Review: The Raid 2: Berandal (2014)

the_raid_2__berandal_poster__2014__by_camw1n-d72r7cr

Mengingat dan kembali lagi ke The Raid, sebuah film aksi terbaik dari Indonesia yang digarap oleh Gareth Evans yang cukup mendunia. Dan semua orang tahu mengenai film tersebut. Banyak orang yang mengatakan bahwa The Raid (2012) filmnya nanggung. Dan banyak yang cukup antusias pula. Pada tahun tersebut, saya menempatkan The Raid pada posisi atas film terbaik tahun tersebut. Berada di bawah The Hunger Games. Menurut saya, “The Raid (2011) adalah sebuah pencapaian yang sangat membanggakan untuk kita orang Indonesia karena film tersebut adalah sebuah film yang patut untuk diapresiasi lebih. Mencapai angka penonton yang mengesankan. Tembus satu juta banyaknya. Dan kini, Gareth Evans kembali menggarap sekuel The Raid. Membawa sekuel nya ini menjadi lebih megah dan lebih besar dari seri yang sebelumnya. Membuat The Raid (2011) tampak hanya sebuah warming up saja. Saya dengan bangga menyambut sebuah film Indonesia yang betul-betul berkualitas.The Raid 2 atau yang berjudul Berandal ini mengisahkan tentang Rama (Iko Uwais) sehabis penyergapan di seri sebelumnya, ia ditawarkan sebuah misi baru dari seorang anti korupsi. Ia ditugaskan untuk menghabisi para-para koruptor tersebut. Namun, kali ini ia harus menyamar menjadi seorang penjahat kriminal. Ia pun ditempatkan di sel tahanan dimana ia bertemu dengan Uco (Arifin Putra), anak dari Bangun (Tio Pakusadewo). Di dalam sel tahanan tersebut, ia yang memang ditugaskan untuk berteman dengan Uco berhasil. Ia akhirnya dibebaskan oleh Bangun dan menjadi begitu dekat dengan Uco. Ia juga bertemu dengan Eka (Oka Antara). Bertemunya Rama dengan Bangun, Uco dan Eka “menarik” Rama kedalam dunia yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Bukan hanya sekedar nyamar-menyamar saja, namun lebih rumit dan lebih berbahaya dari pekerjaan Rama sebelumnya. Ia mulai menyadari bahwa ia bermain-main dengan orang yang salah. Hal ini membuat Rama ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Rama harus bertemu dengan begitu banyak musuh yang tentunya tidak mudah untuk ditaklukan olehnya. Ketika ia bertemu dengan musuh yang sebenarnya, Bejo (Alex Abbad). Rama baru menyadari bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar tidak kenal ampun.

Dapat dilihat bahwa “Berandal” mempunyai sebuah plot yang lebih padat, berisi dan kompleks. Jika pada seri pertamanya The Raid (2012), misi Rama hanya untuk memasuki gedung tersebut dan membasmi kejahatan-kejahatan di dalamnya, kali ini jauh lebih berbeda. Rama harus bekerja sendiri, bisa dibilang. Dan Rama memasuki sebuah dunia yang sangat-sangat menakutkan. Peningkatan dari plot nya tersendiri sudah cukup membuat Berandal setidaknya mengalami peningkatan dari seri sebelumnya. Dan dari action nya sendiri, semua orang menyaksikan Berandal memang ingin menyaksikan Iko pancak silat. Dan kehebatan Iko Uwais dalam talenta nya tersebut menjadi sebuah daya tarik yang cukup kuat untuk penonton mau membagikan waktu 2 jam lebih untuk menyaksikan film ini. Saya bisa bilang, “Berandal” dari sisi action nya jauh lebih fantastis dan bombastis dibandingkan seri pertamanya. Anda akan melihat sebuah Fast&Furious versi Indonesia, Hammer Girl, Mud Fight dan salah satu fight scene terbaik yang  pernah saya lihat dalam film action menurut saya yaitu di dapur tersebut. Yang membuat saya ngos-ngosan.

“Berandal” tidak pernah, catat, TIDAK PERNAH membiarkan penontonya menghembuskan nafasnya. Gareth Evans pintar betul kali ini untuk mengemas “Berandal” menjadi sebuah film aksi yang menyajikan sebuah aksi non-stop tanpa terlihat melelahkan bagi saya. Jeda demi jeda yang diberikan pun masih terlihat cukup menarik. Saya tidak pernah merasa membosankan dengan adegan-adegan yang tidak menyertakan darah dan pukul-pukulan dan aksi baku hantam tersebut. Saya harus memberikan pujian kepada karakter-karakter baru yang disertakan dalam film ini yang sangat variatif dan sangat memberikan warna baru bagi sekuel The Raid ini. Tampak sekali bahwa tugas Rama kali ini sungguh sulit. “Menciptakan” sebuah enemies yang sangat luar biasa mencuri perhatian terutama Baseball Bat Man dan Hammer Girl. Walaupun mendapatkan porsi yang cukup sedikit (terutama Hammer Girl. Ugh), dan sayangnya mereka tidak diberikan sebuah latar belakang. Alangkah indahnya jika kita mengetahui Hammer Girl menutupi matanya yang luka tersebut sehingga saya tidak perlu harus mencari di internet. Ha. Sebagai seseorang yang sangat menunggu-nunggu Hammer Girl, alasan utama saya memang menyaksikan Hammer Girl. Melihat trailer nya yang menyertakan Hammer Girl yang sangat mencuri perhatian tersebut. Saya harus sedikit kecewa dengan porsi Hammer Girl dan Baseball Bat Man. Mereka adalah dua karakter terunik namun tidak diberikan sebuah waktu yang sangat panjang untuk “bergaya” bagi penonton.

Walaupun tidak mempermasalahkan akting sama sekali, saya harus bilang akting para pemain di Berandal ini sudah luar biasa. Salah satu kelemahan The Raid (2011) yang cukup terlihat adalah akting dari Iko Uwais yang menurut saya sangat lemah dalam seri sebelumnya namun disini mengalami perkembangan yang cukup terlihat walaupun tidak lebih. Iko Uwais masih saja kaku. Saya harus memberikan standing ovation kepada Arifin Putra yang memberikan sebuah akting mantap. Akting terakhir keren dia yang saya saksikan adalah “Rumah Dara” dan menurut saya itu merupakan sebuah akting dari Arifin Putra terbaik yang pernah saya saksikan. Namun disini, sebagai sebuah villain, ia menjiwai peran tersebut dengan betul-betul. Gerak-gerik terlihat begitu natural dan cara ia berbicara sudah menggambarkan bahwa ia betul-betul merasuki peran tersebut. So impressive. Tidak lupa pula dengan Tio Pakusadewo, Oka Antara, Alex Abbad, Julie Estelle dan Very Tri Yulisman. Mereka semua memberikan sebuah penampilan yang sangat baik. Masing-masing memasuki tiap karakter sehingga mereka tampil dengan begitu mengesankan tiap detiknya. Jangan lupa pula dengan Epy Kusnandar yang selalu mampu memberikan performance of his life.

raid-2-berandal03Saya juga menyukai hal dalam Berandal yang tidak bisa ditemukan di The Raid (2011) dimana ada sebuah adegan yang menyertakan sebuah keluarga. Pendekatan karakter dan latar belakang Rama disin begitu terpampang jelas dan cukup mengejutkan juga bagi The Assasin (Cecep Ari Rahman). “Berandal” berusaha memberikan sebuah sentuhan tersendiri bagi filmnya sendiri. Saya juga sangat menyukai bahwa disisipkan sebuah adegan-adegan yang mampu mengundang tawa sehingga agak let loose sedikit. Mencari kelemahan dalam “Berandal” adalah seperti mencari sebuah jarum dalam jerami, sangatlah sulit. Karena “Berandal” adalah sebuah sekuel yang hampir perfect dan Gareth Evans begitu cermat dalam menggarap “Berandal” menjadi sebuah aksi yang menegangkan di setiap adegan aksi nya. Banyak sekali adegan-adegan aksi yang membuat penonton kegirangan sendiri ketika menyaksikanya. Hammer Girl + Baseball Bat Man Vs Rama adalah fight scene terbaik di sepanjang film ini. “Berandal” adalah sebuah film yang tidak akan memberikan anda waktu untuk mencari ketenangan karena disepanjang film anda telah disuguhkan sebuah adegan-adegan aksi yang membuat anda hanya terpaku pada layar bioskop saja. Dan juga diselipkan adegan-adegan gore nya, membuat saya berpikir-pikir scene beneranya sebelum di sensor oleh LSF. Sebuah sekuel yang sangat-sangat luar biasa!

4-5-star-rating-md7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s