Review: Mall Klender (2014)

139572268663917_300x430

Kita semua tahu jatuh bangun film horor Indonesia seperti apa, dan kita tahu jenis horor apa yang merajai bioskop beberapa tahun belakangan ini, film-film horor yang berbau seks dan hanya memamerkan tubuh wanitanya saja. Dan kita semua sudah muak dengan hal tersebut. Kita harus tetap memberikan pujian kepada beberapa sutradara yang berniat untuk membangkitkan horor Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi, seberapa keras usaha mereka untuk melakukan hal tersebut, niat mereka sungguh baik. Dan salah satu film horor yang ingin menjadi horor yang “benar” adalah “Mall Klender” atau “The Mall” namun saya lebih suka judulnya “Mall Klender”. Mall Klender mengingatkan kita semua tentang kerusuhan pada tahun 1988 yang hasilnya menewaskan ratusan pengunjung mall tersebut dan terbakar habis. David Poernomo sekarang berusaha untuk mengambil kisah tersebut dan membawanya ke layar lebar untuk menjadi sebuah cerita yang menyegarkan adn dengan unsur yang cukup baru. Ghostbusters. “Mall Klender” bisa saja menjadi Ghostbusters nya Indonesia, walaupun sebenarnya setelah saya menyaksikan film ini saya masih mengatakan: our horor movies will never recover.“Mall Klender” dimulai dengan Mila (Shandy Aulia) ketika ia masih berusia 7 tahun dimana ia melihat sang kakek untuk pertama kalinya ketika ia bekerja, dan sang kakek mengatakan bahwa ada saatnya ketika Mila bisa melihat dan juga berinteraksi dengan mahkluk gaib. Mila pun bertumbuh sebagai seorang ghost-busters bahasa kerenya. Bersama teman-teman dekatnya, Panji (Denny Sumargo), Karina (Tasya Kamila) dan Danang (Igor Saykoji), Mereka berempat ingin menunjukkan bahwa mahkluk gaib itu ada dan ingin memberitahu kepada semua orang bahwa mereka tidak bisa mengabaikan dunia gaib seperti itu saja. Suatu ketika, Mila meliht ada sebuah tawaran pekerjaan bagi mereka, dan hal tersebut berhubungan dengan Mall yang terkenal angker setelah kerusuhan di tahun 1900 tersebut dan Mall yang selalu sepi, Mall Klender. Mila tertarik dan mengajak semua teman-temanya. Ia harus membuktikan bahwa Mall tersebut aman dan tidak ada mahkluk gaib dengan sebuah hadiah 500 juta. Mereka harus tinggal di mall tersebut selama 24 Jam. Dan didalam mall tersebut, tentu saja hal-hal aneh terjadi, dan ketika apa yang Mila harapkan sejak dulu terpenuhi dan ketika ia tahu bahwa apa yang ia harapkan tidak menjadi kenyataan. Dalam 24 Jam tersebut, Mila harus berhadapan dengan hal-hal yang ia tidak pernah bayangkan dapat terjadi dan yang akan mempengaruhi masa depanya.

“Mall Klender” adalah sebuah film horor yang benar? Jangan buru-buru menyatakan bahw film horor ini adalah film horor yang benar. David Poernomo telah melakukan segala usaha untuk memberikan sebuah bukti ini adalah horor yang benar. Dan nyatanya? Masih jatuh kedalam lubang yang sama seperti sutradara lainya yang ingin menunjukkan bahwa film horor yang telah mereka garap adalah horor yang akan membawa masyarakat Indonesia ke dalam film-film horor menyeramkan beberapa tahun lalu. “Mall Klender” memang sudah memberikan segalanya kepada saya, memberikan beberapa adegan-adegan yang mampu membuat bulu kuduk saya berdiri, dan untuk ukuran film Indonesia, ini adalah sesuatu yang membuat saya terpukau karena walaupun unsur horor yang masih terbilang kurang disini, namun ketika adegan tersebut mulai muncul, “Mall Klender” berubah menjadi sebuah film horor yang masih tergolong mampu tampil mengerikan pada setiap momen menyeramkanya.

Lagi lagi saya belum bisa mengatakan bahwa ini adalah apa yang saya harapkan dari “Mall Klender”, apalagi setelah trailernya yang menakjubkan dan mampu memancing saya untuk menghabiskan waktu 1 jam 35 menit untuk menyaksikan Mila, Panji, Karina dan Danang mencari kebeanran mengenai Mall tersebut. “Mall Klender” dalam durasinya terlalu bermain aman, sekitar 30 menit pertama dihabiskan dengan sia-sia menurut saya, tidak memanfaatkan durasi yang sebagaimana mestinya dimanfaatkan. David Poernomo memberikan sebuah upaya untuk membuat “Mall Klender” menjadi film yang lebih menarik ketika ia memberikan sebuah twist di penghujung film walaupun twist tersebut tidak memberikan saya sebuah shocking moment dan menurut saya, ada dan tidaknya twist itu tidak akan membuat saya lebih menyukai atau lebih membenci film ini. “Mall Klender” masih kehilangan sebuah unsur horor yang saya harapkan. Entah mengapa, apakah saya mengharapkan lebih dari trailernya. Bukan sebuah film horor yang akan saya saksikan berulang-ulang kali, namun sebuah upaya yang cukup baik bagi David Poernomo untuk membangkiktan horor Indonesia.

Masalah akting, keempatnya memberikan sebuah akting yang sangat medioker. Saya tidak mengerti mengapa Shandy Aulia maish saja bermain dengan sangat kaku ketika ia telah memainkan beberapa film-film besar dan menurut saya, Shandy Aulia masih saja memberikan sebuah akting yang kaku dan tidak memberikan akting yang membuktikan bahwa ia telah berpengalaman dalam berakting. Akting yang sama seperti yang saya temui dalam “Rumah Kentang”. Tasya Kamila tampil se-flat yang ia bisa, mungkin ini karena berpengaruh dengan akhir film membuat Tasya Kamila hanya sebagai pemanis dan sampai sekarang saya tidak mengerti apa yang membuat Tasya Kamila berguna dalam film ini. Jahat sih, namun saya agak kesal dengan bagaimana ia diperlakukan dalam film ini. Igor Saykoji tidak memberiakn sebuah akting yang menakjubkan menurut saya, menurut saya akting nya juga masih flat. Dan Denny Sumargo memberikan sebuah akting yang menurut saya setingkat lebih baik dibandingkan ketiga lainya. Saya tidak menyukai cara Shandy Aulia berbicara menurut saya sangat dibuat-buat dan tidak sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, “Mall Klender” adalah sebuah film horor Indonesia yang berupaya untuk tampil mengerikan walaupun harus diakui beberapa kali tampil dengan cukup mengerikan. Namun, ada beberapa hal yang hilang dalam “Mall Klender” yang membuat filmnya tidak menyatu menjadi sebuah kesatuan yang pas. Saya personally menyukai scoringnya yang menurut saya asik dan tata musik nya yang tidak annoying menurut saya. Dari tata musik nya mampu menambah sebuah ketegangan sendiri dan ditambah dengan beberapa adegan yang menurut saya cukup mengerikan. Adegan di toilet? Adegan di escalator? Dan hal tersebut sangatlah tepat dan  ending filmnya yang menurut saya cukup baik pula. Saya harus protes dengan bagaimana mereka bermain jelangkung ketika Shandy Aulia sedang memegang boneka jelangkung namun tidak ada tulisan disitu dan Denny Sumargo masih mampu membaca setiap tulisan tersebut, well, saya tidak tahu apa mereka terlalu malas untuk mengedit nya atau mereka tidak sadar. “Mall Klender” masih bisa tergolong horor yang sedikit lebih baik, namun lagi-lagi dialog-dialog tolol masih banyak ditemukan. “Mall Klender” sangat berpotensi menjadi sebuah horor yang mengerikan dan bisa menjadi sebuah comeback moment bagi film horor Indonesia, ketika adegan-adegan horornya dimanfaatkan lebih baik dan ketika unsur horor yang lebih diutamakan untuk film ini tersendiri. Film ini malah membuat saya mengerukan kening lebih banyak ketimbang mengusap-ngusap lengan karena merinding ketakutan.

2-5-star-rating-small-md19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s