kepada para turis dengan ikhlas, karena ia ditugaskan oleh sang paman untuk melakukan sebuah tugas yang sangat kejam. Mimpi buruk mereka masih terus berlanjut hingga mereka bertemu dengan paman Kiko yang mempunyai niat jahat terhadap semua turis-turis yang berkunjung ke daerah tersebut.

John Stockwell adalah seorang sutradara dari sebuah film populer berjudul “Into The Blue”. Tidak perlu terkejut, karena John Stockwell pasti menyiapkan sebuah keindahan-keindahan dari apa yang mereka ambil. Turistas memiliki sinematografi yang sangat menawan. Menunjukkan keindahan gua-gua dan kejernihan air-air disepanjang film yang membuat penonton ingin ikutan terjun kedalam air yang sangat menggoda tersebut. Turistas berhasil memberikan sebuah gambaran Paradise seperti apa yang diharapkan penontonya dari John Stockwell. Ditambah lagi dengan Beau Garett, Olivia Wilde serta gadis-gadis seksi yang menghiasi layar dari awal hingga akhir. Bisa dikatakan, Olivia Wilde, Beau Garett dan Melissa George betul-betul tepat jika berbicara mengenai sebuah “paradise”. 

Untuk para pemain Turistas, sayangnya tidak ada yang tampil mencuri perhatian. Semuanya tampil terbatas walaupun memang akting mereka tidaklah buruk. Olivia Wilde, jika kita melihat karirnya sekarang ini, kemunculanya dalam Turistas masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah ia pertunjukkan di film-film lain karena ia adalah salah satu aktris yang tidak hanya memiliki tubuh yang seksi namun ia juga bisa berakting dengan baik. Dengan karakterisasi yang dangkal dan mereka memang disini dibuat sebodoh mungkin, cukup sulit untuk betul-betul menyukai setiap karakter yang ada. Begitupun dengan Melissa George, ia tidak diberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi karakter Pru yang sebenarnya tak ada gunanya. Dan karakter Finn&Liam yang juga dibuat hanya untuk mati di adegan-adegan berikutnya. 

Turistas banyak dibanding-bandingkan dengan Hostel dan Saw. Turistas memang memberikan sebuah adegan-adegan yang memilukan. Apalagi dengan apa yang terjadi pada dua turis dari Swedia dengan mati yang cukup mengenaskan dan dengan praktik asal-asalan paman Kiko terhadap Amy di dalam film yang juga membuat seluruh bagian tubuh penonton ngilu. Dan adegan kepala Kiko yang sedang diobati. Bisa dikatakan setiap kali film ini mencoba untuk mengeluarkan sisi gore yang memang diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh penontonya, Turistas berhasil menyajikan gambaran kesadisan yang tidak berlebihan namun juga tidak biasa saja. Dalam porsi yang tepat. Namun, sayangnya film ini tidak layak digolongkan kedalam film yang “sadis” karena film ini bahkan tidak memiliki sebuah kesempatan yang banyak untuk menunjukkan hal-hal tersebut. Banyak karakter yang mati dengan begitu saja tanpa adanya usaha untuk membuat turistas setidaknya mampu tampil dengan baik dalam menunjukkan adegan gore.

Turistas membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke bagian yang menyenangkanya. 35 menit dihabiskan dengan berpesta-pesta tak penting dan dengan bertengkar-tengkar tak penting kepada penduduk sekitar. Hanya dalam waktu 89 menit, tentu saja John Stockwell tidak mendapatkan semuanya yang ia inginkan dan tentu saja waktu tersebut tidak cukup untuk film semacam ini yang memakan waktu yang sangat banyak untuk menunjukkan bagaimana Brazil disebut sebagai sebuah paradise. Dan sayangnya pula, adegan kejar-kejaran di hutan sangatlah gagal total. Tidak mampu memberikan sebuah ketegangan yang berarti bagi penontonya. Begitu pula dengan adegan-adegan lainya yang tampak tak guna dan hanya selewat saja tanpa adanya ketegangan yang seharusnya dimiliki oleh penonton dan seharusnya berhasil diberikan dari film ini.

Secara keseluruhan, Turistas adalah film yang cukup bodoh untuk memberikan beberapa pesan yang bisa saja tersampaikan dengan baik namun dengan cara eksekusi yang lebih serius dan lebih niat. John Stockwell tampak malas-malasan apalagi pada 15 menit terakhir. Walaupun kejar-kejaran di gua merupakan sebuah bagian terbaik dari 89 menit film ini, ya adegan terbaik dari Turistas bukanlah apa-apa, namun pada akhirnya Turistas hanyalah sebuah film yang tidak pantas dikategorikan sebagai film slasher, begitu pula horror dan mystery. Semuanya disepanjang film serba nanggung. Walaupun memiliki aktris-aktris yang rupawan, hal tersebut tertutupi akibat mereka ynag tidak diberikan sebuah karakterisasi yang mendalam bagi masing-masing karakter. Pada akhirnya, cukup pintar bagi penonton untuk meng-skip film yang satu ini. Yang ada hanyalah kegagalan John Stockwell dalam menyajikan sebuah film yang sebenarnya untuk memberikan pesan-pesan bagi para turis. Sangat-sangat mengecewakan karena Turistas sangatlah berpotensi menjadi sebuah film yang jauh lebih baik daripada film yang hanya tampak bagus dari sinematografi nya. Walaupun memang film ini memiliki lokasi yang sangat baik dan memanjakan mata. Selebihnya..bodoh, dangkal dan hampir mendekati buruk.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s