Review: The Kids Are All Right (2010)

KAAOS_1-Sheet_CS4_v19.indd

Mengisahkan tentang pernikahan sesama jenis, Nic (Annette Bening) dan Jules (Julianne Moore) yang memiliki dua orang anak bernama Joni (MiaWasikowska) dan Laser (Josh Hutcherson). Beberapa hari sebelum kakaknya dikirim ke asrama, Laser ingin menghabiskan waktu kakaknya untuk hanya tidak bermain scrabble bersama teman-temanya, tetapi Laser meminta bantuan kakaknya untuk mencari biological father yang pada akhirnya berakhir ke seorang pengusaha sebuah cafe, Paul (Mark Ruffallo). Joni dan Laser merahasiakan ini dari kedua orang tua mereka, sampai pada akhirnya rahasia tersebut pun bocor dan Nic serta Jules ingin bertemu dengan Paul. Awalnya, hanya mulai dari makan malam biasa. Yang membuat Nic dan Jules masih menyukai dan masih bersantai saja. Konflik mulai terjadi ketika Paul meminta Jules untuk membantunya membersihkan dan merapikan taman Paul dan ketika Paul mulai memasuki dunia Jules, Joni dan Laser yang membuat Nic merasa terpojokkan. Perkawinan Nic dan Jules mulai tergoyah ketika Jules ingin mencari sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Nic, kepuasan seksual yang lebih dan waktu.

Jika anda berpikir bahwa keseluruhan film hanya mengisahkan tentang pasangan LGBT, anda salah. You’re too close minded if you think so. “The Kids Are All Right” awalnya berjalan dengan sangat lamban namun detik demi detik “The Kids Are All Right” mulai memasuki ke bagian-bagian terindahnya. Kehangatan keluarga yang mudah terasa. Tidak lupa pula dengan mendalami kisah setiap karakter di dalamnya. Menggambarkan kisah antara Nic dan Jules, Kisah tentang Laser serta sahabatnya, Joni dengan teman-temanya dan Paul dengan perempuan-perempuanya. Lisa Cholodenko mengemasnya dengan sangat menarik dan tidak membosankan. Untuk menjadi sebuah film drama yang mampu tampil dengan memikat, seorang sutradara harus tahu betul bagaimana membuat tiap adegan yang disajikan menjadi sebuah adegan yang kena di hati tiap penonton dalam satu kesempatan saja. Tanpa penonton harus kelewat bingung atau adegan tersebut sulit untuk dimengerti dan akhirnya film berakhir menjadi sebuah film yang gagal. Setiap adegan yang hadir dalam “The Kids Are All Right” terlihat begitu menghangatkan hati setiap penontonya.

Dan keberhasilan “The Kids Are All Right” dalam menjadi sebuah film yang begitu menyenangkan tentu dibantu pula oleh para pemain-pemainya. Annette Bening bermain dengan sangat total. Menjadi tulang punggung keluarga dan kita tahu betul apa yang dirasakan Nic. Julianne Moore juga bermain dengan sangat baik. Namun entah mengapa saya sudah terlalu bosan melihat Julianne Moore. Walaupun penampilanya tidak mengecewakan, Julianne Moore kurang tampil dengan memikat layaknya Annette Bening dan pemain-pemainya. Julianne Moore gagal membuat penonton bersimpati dengan karakter Jules. Mark Ruffalo juga bermain dengan sangat baik. Begitu pula dengan Mia Wasikowska dan Josh Hutcherson. Sebuah chemistry yang sangat indah yang dibangun oleh Annette Bening dan Julianne Moore yang mampu membuktikan dan meyakinkan penonton akan hubungan mereka yang terlihat dengan sangat natural.

Pada akhirnya, “The Kids Are All Right” adalah sebuah presentasi dari Lisa Cholodenko yang sangat komplit. A full packagae, indeed. “The Kids Are All Right” juga bisa menjadi pelajaran bagi orang tua diluar sana. Mampu menyentuh penontonya dari beberapa sisi emosionalnya yang terbangun dengan sangat konsisten di setiap momenya. Namun, konflik terasa sangat absurd. Saya tahu memang tidak perlu ada penjelasan untuk semua hal yang terjadi. Namun, saya hanya kecewa dengan endingnya yang biasa saja. Dari hampir 2 jam presentasinya, “The Kids Are All Right” mampu tampil dengan sangat menarik namun dihancurkan dengan ending yang kurang greget dan mengena. Dengan pemain-pemain yang tampil dengan sangat meyakinkan dan dengan kehangatan yang mudah terasa. Dan juga dengan dialognya yang mengena juga dengan beberapa adegan yang terbangun dengan sangat natural. “The Kids Are All Right” bukanlah hanya kisah tentang gay marriage, “The Kids Are All Right” sepenuhnya mengisahkan tentang bagaimana Nic dan Jules menyelesaikan masalah mereka berdua dan juga dengan tidak melupakan kedua anaknya yang memang sudah sangat jauh dengan mereka. “The Kids Are All Right” adalah sebuah presentasi yang indah dan mengena di hati.

four-star-rating-md20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s