Review: I, Frankenstein (2014)

ifrankensteinexclposterlarge

Mengisahkan tentang sebuah mahkluk yang bukan termasuk dalam golongan manusia, iblis maupun gargoyle bernama Adam (Aaron Eckhart) yang dibuat oleh seseorang bernama Victor Frankenstein. Karena takut akan karyanya sendiri, Victor Frankenstein membuang dan mentelantarkan Adam. Victor Frankenstein membuang Adam kesungai, namun Adam masih tetap hidup. Sakit hati, ia pun membalas dendam dengan membunuh istri dari Victor Frankenstein. Victor Frankenstein sakit hati dan berusaha untuk mencari Adam, akibat ketidakmampuan Victor bertahan pada suhu yang ekstrim, ia pun meninggal dalam kondisi kedinginan. Adam yang mengira bahwa semuanya telah usai, semua cobaan telah ia lalui, ia baru menyadari bahwa itu baru saja permulaan. Ketika Adam harus berada di tengah perseteruan antara kaum Gargoyle yang dipimpin oleh Leonnore (Miranda Otto) dan kaum Devils atau iblis yang dipimpin oleh Naberius (Bill Nighy) yang sudah mengunggu lama untuk menciptakan sesuatu yang mampu menghidupkan seseorang yang sudah mati. Sebuah perang yang juga akan menentukan masa depan umat manusia.

Yang saya tahu Frankenstein adalah sebuah mitos dengan sosok orang tinggi besar dengan rupa yang tidak menawan dan ini dibuat untuk menakut-nakuti anak kecil dulunya. Saya bahkan tidak tahu kalau ternyata Frankenstein disini bukanlah peran utama. Itu yang baru saja saya pelajari dari “I, Frankenstein”. “I, Frankenstein” adalah dibuka dengan sebuah kisah tentang awal mulanya hadir sosok Adam yang bukan termasuk dalam golongan apapun. Dari cerita ini sudah banyak sekali ketidakpastian. Cerita yang flat dan tidak menarik yang tidak mampu membuat mata saya terbuka lebar bahkan hanya menyaksikan 10 menit awal filmnya. Sayangnya, kedataran “I, Frankenstein” tidak hanya di awal film melainkan di sepanjang film. Saya tidak seperti dibawa kemana-mana oleh “I, Frankenstein”. “I, Frankenstein” tetap pada titik itu tanpa ada kenaikan atau penurunan di sepanjang film. Salah satu film paling datar yang pernah saya saksikan. Kelebihan “I, Frankenstein” sebenarnya hanya terletak pada akting para pemainya, itu pun masih belum sah dikatakan sebagai sebuah kelebihan karena tidak ada akting yang benar-benar menonjol. Namun, akting para pemain bisa dibilang cukup baik.

Sosok-sosok yang hadir di sepanjang film sangat layak untuk ditertawakan. Apalagi sosok iblis yang sama sekali tidak terlihat sebagai sosok iblis. Memang tidak indah rupanya, namun tidak mengerikan atau tidak mencerminkan kalau mereka dikirim dari neraka dan mereka adalah sosok iblis. Pertengkaran dan perang antara dua kaum ini pun tidak dikemas dengan menarik. Di adegan battle di akhirnya, semuanya benar-benar hampa dan tidak menjanjikan sama sekali. Tidak ada sebuah aksi pertengakaran yang mampu membuat saya geregetan sembari menyaksikan kegaringan sepanjang film “I, Frankenstein” ini. Final battle pun diakhiri dengan sangat sampah dan basi. Terlalu dipaksakan dengan konflik yang sangat tidak jelas penyelesaianya dan dengan misi dan tujuan film ini yang sangat tidak jelas. “I, Frankenstein” benar-benar tidak jelas. Talking about the worst movie of the year? “I, Frankenstein” is battling for it right now. Adegan aksi nya justru masih lebih mendingan di pertengahan ketika para iblis mulai keluar untuk yang pertama kalinya dan ketika mereka mulai meloncat dari atas gedung, adegan aksi yang satu ini masih lebih mending dibandingkan final battle nya yang luar biasa tidak menarik.

Secara Keseluruhan, “I, Frankenstein” adalah sebuah film yang benar-benar buruk. Sebuah film yang sangat datar tanpa tujuan. Adegan pertengkaran yang luar biasa garing. Underwhelming. Kelebihan atau hal yang lebih baik bisa dibilang jatuh kepada akting para pemain dan Aaron Eckhart yang sebenarnya sudah berusaha untuk menghidupkan karakter Adam disini yang walaupun gagal. Hal yang sebenarnya bisa dibilang sebuah kelebihan bagi “I, Frankenstein” adalah kemampuan film ini untuk membuat sebuah dunia yang begitu kelam, gelap dan mengerikan. Dunia yang akan membuat semua manusia ketakutan untuk keluar rumah. Villainya disini terlihat terlalu lemah. Walaupun debut penyutradaraanya dalam “Tomorrow: When The War Begin” sama sekali tidak buruk, walaupun tidak terlalu mengesankan pula, kali ini Stuart Beattie betul-betul menyinggung perasaan versi original Frankensteinya. Benar-benar tidak ada yang baru dan menyegarkan dalam “I, Frankenstein” ini. Sebuah perjuangan untuk tetap membuat mata terbuka lebar sepanjang 93 menit durasinya yang terasa bagaikan dua jam lebih. Skip this one! But the poster actually looks great!

1194984980993791171one_and_a_half_star_rat_01-svg-med8

Advertisements

3 thoughts on “Review: I, Frankenstein (2014)

  1. Saya mau, numpang “promosi” ya hehehe
    Teman-teman semua minta bantuan buat VOTE filmku ya, caranya gampang:
    1. Login ke buronanfilm.com (bisa pake fb, twitter atau bikin akun baru disitu)
    2. Terus buka halaman judul filmku
    3. Di halaman itu ada gambar jempol kayak like fb diklik aja

    Ini link halaman film-filmnya:
    HORN : https://buronanfilm.com/id/showcase/horn/
    SOULCASE: https://buronanfilm.com/id/showcase/soulcase/
    WHO’S ALL ALONE: https://buronanfilm.com/id/showcase/whos-all-alone/
    WITNESSES : https://buronanfilm.com/id/showcase/witnesses/
    F(R)ICTION: https://buronanfilm.com/id/showcase/friction/
    HAPPY BIRTHDAY : https://buronanfilm.com/id/showcase/happy-birthday/

    Mohon banget bantuannya dan makasih ya (pemenang diambil 3 besar dengan vote terbanyak & akan diproduksi filmnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s