Review: Grand Piano (2014)

file_176249_0_grand-piano-movie-poster

Film yang awalnya tampil dalam sebuah festival film, Fantastic Fest pada 20 September lalu. Melihat trailer nya, menurut saya “Grand Piano” memiliki konsep cerita yang menarik dan saya sudah memiliki sedikit peramalan-peramalan terhadap jalan cerita “Grand Piano”, akan menjadi seperti apakah film “Grand Piano” ini. It’s a must to know that, Elijah Wood berlatih selama tiga minggu demi “Grand Piano”. Tentu saja, setelah menyaksikan secara langsung bagaimana keahlian Elijah Wood bermain piano dalam film ini, hal tersebut harus diacungi jempol. Tanganya yang lentik membuat penonton terhanyut dalam permainan piano yang menakjubkan sepanjang “Grand Piano” berjalan ini. Sebuah thriller yang menurut saya terlalu singkat sebagai sebuah thriller yang memiliki konsep yang sangat menarik yang bisa dieksekusi jauh lebih baik dari yang sekarang ini.

“Grand Piano” mengisahkan tentang Tom Selznick (Elijah Wood) seorang pianis yang sudah lama tidak menaiki panggung untuk bermain piano setelah kegagalanya 5 tahun yang lalu. Untuk pertama kalinya, ia akan bermain kembali dalam sebuah pertunjukkan. Kembalinya Tom Selznick membuat orang-orang antusias dan pertunjukkan pada malam itu sampai full. Karena sudah 5 tahun tidak memainkan setelah kegagalanya dalam bermain lagu favorit ayahnya, “La Cinquette”. Kali ini Tom harus mengulang kembali lagu tersebut akibat kegagalanya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa ia tidak bisa dieremehkan. Sayangnya, kembalinya Tom tidak selancar yang ia pikirkan sebelumnya. Ia menemukan sebuah tulisan-tulisan dalam not baloknya yang mengancam Tom, membuat Tom harus memainkan seluruh lagu karena nyawa orang-orang terdekat Tom sebagai taruhanya. Hal ini membuat Tom harus benar-benar mengikuti semua tulisan-tulisan yang tertulis dalam not balok tersebut.

“Grand Piano” memiliki premis yang cukup menarik. Saya belum pernah menemukan sebuah cerita semacam “Grand Piano”. “Grand Piano” memberikan sebuah tensi ketegangan yang cukup. Walaupun sebenarnya masih bisa didorong lebih kuat lagi agar tampil lebih menegangkan di setiap momenya. Paruh pertama lebih menunjukkan bahwa Tom Selznick hanyalah seorang pianis biasa yang ketakutan dan demam panggung. Ia mau mengikuti semua perkataan yang dikatakan oleh orang asing yang mengaku dirinya sebagai Patrick Selznick. Paruh kedua bisa dibuktikan jauh lebih kuat dibandingkan paruh pertama, dimana paruh kedua semuanya dapat. Semua ketegangan-ketegangan yang dihadirkan begitu sukses membuat tiap penontonya merasakan semua perasaaan bimbang, takut, sedih dan marah yang dirasakan Tom Selznick. Dengan sentuhan komedi yang cukup berjalan dengan baik dan mampu mengundang tawa sedikit demi sedikit.

Sangat indah menyaksikan seseorang memainkan piano dengan begitu indahnya. Itulah kelebihan “Grand Piano”. Tidak semua orang menyukai alat musik yang satu ini. Namun, sepertinya “Grand Piano” tetap membuat penontonya agar tetap terjaga dan fokus terhadap filmnya tanpa harus merasa kebosanan. Namun, pada akhirnya “Grand Piano” hanyalah sebuah thriller biasa yang terlalu mudah untuk dilupakan tanpa sebuah kesan mendalam yang membuat “Grand Piano” mudah diingat. Ending yang sangat disayangkan bukanlah ending terkuat, malah justru worst case scenario bagi film ini sendiri. Mampu tampil kuat dalam paruh keduanya, namun sayangnya agak dirusak dengan endingnya yang kurang megah dan spektakuler. Yah, “Grand Piano” memanglah tidak buruk. Namun, “Grand Piano” belum cukup kuat untuk menjadi thriller yang nantinya akan menjadi thriller favorit para penonton pada akhir 2014.

Secara keseluruhan, “Grand Piano” adalah sebuah film thriller yang berjalan dengan cukup cepat. Pertunjukkan piano yang menurut saya mampu membuat para penonton untuk masuk kedalam pertunjukkan itu sendiri tanpa harus mengkhawatirkan Tom Selznick yang sedang diancam-ancam di atas panggung. Adegan-adegan yang mampu membuat penonton tegang, apalagi adegan Tom yang mulai mengeluarkan hp nya ditengah-tengah pertunjukkan. Sangat indah melihat Elijah Wood dapat bermain sebuah piano dengan begitu indah. Elijah Wood juga memberikan sebuah penampilan yang meyakinkan dalam setiap adeganya. John Cuscack yang mungkin mendapatkan salah satu porsi terminim yang pernah didapatkan oleh seorang villain dalam sebuah film. Dan disini villainya terlihat sangat kurang spektakuler. “Grand Piano” sayangnya belum mampu untuk masuk ke dalam hati para penontonya agar dapat tampil lebih megah semegah Elijah Wood memainkan pianonya dalam setiap lagu yang dimainkan. Tentu saja, karena durasinya yang menurut saya terlalu singkat. Tidak buruk, namun jelas masih bisa tampil lebih baik dan lebih menegangkan. Dengan ending yang mengecewakan, “Grand Piano” bisa saja menjadi dark horse di tahun 2014.

3-5-star-rating-md2

Advertisements

One thought on “Review: Grand Piano (2014)

  1. Baru aja nonton filmnya, keseluruhan filmnya lumayan seru. cuma masih penasaran aja dengan kunci yang ada di pianonya (kunci untuk apa?). kalo menurut saya, instruksi yg diberikan untuk Tom agar memainkan lebih baik adalah agar kunci rahasia yang ada pada piano tersebut bisa terbuka, makanya yang mengaku patrick memanfaatkan pianis profesional seperti Tom. jadi nada terakhir jika benar akan membuka rahasia piano tersebut yaitu sebuah kunci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s