Quick Review: Noah (2014), The Other Woman (2014), Very Good Girls (2014) & Into The Storm (2014)

noah-poster2

Wajar saja jika “Noah” dilayar tayang di Indonesia, karena setelah menyaksikanya, filmnya memang cukup berbeda dengan ajaran yang selama ini saya anut. Tetapi, sejujurnya filmnya tak begitu buruk. Walau hanya kaget bahwa ini sebetulnya hanya hasil imajinasi Darren Aronofosky seorang saja. “Noah” diperkuat dengan jajaran pemain mulai Russel Crowe, Emma Watson, Jennifer Connelly, Anthony Hopkins hingga Logan Lerman. Semuanya diperkuat juga dengan karakterisasi masing-masing. Begitu juga dengan special effect nya yang juga jempolan. Penggambaran zaman dulu dan penggambaran binatang-binatang serta air bah tersebut semuanya berhasil disajikan dengan memukau. Hanya saja, cerita sang Nabi Nuh tidaklah seperti ini. Nabi Nuh adalah Nabi yang suci, pemaaf dan penolong. Di film ini tampak seperti seseorang yang pendendam, tidak mau menolong sesama dan tidak punya hati nuraini. Dan jujur saja, “Noah” sedikit membuat saya turned off karena sangat berbeda dengan apa yang diajarkan kepada saya.

three-star-rating-md

TheOtherWoman-poster

Saya selalu haus akan drama-komedi yang mampu bikin saya tertawa terbahak-bahak. Terakhir kali dibuat tertawa ketika menyaksikan “We’re The Millers”. Setelah itu sepertinya sangat jarang sekali saya tertawa dengan film-film komedi sekarang ini. “The Other Woman” adalah sebuah hiburan yang betul-betul menghibur. Mengisahkan tentang seorang istri yang menemukan suaminya berselingkuh, kemudian ia menemukan bahwa selingkuhanya tersebut tidak tahu bahwa suaminya telah mempunyai istri. Dan kemudian mereka berdua bergabung untuk menjatuhkan si tukang selingkuh tersebut. Segala kekonyolan yang ditunjukkan oleh Cameron Diaz, Leslie Mann dan Katie Upton semuanya berjalan dengan sangat baik. “The Other Woman” tidak berusaha terlalu keras untuk membuat penontonya tertawa, lewat komedi dan lelucon-lelucon kecil sudah terhibur sejak awal. Walaupun sejujurnya pada akhirnya “The Other Woman” has nothing new to offer to the audience, karena mungkin “The Other Woman” hanya ingin menghibur lewat kesederhanaanya saja.

three-star-rating-md

very_good_girls_xlg

“Very Good Girls” sebenarnya adalah sebuah film yang sangat sangat sederhana. Film nya sangat “kecil” sehingga tidak ada momen didalamnya yang membuat “Very Good Girls” menjadi bersinar. Berkisah sebuah cinta segitiga antara dua sahabat, dan you know what will happen. Lewat kesederhanaanya tersebut, “Very Good Girls” tampil dengan begitu mudah ditebak dan begitu klise di setiap bagianya. Hanya sebuah platform bagi Elisabeth Olsen dan Dakota Fanning agar tetap terus diingat oleh penonton. Dakota Fanning tentu saja memberikan sebuah akting cemerlang dengan adegan Nude nya yang tidak disangka akan terjadi. Begitu pula dengan Elisabeth Olsen. Saya tidak pernah menganggap remeh kemampuan berakting Elisabeth Olsen karena ia tampil dengan sangat baik. Segala konflik didalamnya sudah terlampau mudah ditebak dan “Very Good Girls” berakhir dengan sangat tidak jelas. Sepertinya sang sutradara sendiri pun tak mengerti ia ingin menawarkan apa lewat filmnya sendiri. Setelah credits muncul, disitulah penonton mulai melupakan segala yang terjadi di dalamnya. Sangat disayangkan telah menyia-nyiakan dua artis yang sangat berpotensi ini.

2-5-star-rating-small-md19

intense-trailer-for-the-tornado-movie-into-the-storm

Film mengenai sebuah bencana yang menimpa umat manusia selalu asyik jika ditonton dengan popcorn. Dengan segala spesial efek nya, tentu saja film tersebut mudah untuk dinikmati karena tidak perlu sebuah plot yang rumit untuk membuat film tersebut menarik. Hanya harus memberikan sebuah ketegangan bagi film tersebut. “Into The Storm” mengisahkan tentang sebuah tornado yang menghancurkan sebuah kota kecil yang membuat penduduk tersebut harus segera bersembunyi agar tidak terbawa dengan angin tersebut. Apa yang saya sukai adalah “Into The Storm” dimulai dengan pembukaan yang menegangkan dan bisa dibilang tidak ada jeda dari awal hingga akhir. Semuanya berlangsung begitu saja. “Into The Storm” berjalan dengan begitu cepat. Sayangnya, plot yang lemah sekali dan berbagai adegan-adegan tolol dan pointless. Serta semua tujuan utama film ini yang terbukti sangat tidak nyambung dan masuk akal. “Into The Storm” cukup melelahkan untuk diikuti, walaupun sejujurnya angin tornado tersebut mampu memberikan ketegangan lain, namun saya sangat tidak tahan dengan berbagai adegan konyol dan kejadian-kejadian bodoh yang membuat “Into The Storm” menjadi sebuah film yang agak tolol walaupun di sisi lain mampu membuat jantung saya berdetak kencang. Guilty Pleasure.

three-star-rating-md

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s