Review: Oculus (2014)

oculus_ver2_xlg-oculus-movie-review-no-spoilers (1)

Sungguh sulit untuk menemukan satu film horor yang benar-benar mampu membuat bulu kuduk merinding. Apalagi di perfilman Indonesia, lebih sulit lagi. Film terseram yang pernah saya saksikan jujur saja, “The Conjuring”. Dan masih belum ada yang mampu mengalahkan kehebatan dari “The Conjuring”. “The Insidious”, “Alone”, “Pocong 2”, “Grudge” to name a view. Dan memakai rumah tua, ruangan tua, dan memakai benda-benda lainya untuk membuat film tersebut lebih baik. Dan yang sering dipakai pula adalah Cermin. Cermin salah satu benda yang sering dipakai di dalam film-film karna dari cermin tersebut dapat dibentuk sebuah adegan-adegan horor yang mampu membuat penontonya terkejut dan ketakutan. Banyak sekali film yang sudah memakai cara menakuti penontonya dengan menggunakan cermin. “Oculus” memakai format tersebut dan sepenuhnya berhasil menciptakan sebuah horor dengan atmosfir yang begitu kelam dan gelap, mengingatkan penontonya kepada film-film horor dahulu.

“Oculus” mengisahkan tentang sebuah keluarga, Alan Russel (Rory Cochrane), Marie Russel (Katee Sackhoff) yang baru pindah kerumah baru bersama kedua anaknya Kaylie (Karen Gillan) dan Tim (Brenton Thwaites) dan mereka membawa sebuah cermin yang diletakkan di tempat kerja Alan. Hari demi hari, layaknya rumah baru, mereka masih merasa bahwa tempat tersebut nyaman untuk ditempati. Namun, lama-kelamaan cermin yang berada di kamar kerja Alan mulai memancarkan aura-aura yang tidak enak. Dan hal-hal aneh pun mulai terjadi. Kejadian demi kejadian yang aneh mulai terjadi, tidak hanya menghantui Alan, namun mulai menghantui Marie, Kaylie dan Tim. Hal tersebut membuat Marie harus melakukan sesuatu demi menyelamatkan kedua anaknya. Walaupun Alan menyarankan Marie untuk jangan pernah masuk keruangan kerja Alan. Dan ketika Alan mulai bertingkah aneh dan menyeramkan, saat itulah Kaylie dan Tim mulai memberanikan diri untuk melakukan hal yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Oculus” mengingatkan saya kepada film-film horor zaman dulu. “Oculus” mampu membangun sebuah atmosif kelam dan gelap didalamnya. Rumah tua yang sebenarnya sama sekali bukan hal penting didalamnya entah mengapa  dibuat begitu menyeramkan. Sang cermin. Si cermin pun dibuat dengan begitu misterius. “Oculus” mampu tampil meyeramkan di setiap menitnya. Dalam adegan-adegan tertentu, kita hanya bisa menutup mata dengan barang apapun karena kita terlalu takut akan apa yang terjadi terhadap para karakter karena disini para karakter terlihat sangat begitu disayangkan jika tersakiti. Terdengar sangat berlebihan, namun karakter demi karakter disini terlihat begitu root-worthy lah istilahnya. Namun, apakah “Oculus” dapat bersaing bersama film-film horor diatas yang saya anggap sebagai sebuah horor yang sangat sangat menyeramkan? Well, jika harus bersaing, sepertinya “Oculus” masih belum bisa sepenuhnya menjadi yang terbaik. Dan bukan berarti buruk. Namun, “Oculus” bukan seperti horor-horor diatas. Horor-horor diatas menggunakan sang setan, hantu, iblis atau apapun sebagai sesuatu yang begitu menyeramkan. Memang sih, disini juga begitu, namun “Oculus” memaksa penonton untuk tidak hanya ketakutan namun juga berpikir menit setiap menitnya.

Dan “Oculus” tidak akan membiarkan penonton dengan mudah memecahkan misteri yang ada didalamnya. Itulah yang membuat “Oculus” begitu mengesankan. Dan pada akhirnya, kita semua kaget dan tidak terduga dengan twist yang dibalut dengan begitu indah dan baik. Mungkin memang sangat disayangkan karena adegan flashback disini agak sedikit menganggu di beberapa bagian. Namun, “Oculus” is all about that. Paruh pertama “Oculus” berjalan dengan lambat, namun lama-lama membangun kengerian tersendiri di dalamnya, namun paruh pertama atmosfir yang kita dapatkan di paruh keduanya masih malu-malu untuk keluar. Di paruh kedualah penonton mulai merasakan jantung berdebar dengan kencang. Dan untungnya “Oculus” menawarkan lebih banyak lagi sehingga “Oculus” pada akhirnya berakhir sebagai sebuah film yang benar-benar baru walaupun memakai format lama. Oh dan tidak lupa pula ada terdapat gore scenes yang meningkatkan kengerian “Oculus”.

Secara keseluruhan, Mike Flanagan berhasil membuat “Oculus” menjadi sebuah tontonan menyenangkan walaupun paruh awalnya terlihat begitu lambat dan begitu sulit untuk dinikmati. Memang, paruh awal agak sulit untuk dinikmati, namun paruh keduanya, Mike Flanagan seperti men-redeem semua rasa pensaran dan ketidaksabaran penonton untuk ditakut-takuti. Adegan kejut-kejutan, adegan yang pure menampakan sang hantu didalamnya ataupun adegan yang benar-benar dipacu adrenalinya, semuanya tertata dengan rapih. Dan juga dengan akting para pemainya yang terlihat begitu meyakinkan. Karen Gillan yang sangat mirip dengan Abigail Breslin, begitu yakin dalam memerankan tokoh tersebut. Dan begitu pula Brendon Thwaites yang juga tampil dengan cukup baik. Terkadang film horor letak kelemahanya adalah di akting nya, namun “Oculus” beruntung mempunyai para pemain yang begitu natural dalam berakting. Namun, Katee Sackhoff yang bermain dengan begitu baik. Penampilanya sebagai seorang ibu yang harus tetap tegar namun dalam hatinya juga sangat gundah, ia juga takut, semuanya sangat tampak. Pada akhirnya, “Oculus” adalah sebuah film horor yang menyegarkan. Sesuatu yang sungguh mengejutkan karena tidak dapat disangka karena akan hadir horor dengan konsep menarik seperti ini. Mike Flanagan berhasil menggarap “Oculus” menjadi sebuah horor yang sangat menyenangkan di paruh akhirnya. Horor terbaik di tahun 2014!!

3-5-star-rating-md2

Advertisements

2 thoughts on “Review: Oculus (2014)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s