Review: Ouija (2014)

ouija-movie-poster

Kehausan saya akan film horor yang mampu menakut-nakuti saya sudah tak bisa tertahankan lagi. Sudah cukup lama saya tidak ditakut-takuti semenjak The Conjuring (2013). Dan jujur saja, sepertinya film horor sudah mati. Entah siapa lagi yang mampu menghidupkan film horor dan betul-betul menciptakan sebuah film horor yang betul-betul menakutkan. Dan saya baru tersadar bahwa tak hanya Indonesia saja yang krisis film horor menakutkan, film-film luar pun sepertinya kesulitan dalam menghasilkan sebuah film horor yang benar-benar berkualitas. Dan, salah satu buktinya lagi adalah Ouija. Ouija berjalan layaknya seperti seorang pegawai baru yang bekerja di hari pertama yang tidak diberitahu harus mengerjakan apa dan tak tahu sebenarnya dia apply job buat apa. Ouija is so clueless throughout the entire time. Saya bahkan tak tahu apa tujuan film ini sebenarnya dibuat. Ouija mengisahkan tentang Laine (Olivia Cooke) yang terkejut mendengar kabar mengenai sahabatnya Debbie (Shelley Hennig) yang ditemukan gantung diri di rumahnya pada malam hari. Laine yang adalah sahabat dari Debbie sejak kecil merasa bahwa Debbie menyembunyikan sesuatu darinya. Dan ketika Laine memutuskan untuk mengecek kamar Debbie, ia menemukan sebuah papan Ouija, sesuatu yang biasanya mereka mainkan ketika mereka masih kecil untuk bertanya kepada roh-roh di sekitar mereka. Berawal dari sebuah ke-kepoan Laine, Laine akhirnya memutuskan untuk “menghidupkan” kembali papan ouija tersebut untuk menanyakan berbagai pertanyaan yang terngiang dikepalanya mengenai Debbie dan berharap bahwa Debbie akan menjawab semua pertanyaan dan semua misteri yang sepertinya sangat haus untuk dipecahkan oleh Laine. Yak, bagian ini sudah jelas ada di setiap film horor yang pernah diproduksi, kepo, kepo dan kepo.

Laine, bukanlah seorang freak, ia tidak bermain papan ouija tersebut sendirian. Ia mengajak adiknya, Sarah (Ana Coto), Trevor (Daren Kagasoff), Pete (Douglas Smith) dan Isabelle (Bianca A. Santos) dan mereka mulai untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan mengenai kepergian Debbie. Setelah mereka semua memainkan papan Ouija tersebut, kejadian-kejadian aneh mulai menghantui setiap orang. Yang membuat mereka semua harus berkumpul kembali kerumah Debbie untuk memainkan papan Ouija tersebut. Sayangnya, semakin sering dan semakin jauh mereka tenggelam dan ter-tarik kedalam papan Ouija tersebut, semakin banyak bahaya yang mengancam nyawa mereka. Laine dan teman-temanya mulai menyambungkan setiap teka-teki yang dapat memecahkan misteri meninggalnya sahabat Laine tersebut.

Ouija adalah sebuah gambaran jelas mengapa kita tak harus lagi menyaksikan horor kelas B layaknya Ouija ini. Saya seperti tak menemukan satu hal saja yang sebenarnya membuat saya terus menerus menyaksikan horor ini. Banyak sekali keganjalan yang sepertinya sang sutradara sendiri tak tahu bagaimana harus menjawakb ke-absurd-an film ini. Munculnya sosok menyeramkan atau hantu di dalam film ini pun seperti malu-malu. Hantu nya seperti memakan gaji buta karena kemunculan hantu tersebut bisa dihitung jari. Kita sama sekali tak merasa ketakutan akan kehadiran sosok mahkluk gaib yang diharapkan mampu membuat penontonya mati ketakutan. Dan bagaimana hantu tersebut diekseskusi untuk menjadi sosok hantu yang menakutkan pun gagalnya bukan main. Jahitan-jahitan tersebut tampaknya sama sekali tidak menyeramkan. Dan begitu pula dengan segala alasan untuk memecahkan misteri dan segala cara untuk menghentikan hal yang terus-menerus menghantui kehidupan mereka pun terlihat sangat basi dan terlalu dibuat-buat.

Begitupula dengan twist yang terasa sangat kampungan. Dan Lin Shaye yang lagi-lagi dihadirkan namun disia-siakan. Dengan sangat minimnya porsi nya di dalam film ini dan peran yang berharap akan membaut impact yang sangat besar bagi keseluruhan film ini dan twist nya sendiri, membuat saya merasa terheran-heran, karena twist nya sendiri pun tak bisa membantu keterpurukan Ouija ini sendiri. Pemain-pemainya boleh saja muda, cantik dan rupawan dan cukup bertalenta. Olivia Cooke is an eye-candy, Shelley Hennig as well. Dan sepertinya hanya hal tersebut yang mampu membuat Ouija menjadi layak tonton setidaknya untuk kaum Adam yang akan sangat menikmati wanita-wanita cantik disepanjang film. Ouija di setiap adeganya terasa sangat nanggung, mulai dari bagaimana setiap karakter ditakdirkan untuk mati namun terasa begitu dipanjang-panjangkan dan dipaksakan.

Yang lebih buruk lagi adalah ending dari Ouija sendiri yang terasa terlalu berlebihan. Sejak awal saya sudah tahu bahwa Ouijaakan menjadi sebuah horor serba nanggung yang sepertinya Stiles White sendiri tak tahu bagaimana harus memperbaiki Ouija yang dari plot nya sendiri sudah acak-acakan dan sepertinya satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah tampil seadanya. Namun, tampil seadanya tersebut betul-betul seadanya hingga membuat Ouija menjadi horor kampungan yang tak jelas. Satu atau dua gaya menakut-nakuti mungkin mampu membuat saya deg-degan sedikit, namun selain itu. Ouija sangat disayangkan gagal dalam setiap aspek didalamnya yang membuat Ouija hanyalah sebuah film horor yang ditakdirkan untuk dicaci-maki oleh penontonya, apalagi untuk penikmat horor yang 100% akan sangat-sangat kecewa menyaksikan keletoy-an Ouija. 

2-star-rating-md1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s