Review: The Purge: Anarchy

Film Title: The Purge: Anarchy

Entah apa yang membuat para penduduk Amerika Serikat tidak pindah kewarganegaraan ke negara lain. Saya sih sudah pindah sejak dari ide “Purging” itu muncul sejak awal. “The Purge” adalah sebuah cara untuk mengontrol jumlah populasi di dunia. Dimana selama 24 jam segala jenis kejahatan diperbolehkan. Namun dengan beberapa peraturan bahwa para tetinggi tidak boleh terlukai. Target utama adalah orang miskin atau orang yang tak punya rumah. Purge juga menjadi hiburan bagi orang-orang kaya, dimana mereka dapat membunuh orang yang mereka telah beli. Begitulah premisnya. Menarik bukan? Salah satu premis yang paling menarik yang pernah ada. “The Purge (2012) bisa dibilang bukan sebuah kesuksesan. Lewat premis nya yang sangat ambisius, filmnya sendiri gagal menjadi sebuah film yang menarik semenarik premisnya sendiri. “The Purge (2012) hanya seperti sebuah film home invasion biasa yang bisa anda temukan dimana saja. Tidak ada sesuatu yang baru. Kini, sekuel nya dirilis dan menurut saya ini adalah sebuah stepping up yang dilakukan oleh James DeMonaco. “The Purge: Anarchy” jelas sebuah peningkatan dari seri sebelumnya. “The Purge: Anarchy” mengisahkan tentang Seorang ayah (Frank Grillo) yang cukup berbeda dengan orang-orang lain, dimana orang lain cenderung bersembunyi di dalam rumah dengan penjagaan yang ketat. Namun, ia malah pergi mengelilingi kota, dengan tujuan untuk membalaskan dendam kepada orang yang telah membunuh anaknya. Di jalan ia bertemu dengan Eva (Carmen Ejogo) dan anaknya Tanya (Justina Machado) yang tengah disakiti oleh para orang-orang kriminal ini. Dan pasangan Shane (Zach Gilford) dan Liz (Kiele Sanchez) yang juga ikut bersama sang ayah yang ingin membalas dendam tersebut atau yang dikenal dengan sebutan Sergeant. Namun, aksi balas dendam tersebut terus-terusan terhalang dan terhambat karena ia harus menhindarkan diri dari para kriminal yang sudah tidak sabar membunuh orang-orang yang berkeliaran pada malam hari dimana mereka seharusnya menjaga diri mereka masing-masing. Aksi balas dendam tersebut harus cepat-cepat dilakukan oleh Sergeant sebelum pukul 7, namun hal tersebut tidak mudah, karena Sergeant harus menyelamatkan Eva, Tanya, Shane dan Liz yang cukup memperlambat gerak dan kerja Sergeant.

“The Purge: Anarchy”  seperti yang saya katakan merupakan sebuah peningkatan. Sangat menikmati menyaksikan “The Purge: Anarchy”  jauh lebih baik dibandingkan “The Purge (2012).” Jika dalam premis awal 1 jam 30 menit hanya menyaksikan bagaimana seorang keluarga atau seorang ayah menyelamatkan keluarganya dan kedua anaknya yang seperti hilang padhal hanya di satu rumah saja, ya agak menggelikan. “The Purge: Anarchy”  lebih dari itu. Ketegangan yang dua kali lipat. Orang yang menikmati  “The Purge” akan menikmati “The Purge: Anarchy”  jauh lebih lagi. Dan orang yang tidak menikmati seri sebelumnya, akan menikmati “The Purge: Anarchy”. Ketegangan yang di dua kali lipatkan membuat “The Purge: Anarchy”  menjadi sebuah tontonan yang sudah lama tidak saya nikmati. “The Purge: Anarchy” juga cukup memberikan kita contoh-contoh betapa kejamnya dunia di masa ini. Betapa uang lebih penting dari nyawa dan uang bisa membeli segalanya.

Adapun kelemahan dalam “The Purge: Anarchy” adalah bagaimana karakter-karakter seperti Shane, Liz, Eva dan Tanya yang terus-terusan memperlambat kerja Sergeant. Dari tindakan-tindakan yang terjadi, “The Purge: Anarchy” seperti tampak bodoh. Karakter-karakter sangat unlikeable. Dan karakter tersebut tidak dibangun dengan karakterisasi yang kuat. Kita tidak tahu latar-belakang semua karakter-karkater ini. Walaupun sebenarnya “The Purge: Anarchy” lebih menyegarkan dengan adanya karakter-karakter baru yang bervariasi, namun hal tersebut tidak membantu banyak bagi “The Purge: Anarchy”. Kelemahan lainya adalah tidak adanya adegan gore di dalam film nya sedikit pun. Jika ada itupun sangat minim, jika “The Purge: Anarchy” disertakan dengan daegan yang sadis, sperti potong memotong, tusuk-menusuk dan adegan sadis yang membuat penonton tidak sanggup membuka mata, “The Purge: Anarchy” akan menjadi film yang lebih mudah disukai karena menyuguhkan satu lagi hal yang tidak dimiliki oleh seri sebelumnya.

Walaupun masih banyak hal yang harus diperbaiki oleh James DeMonaco, “The Purge: Anarchy” masih bisa dikatakan sebagai sebuah film survival yang menarik dan menyenangkan. Walaupun ending nya terlihat begitu saja tidak “besar”. Dan tidak semencekam dan tidak se-misterius “The Purge”, jujur saja ending “The Purge” bisa dikatakan sebuah ending yang cukup menarik. Memperlihatkan sebuah kota Los Angeles yang sangat sepi, sunyi dan gelap. Bagaikan kota mati. Dan sangat menyenangkan melihat bagaimana Sergeant dan empat karakter yang memperlambat lainya berusaha menyelamatkan diri, jika ddalam film ini kelima karakter terlihat lebih heroik atau lebih berani berthaan hidup diluar tidak hanya aksi sembunyi-sembunyi saja dan disertakan dengan adegan-adegan darah-darahan yang lebih banyak dibandingkan sekarang ini. “The Purge: Anarchy” bisa saja menjadi sebuah thriller yang jauh lebih menyenangkan. “The Purge: Anarchy”  memberikan gambaran yang lebih luas lagi mengenai Purge tersebut yang telah dirilis oleh Pemerintah. Seperti para kriminal dengan wajah yang dilukis dengan mengerikan. Dan dengan countdown dan musik Purge yang khas. “The Purge: Anarchy” adalah sebuah thriller survival yang bisa lebih baik namun sudah memberikan sebuah tontonan yang gila.

The Purge Anarchy New Poster

3-5-star-rating-md2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s