Review: The Fault In Our Stars (2014)

fault-our-stars-movie-poster

Sebuah tugas yang berat untuk mengadaptasi salah satu novel yang banyak penggemar. “The Fault In Our Stars” salah satunya. Kita bisa lihat bagaimana penggarapan yang kurang matang oleh para sutradara terhadap adaptasi-adaptasi Nicholas Sparks. Hasilnya, filmnya yah, gitu-gitu aja. “The Fault In Our Stars” sungguh berbeda. Sungguh terkenal. Banyak penggemar, kaum hawa, namun “The Fault In Our Stars” berdiri di tengah, dalam arti lain, sangat mudah untuk dinikmati kaum hawa maupun kaum adam. Bagi sebuah film drama-romance, sangat fatal jika sebuah novel yang membuat orang berekspektasi tinggi menjadi sebuah film yang mudah dilupakan karena keklisean nya. Sungguh khawatir dengan “The Fault In Our Stars” karena takut hasilnya akan sama seperti drama romance diluar sana yang akan banyak kita temukan. Datang ke bioskop, saya tidak berekspektasi apa-apa, saya berharap bahwa trailer yang saya saksikan, yang mampu membuat air mata saya terbendung, dan saya berharap filmnya akan sama sedihnya atau bahkan lebih menyedihkan lagi daripada trailernya tersebut. Josh Boone jelas tahu sejak awal bagaimana menggarap sebuah novel berjudul sama menjadi sebuah film yang sungguh mencuri perhatian dari menit awal hingga akhir.

“The Fault In Our Stars” mengisahkan tentang Hazel Grace (Shailene Woodley) penderita kanker paru-paru yang harus menjalani hidupnya dengan pergi ke dokter, menikmati reality shows dan hal-hal membosankan lainya karena ia tidak bisa capek. Sampai ia bertemu dengan seorang pria yang ceria bernama Augustus Waters (Ansel Elgort), yang mengubah hidup Hazel Grace dari hidup yang gitu-gitu saja menjadi hidup yang lebih berwarna. Augustus Waters ternyata mengidap tumor dan ia kehilangan satu kakinya yang membuatnya harus memakai kaki palsu. Walaupun keduanya sama-sama menderita suatu penyakit yang cukup parah, namun, seperti apa yang banyak orang katakan, “Namanya juga udah cinta”. Mau bagaimanapun situasi nya mereka melewati setiap rintangan hidup mereka bersama-sama. “The Fault In Our Stars” memang terlihat sedikit predictable. Namun, “The Fault In Our Stars” berjalan dengan begitu lambat sekaligus membangun sebuah koneksi antara film itu sendiri dengan penonton dengan baik. “The Fault In Our Stars” adalah salah satu film yang akan sulit dikalahkan oleh film-film romantis di masa yang akan datang.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Jason Boone jelas tahu cara-cara bagaimana menggarap novel dengan sangat benar tanpa menghilangkan unsur-unsur yang membuat novel “The Fault In Our Stars” mudah dicintai dan mendapatkan banyak penggemar. Untuk sebuah drama/romance, jelas “The Fault In Our Stars” adalah salah satu drama-romance paling romantis beberapa tahun belakangan ini. Masih belum mampu mengalahkan rasa cinta saya terhadap “Dear John” tahun 2010, namun, “The Fault In Our Stars” masih mampu memberikan sebuah sajian yang sungguh heartwarming. Tetapi, apakah “The Fault In Our Stars” berhasil tampil sama seperti ekspektasi semua orang yang datang ke bioskop? Pertama-tama, “The Fault In Our Stars” adalah sebuah drama-romance yang tidak biasa, “The Fault In Our Stars” adalah sebuah drama-romance yang sungguh bijaksana. Bijaksana, tegar dan kuat, tetapi dari semua unsur tersebut mampu memberikan penonton sebuah sajian yang sungguh menyayat hati. Jelas kita tidak datang dan kita tidak disuruh untuk menyaksikan Hazel Grace kesakitan, namun kita terbawa kedalam sebuah kisah romantis Hazel Grace dan Augustus Waters dan apapun yang mereka lakukan berdua mampu membuat kita turut senang dan turut bahagia. Kita jelas datang bukan semata-mata hanya untuk menghasihani Hazel Grace, “The Fault In Our Stars” sama sekali bukan tentang itu. Bukan sebuah film cengeng sakit-sakitan yang memperlihatkan darah, dan bagaimana Hazel Grace merasa kesakitan dan menunggu ajalnya. Bukan. “The Fault In Our Stars” jelas mengajarkan penonton tentang hidup dalam arti yang sebenarnya. Dan hal tersebut mampu membuka mata saya karena “The Fault In Our Stars” jelas adalah sebuah film yang luar biasa bijaksananya.

Tidak lupa pula dengan Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Pertama, Shailene Woodley, kita tentu tidak lupa kan bahwa Shailene Woodley kicked as in Divergent? Ia jelas salah satu tandingan terberat Jennifer Lawrene, bahkan saya menyukai Shailene Woodley sedikit lebih dibandingkan Jennifer Lawrence. Shailene jelas tampil dengan begitu maksimal. Melihat bahwa ia sakit, namun ia tegar, ia tidak pasrah tetapi ia menjalani hidunya detik demi detik. Shailene Woodley mampu meyakinkan penonton bahwa ia benar-benar kesakitan. Dan semua air mata yang keluar, semua kesedihan kita semua mampu merasakan itu. Dan bagaimana Hazel Grace dan hidupnya yang membuat penonton merasa kasihan. Ansel Elgort lah yang mencuri perhatian dalam “The Fault In Our Stars” ini. Ia jelas tahu bagaimana tampil dengan mencuri perhatian. Kita tidak akan mengatakan bahwa Ansel Elgort adalah aktor pria terganteng bukan? Ansel Elgort bukanlah pilihan pertama, kedua maupun kesepuluh jika kita harus memilih siapa sosok yang pantas dan harus memerankan tokoh Augustus Waters. Sebut saja beberapa nama yang mungkin akan lebih disukai oleh banyak orang, Logan Lerman? Aaron Johnson? Josh Hutcherson?  Alex Pettyfer? dan masih banyak lagi yang sebenarnya cocok menjadi heartthrob di dalam film ini. Namun, jelas, Ansel Elgort mempunyai semua yang tidak orang-orang diatas ini punya. Karisma. Ansel Elgort dan senyuman yang khas nya itu, dan akting yang sungguh natural. Dan semua gerak-gerik yang tampak sangat natural dan tidak dibuat-buat mampu membuat saya percaya bahwa Augustsu Waters adalah Ansel Elgort ataupun sebaliknya.

“The Fault In Our Stars” tertata dengan rapi. Bukan sebuah film yang sulit untuk ditebak endingnya karena kita smeua punya tebakan yang berbeda-beda, dan walaupun kita semua punya tebakan yang berbeda-beda, pada akhrnya tidak akan jauh dengan ending yang sebenarnya. Walaupun harus saya akui, ending “The Fault In Our Stars” tidaklah begitu istimewa. Tidak memberikan saya sebuah kesempatan untuk benar-benar tersadar bahwa “The Fault In Our Stars” jelas sedang membuat penontonya merasa sedih. Saya tidak mampu merasakan rasa sakit dan sedih ketika Isaac dan Hazel Grace sedang membacakan pidato untuk Augustus Waters. Dan banyak lagi. Dengan ending yang kurang epik tersebut sedikit membuat saya agak kecewa dengan apa yang harus disajikan dengan “The Fault In Our Stars”. Karena, “The Fault In Our Stars” mampu memberikan sebuah ending yang mampu membuat penonton bahkan tidak sanggup berdiri, dan hasilnya akan mengesot-ngesot keluar dari studio karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di dada akibat “The Fault In Our Stars”. “The Fault In Our Stars” bisa menjadi sebuah tearjerker terbesar, namun filmnya tidak mengambil jalan tersebut.

Secara keseluruhan, Josh Boone mampu memberikan sebuah sajian yang begitu hangat, lucu, menggemaskan dan sebuah hal-hal indah yang ada di dunia ini yang mampu menggambarkan bagaimana “The Fault In Our Stars” tampil begitu loveable. Tidak lepas pula dari karakter-karakter yang ada didalamnya yang benar-benar tampil dengan cerita dan latar belakang mereka sendiri. “The Fault In Our Stars” punya waktu untuk membuat penonton tertawa-tawa dan senyum-senyum di paruh awal, dan memberikan penonton sebuah momen yang menuntut penonton untuk serius dan mengikuti alur ceritanya yang sedikit lebih kompleks dan serius di paruh keduanya. “The Fault In Our Stars” memberikan sebuah momen-momen menyedihkan yang tentu saja mampu membuat kaum Hawa tersedu-sedu, memainkan emosi penontonya. “The Fault In Our Stars” juga ditemani dengan lagu-lagu yang memang ear catchy, lagu-lagu yang mampu menghiasi tiap-tiap adeganya tanpa terdengar annoying. Dan banyak sekali hal-hal yang membuat saya begitu menyukai “The Fault In Our Stars”, terlepas dari terlalu bertele-tele dan kurang tampil maksimal dalam endingnya, “The Fault In Our Stars” memberikan sisi positif nya yang mampu menyadarkan saya akan banyak hal. This movie taught me to be a better person, to have a better life and to appreciate your life and live the best. Akan sangat sulit untuk mengalahkan monster yang satu ini. Definitely one of the bests!

four-star-rating-md20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s