Review: Comic 8 (2014)

Comic-8-Poster-film

Pasti kita semua tahu tentang “Stand Up Comedy”. Stand Up Comedy adalah dimana seseorang mengangkat sebuah topik pembicaraan dan berbicara kepada para penonton di tempat tersebut secara live. Dimana topik pembicaraan tersebut haruslah menarik. Stand Up Comedy sudah terkenal dengan guyonan-guyonan para comedians yang mampu menarik perhatian banyak orang. Tentu saja sebagai seseorang yang pernah menyaksikan Stand Up Comedy dan menikmatinya tertarik dengan para comedians bermain dalam satu film. Siapa yang tidak tertarik dengan hal ini? Apalagi ada nama Anggy Umbara yang kerap terkenal dengan film-filmnya yang disajikan seperti komik-komik dengan warna-warna mencolok dan dengan hal-hal yang penuh dengan imajinasi. Mama Cake (2012) adalah salah satu contoh karya Anggy Umbara yang cukup menarik. “Mama Cake” bisa dikatakan menghadirkan beberapa momen yang menyegarkan dalam perfilman Indonesia. Sesuatu yang baru tentunya akan selalu disambut meriah oleh penonton film Indonesia. “Comic 8” juga menghadirkan sesuatu yang baru. Campuran action dengan komedi, pantas saja bahwa film “Comic 8” ini banyak menarik perhatian penonton Indonesia. Karena dikemas dengan menarik.

“Comic 8” mengisahkan tentang The Amateurs yang terdiri dari Babe (Babe Cabilita), Fico (Fico Fachriza) dan Bintang (Bintang Timur) yang memiliki ide untuk merampok bank bernama “Bank Ini”. Dalam waktu yang bersamaan, tiga perampok yang bernama Ernest (Ernest Prakasa), Kemal (Kemal Pahlevi) dan Arie (Kriting) juga merampok bank yang sama. Bedanya, mereka awalnya bermula dari sebuah bandar narkoba. Namun, akibat ulah Kemal yang gegabah, mereka memutuskan untuk merampok Bank saja, yaitu “Bank Ini”. Awalnya ketiga perampok mengambil alih, namun kemudian ketika The Amateurs juga diketahui sedang ingi merampok sebuah Bank yang sama. Dan kemudian dengan datangnya Mongol (Mongol Stres) dan Mudy (Mudy Taylor), mereka semua saling membantu satu sama lain dalam merampok Bank dan memutuskan untuk membagi rata semua hasil rampokan tersebut. Namun, mereka harus cepat-cepat melakukan aksi bahaya tersebut karena polisi telah mengepung mereka dan dengan adanya sebuah misi licik dibalik semua perampokan Bank tersebut.

“Comic 8” seperti yang saya katakan sebelumnya, dikemas dengan menarik. Tentu saja Anggy Umbara selalu mampu mengemas semua film yang ia garap menjadi sebuah film dengan gambar-gambar menarik dan dengan gaya-gaya di komik yang menurut saya sangat menambah sesuatu yang baru bagi “Comic 8”. “Comic 8” memulai filmnya dengan memperkenalkan masing-masing delapan tokoh yang memakan waktu yang sangat banyak. Cara film ini memperkenalkan para karakter di dalamnya sangat membosankan tanpa ada koneksi dengan penonton yang mampu membuat penonton penasaran dengan tokoh-tokoh karakter berikutnya. Namun, harus diakui setiap karakter memiliki khas-khasnya sendiri yang membuat “Comic 8” begitu mudah diingat dengan karakterisasi yang baik dan dengan karakter-karakter yang mudah diingat namun dengan cara pengenalan yang cukup membosankan. Dan dengan durasi yang hampir menempuh waktu dua jam, wajar saja jika saya menguap-nguap didalamnya. 

8-comic-dalem

“Comic 8” cukup membuat saya kecewa. Karena dengan hype-nya, tentu saja menambah ekspektasi bagi penonton lainya sehingga apa yang diharapkan penonton sangat berbanding terbalik dengan kualitas filmnya sendiri. “Comic 8” sama sekali bukan film yang buruk. Namun, dengan beberapa kelemahan-kelemahan membuat “Comic 8”  begitu sangat disayangkan masih ada cacatnya. Kelemahan yang paling mencolok adalah plotnya. Yang menurut saya basi dan dengant twist yang sebenarnya bisa dibuat menarik namun gagal menjadi sebuah twist yang akhirnya akan menjadi sebuah hal yang akan membuat penonton begitu mencintai “Comic 8” yang sangat hype ini. Seringkali lelucon-lelucon yang disampaikan juga terlalu berlebihan dan terkadang garing. Terutama setiap adegan yang menurut saya terjadi pengulangan-pengulangan guyonan seperti Ernest yang digendong oleh Mudy yang menurut saya tidak lagi lucu dan dengan pengulangan-pengulangan lainya. Walaupun beberapa guyonan terasa pas dan mampu membuat penonton tertawa, “Comic 8”  masih belum bisa membuat saya tertawa puas. 

Saya tidak mengharapkan untuk melihat akting kelas papan atas dari para stand up comedians ini. Menurut saya malah mereka telah bermain dengan sebaik mungkin. Dan mereka semuanya mempunyai chemistry yang membuat mereka begitu dekat. Justru yang akan saya bahas kali ini adalah pemain-pemain pendukung lainya yang turut membuat “Comic 8”  menjadi lebih berwarna. Nirina Zubir telah bermain dengan baik, namun entah mengapa karakter yang ia mainkan menutup dirinya untuk menunjukkan bakat terbaiknya. Boy William yang sudah berkali-kali muncul di beberapa film dan untuk yang kedua kalinya muncul di film Anggy Umbara juga tidak mengecewakan walaupun gaya berbicaranya mulai membuat saya bosan dan capek. Yang cukup mencuri perhatian saya adalah Nikita Mirzani yang memberikan sebuah penampilan yang sama sekali tidak mengecewakan. Cukup membuktikan bahwa ia juga bisa bermain dalam film Indonesia yang berkualitas bukan hanya film-film horor sampah yang untungnya sudah mulai menurun jumlahnya. Selain itu, Panji juga memberikan sebuah penampilan yang tidak mengecewakan. Dan begitupula dengan special appearances lainya seperti Coboy Junior, Kiki Fatmala, Agus Kuncoro dan Cak Lontong yang mampu memberikan sebuah penampilan memorable di dalam film ini. Yang cukup menganggu adalah Candil yang menurut saya sangat annoying dari menit pertama film bergulir. Well….

Secara keseluruhan, dengan alur yang berjalan dengan pas dan dengan film yang dikemas cukup berwarna, “Comic 8”  sudah memiliki potensial sebagai salah satu film yang menarik untuk dinikmati dan akan mudah untuk dinikmati semua orang. Delapan stand up comedians tentu mampu menarik semua perhatian penonton kita untuk menyaksikan “Comic 8” ini. Anggy Umbara yang mengemas “Comic 8”  jauh lebih berwarna dan lebih menarik kemasanya daripada “Mama Cake”. Mengalami peningkatan yang menurut saya tidak di sisi teknis nya. Plot yang cukup basi dan dengan guyonan yang hit and miss. Lelucon yang terkadang tidak bekerja secara efektif membuat “Comic 8”  menjadi sebuah komedi yang kurang nendang. Dibantu dengan akting-akting pemain yang cukup solid dan dengan Nikita Mirzani yang mencuri perhatian. Tata musik yang mampu membuat saya merinding sesekali. Pada akhirnya, “Comic 8”  masih belum mampu membuat saya terpukau dengan karya Anggy Umbara yang satu ini. “Comic 8”  cenderung begitu melelahkan dan begitu bertele-tele pada paruh keduanya walaupun sudah dimulai dengan paruh awal yang cukup meyakinkan. Sebagai seseorang yang telah mengharapkan sesuatu yang lebih. Tentu saja kecewa dengan hasil keseluruhan “Comic 8”  yang menurut saya sangat nanggung. Saya malah lebih keasyikan melihat para stand up comedians berbicara di credits dibandingkan keseluruhan film. This is a fact. 

2-5-star-rating-small-md19

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s