Review: Chasing Mavericks (2012)

chasing_mavericks_ver2_xlg

Sebuah kisah inspiratif dari Curtis Hanson yang mengisahkan seorang surfer bernama Jay Moriarty (Jonny Weston) yang ingin sekali menjadi seorang peseluncur yang hebat. Dimulai ketika ia diselamatkan oleh Frosty (Gerald Butler) demi menyelamatkan anjing milik Kim (Leven Rambin), ia mulai ingin mencoba berseluncur. Bertahun-tahun ia belajar, akhirnya ia bisa juga berseluncur. Namun, suatu saat ia melihat kehebatan Frosty dalam menaklukan ombak dan ia pun menjadi tertarik. Ia meminta Frosty untuk diajarkan berseluncur dan ingin menaklukan ombak Mavericks, salah satu ombak terbesar di seluruh dunia. Dengan beberapa perjanjian, walaupun Frosty tidak yakin akhirnya Frosty ingin mengajari Jay untuk menaklukan ombak tersebut. Hanya mempunyai waktu 12 minggu untuk Frosty mengajarkan Jay. Ini bukan hanya kisah bagaimana seorang anak ambisius yang dengan egonya ingin menaklukan ombak besar tersebut, ini adalah kisah inspiratif yang juga mengisahkan bagaimana Jay akhirnya menemukan sosok ayah yang telah ia rindukan sejak lama.

“Chasing Mavericks” berawal dengan sangat meyakinkan. Sedikit lamban di awal dan di paruh keduanya mulai berjalan lebih lamban lagi. Dari awal, saya sudah yakin bahwa “Chasing Mavericks” hanya akan menjadi sebuah drama yang biasa-biasa saja. Yang medioker. Namun, karena ini juga termasuk film coming of age, terpaksa saya mencoba untuk menyaksikan bagaimana kisah peseluncur Jay Moriarty yang berhasil menaklukan ombak besar tersebut. “Chasing Mavericks” memang sungguh menginspirasi. Kisah yang menunjukkan bahwa semua orang berhasil itu dimulai dari nol. Cukup hanya niat dan tekad untuk menjadi orang yang berhasil. Dan sepertinya disini sosok Jay Moriarty akan menjadi pelajaran yang sungguh berarti bagi orang-orang madesu diluar sana yang menyaksikan “Chasing Mavericks”. Selama 116 menit berlangsung, yah cukup lama, “Chasing Mavericks” berusaha dengan sekuat tenaga untuk tampil dengan menyenangkan. Apakah bisa?

“Chasing Mavericks” memiliki masalah yaitu dalam penceritaanya, film ini benar-benar kesulitan untuk menampilkan apa yang sebenarnya ia ingingkan. Ingin menyelipkan kisah romansa antara Jay dan Kim? It didn’t worked out. Kisah romansa tersebut berjalan dan mengalir begitu saja tanpa ada penjelasan yang jelas tentang hubungan mereka. Dengan konflik yang mereka alami, sepertinya tampak sekali bahwa Curtis Hanson tidak terlalu mementingkan kisah romansa yang walaupun akan menjadi salah satu faktor yang kuat agar “Chasing Mavericks” bisa tampil lebih baik lagi. Kisah romansa dibangun dengan sangat lemah tanpa ada kenangan yang berarti. Begitu pula dengan kisah keluarga Jay yang tidak memiliki penjelasan yang jelas. Tentang latar belakang keluarga mereka. Dan juga latar belakang keluarga Frosty. Apa sebenarnya yang Frosty lakuakn? Bagaimana Frosty menghidupkan keluarganya? Mengapa istri Frosty tiba-tiba menjadi begini dan begitu.

Sepertinya sejak awal kita seharusnya sudah tahu bahwa apa yang berusaha dijelaskan oleh Curtis Hanson disini hanyalah Jay Moriarty dan papan seluncur tok. Tapi dari durasi 116 menit, banyak sekali hal yang terlalu dipanjang-panjangkan yang membuat “Chasing Mavericks” jadi terlalu bertele-tele untuk ukuran drama yang terlalu predictable. Apakah butuh waktu 116 menit untuk ending yang sebenarnya kita sudah bisa tebak? Oke. Cukup untuk menghina-hina “Chasing Mavericks”. Bagian baik “Chasing Mavericks” adalah dimana ia selalu bisa memberikan sebuah momen-momen indah ketika film mulai memfokuskan kepada sosok Jay dan Frosty ketika mereka berseluncur. Sinematografi yang lumayan asik. Menggambarkan ombak-ombak dan pemandangan yang indah beberapa kali. Dan “Chasing Mavericks” cukup mampu memberikan ketegangan ketika Jay hendak menaklukan Ombak tersebut, yakni beberapa menit sebelum ending dan credits bergulir.

Secara keseluruhan, “Chasing Mavericks” adalah kisah mengenai Jay Moriarty dan bagaimana ia menjadi peseluncur yang hebat. Walaupun sebenarnya bisa menjadi sebuah film yang lebih bermakna dan mengena di hati. Gerald Butler dan John Weston sama-sama menampilkan penampilan yang tidak mengecewakan. Chemistry yang mereka bangun juga cukup meyakinkan. Terlalu bertele-tele dan terlalu berusaha untuk memanjang-manjangkan durasi tanpa ada arti yang jelas. “Chasing Mavericks” juga cukup berhasil dengan sisi emosional nya yang mampu membuat penonton merasa sangat iba dan tersentuh dengan sosok Jay Moriarty. Namun, “Chasing Mavericks” tidak mampu memberikan sebuah sajian yang lebih dari sekedar itu. Memiliki kekurangan-kekurangan yang menghancurkan film itu sendiri. Film nya memiliki potensi sebagai film drama coming of age yang sangat menginspirasi. Sebuah ending yang cukup powerful. Namun, pada akhirnya, “Chasing Mavericks” jatuh ke lubang sejak menit-menit awal dan susah bangkit lagi. Curtis Hanson gagal membuat penonton bersenang senang seperti Jay Moriarty dan Frosty bersenang-senang berseluncur. Cukup mengecewakan.

2-5-star-rating-small-md19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s