Review: Marmut Merah Jambu (2014)

rdmmj

Dimulai dengan “Kambing Jantan” di tahun 2009, yang mengingatkan penonton Indonesia of how underrated Raditya Dika is. Kemudian, setelah “Kambing Jantan”, adaptasi novel berikutnya adalah “Cinta Brontosaurus”. Saya belum katakan bahwa dua film pertama Raditya Dika tidak berjalan begitu lancar. Karena, yang pertama, walaupun sedikit lebih baik dibandingkan “Cinta Brontosaurus” masih kurang bisa menyampaikan pesan dari “Kambing Jantan” tersebut sebaik bukunya sendiri. “Cinta Brontosaurus” dibalik semua kegaringan didalamnya, juga gagal menjadi sebuah film komedi yang efektif dan menjadi sebuah film yang tidak membuang-buang waktu saya. Dan Raditya Dika made a comeback. “Cinta Dalam Kardus” adalah sebuah film komedi yang sebenarnya tak begitu lucu pula, namun digarap dengan begitu kreatif dan inovatif. Memanfaatkan semua yang ada. Belum pernah digarap sebelumnya dalam sejarah perfilman Indonesia, dan hasilnya kita mendapatkan sesuatu yang baru. Kemudian, “Manusia Setengah Salmon” yang juga tampil cukup baik dengan menghadirkan cerita mengenai kehangatan keluarga di dalamnya. Dan yang terakhir ini, “Marmut Merah Jambu”. Harus saya katakan bahwa buku terfavorit Raditya Dika bagi saya adalah “Marmut Merah Jambu” dimana saya bisa ngakak guling-guling membaca tiap bab dan membuat saya kecewa karena saya harus menghabiskan semua bukunya kurang dari 2 hari padahal saya bukan seorang yang benar-benar suka membaca. Walaupun saya harus kecewa ternyata filmnya bukan sepenuhnya dari buku. Hanya secuil upil yang diambil dari buku. Namun, hal tersebut sebenarnya tidak menganggu saya selama menyaksikan “Marmut Merah Jambu”. Raditya Dika again and again, continue to rise.

“Marmut Merah Jambu” dibuka dengan Dika (Raditya Dika) membawa sebuah kertas lipat yang telah dibentuk menjadi bentuk burung kerumah seseorang. Rumah tersebut ternyata rumah milik Ina (Dina Anjani). Pertemuan antara Dika dengan Ayah Ina (Tio Pakusadewo) membuat Dika harus bercerita mengenai bagaimana ia bertemu Ina dan bercerita mengenai masa-masa SMA Dika. Dika Kecil (Christopher Nelwan) adalah seorang anak SMA yang sangat invisible di sekolahnya. Begitu pula dengan sahabatnya Bertus Kecil (Julian Liberty). Jarang ada yang mengenal mereka. Hal ini, membuat Bertus harus mengumpulkan sejumlah ide untuk menjadi terkenal di sekolahnya. Salah satu idenya yaitu membuat sebuah grup detektif. Ide tersebut mempertemukan Dika dan Bertus dengan Cindy (Sonya Pandarwarman), seorang gadis yang pintar yang membantu Dika dan Bertus dalam suatu masalah akhirnya mereka bertiga menjadi seorang sahabat dekat. Kasus terbesar yang harus Tiga Sekawan (nama grup detektif mereka) adalah ketika mereka harus mencari tahu siapa yang menuliskan ancaman pembunuhan terhadap Kepala Sekolah (Jajang C. Noer) di sebuah dinding di sekolah. Walaupun beragam misi dapat mereka selesaikan, misi yang satu ini membuat Dika, Cindy dan Bertus harus menundanya dulu. Dan ketika Dika lebih mementingkan ego nya yang merusak pertemanan diantara ketiganya, dan ketika Dika tahu bahwa sebenarnya ada clue yang lebih jelas berada di depan mata Dika.

“Marmut Merah Jambu” adalah sebuah kisah komedi/romantis remaja yang sangat menghangatkan bagi saya. Mengapa? Kita sudah terbiasa melihat Dika dan komedi romantis lainya. Dan sebagiaan besar dari film-film tersebut sudah mudah ditebak. Cheesy as hell. Namun, kali ini Raditya Dika mengemas “Marmut Merah Jambu” dengan begitu rapih dan tertata. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam film ini. Dan “Marmut Merah Jambu” mampu menciptakan kehangatan bagi saya karena kita secara otomatis mampu merasakan setiap perasaan yang dialami oleh karakter-karakter di dalamnya. Dan ending nya adalah bagian terbaik dari “Marmut Merah Jambu” yang mampu membuat saya tersenyum-senyum kagum dengan semua yang terjadi di ending tersebut. Sisi romantis dari “Marmut Merah Jambu” akan mudah disukai oleh sebagian banyak orang. Dan bagi fans Raditya Dika atau fans bukunya, mungkin sedikit kecewa dengan “Marmut Merah Jambu” namun lewat segala penyampaian dan kerja keras Raditya Dika yang mampu tampil beda dari bukunya namun masih mampu memberikan sebuah tontonan bermutu yang berbeda dan cerdas harus diacungi jempol. Walaupun pada akhirnya “Marmut Merah Jambu” agak tampil clueless dengan tidak semua penyampaianya berjalan dengan berhasil sepenuhnya.

Setiap karakter di dalam “Marmut Merah Jambu” ini memang dibuat untuk disukai oleh penontonya. Chemistry yang dibangun oleh Christopher Nelwan dan Julian Liberty begitu pas dan tidak dibuat-buat. Kekompakan mereka mampu membuat penonton mendapatkan inspirasi akan arti sahabat tersebut. Begitu pula dengan chemistry yang dibangun dengan Sonya Pandawarman. Akting individual para pemain juga tak mengecewakan. Dan beberapa cameo yang muncul juga mampu menarik perhatian penonton karena itu cukup menyegarkan. Christopher Nelwan secara individual memberikan sebuah akting yang baik. Mampu menggambarkan akan ke-madesu-an nya Dika ketika ia masih SMA. Dan kekutubukuanya. Dan dengan gaya khasnya juga membuat Christopher Nelwan menjadi seorang aktor yang cocok dalam memerankan karakter Dika. Julian Liberty juga sangat mencuri perhatian. Dalam setiap porsi yang ia dapatkan, ia manfaatkan itu dengan sangat baik membuat setiap porsi nya menjadi begitu berharga. Bucek Depp yang sudah berjuta-juta kali tampil dalam film Raditya Dika masih saja tampil dengan baik. Semua pemain di dalam “Marmut Merah Jambu” bermain dengan sangat baik dan memanfaatkan setiap kesempatan yang mereka miliki. Dan mereka untungnya tidak menghancurkan film ini.

Secara keseluruhan, “Marmut Merah Jambu” tampil dengan begitu menghibur di setiap momenya. Mungkin beberapa kali aksi komedi dari Christopher Nelwan dan Julian Liberty tidak kena ke penonton dan ends up garing. Namun, sebagian besar ketika “Marmut Merah Jambu” mulai melucu, penonton mulai tertawa. Dan saya tertawa lebih banyak dalam film ini dibandingkan film-film Raditya Dika lainya. Walaupun sebagai fans bukunya agak kecewa dengan filmnya karena tidak semua unsur dalam buku tersebut hadir di film ini, memang sulit sih untuk menghadirkan apa yang dibuku tersebut hadirkan karena tidak ada kesatuan yang membuat tiap buku tersebut menyatu. Didukung oleh para pemain yang memberikan akting-akting terbaik mereka. “Marmut Merah Jambu” berhasil tampil dengan baik dalam sisi romance nya yang membuat “Marmut Merah Jambu” tampil begitu sweet dan hangat. Kisah percintaan Dika yang sangat enak dinikmati dan kisah persahabatan yang tak kalah menarik juga membuat “Marmut Merah Jambu” tampil lebih baik dibandingkan film-film Raditya Dika lainya. “Marmut Merah Jambu” memanglah seimut, se-cute dan selucu Marmut Merah Jambu.

3-5-star-rating-md2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s