Review: Annie (2014)

183580

Sudah cukup lama tidak menyaksikan sebuah drama musikal, mungkin terakhir kali menyaksikan drama musikal Les Miserables dan itupun sudah dua tahun lalu. “Annie” mengisahkan tentang seorang gadis berumur 10 tahun yang lebih memilih dipanggil sebagai anak angkat dibandingkan seorang yatim piatu bernama Annie (Quvenzhane Wallis). Annie tumbuh sebagai seorang gadis yang aktif, ekspresif, ceria dan cerdas. Annie tinggal bersama seorang ibu angkat yang sangat tidak pedulian Holly Hannigan (Cameron Diaz) dan bersama empat gadis lainya yang berharap bahwa orang tua mereka akan datang dan menjemput mereka dan mereka dapat mempunyai seorang keluarga yang benar-benar keluarga. Namun hidup Annie berubah ketika ia bertemu dengan seorang calon walikota Will Stacks (Jamie Foxx) dalam keadaan yang tidak disengaja. Guy (Bobby Cannavale) melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk menaikkan derajat Will di muka umum dan membantunya dalam proses pemilihan nanti. Ia akhirnya menyuruh Annie untuk tinggal dirumahnya untuk sementara waktu untuk membantu Will menjadi walikota. Annie mengisi hari-hari Will yang dulunya hanya sibuk bekerja namun sekarang lebih berwarna lewat kekonyolan, kepolosan dan kepositifan seorang gadis berumur 10 tahun.

Seperti apa yang telah kita ekspektasikan duluan, ini bukanlah sebuah film yang banyak memakan waktu kita untuk berpikir, melainkan ini adalah film simpel yang hanya memerlukan mata dan hati untuk dapat benar-benar mencintainya. “Annie” awalnya berjalan dengan begitu meyakinkan apalagi dengan lagu-lagu nya yang benar-benar enak didengar dan layak untuk dinikmati. Namun, lama kelamaan “Annie” terlihat begitu sulit untuk dinikmati karena filmnya yang begitu bertele-tele dan sejujurnya jika tontonan ini ditujukan kepada anak kecil, mereka akan cukup kesulitan untuk menangkap isi dari cerita tersebut yang sebenarnya mampu menjadi sebuah film ringan yang inspiratif dan berjuta pesan. Namun, “Annie” selain disisipkan bumbu politik didalamnya, “Annie” juga cukup bertele-tele dalam penyampaianya sehingga jika film ini memang untuk anak kecil mereka akan kurang menikmati apa yang telah disajikan karena cenderung terlalu berat. Dan saya pun tidak bisa menkonklusikan bahwa film ini ditujukan untuk para remaja karena film ini terlalu ringan dan rasanya agak sulit untuk menikmatinya dibalik kekliseanya dimana nampaknya tidak diperlukan terlalu banyak logika didalamnya.

“Annie” bukanlah sebuah film yang benar-benar buruk, namun tujuan utama untuk menghasilkan sebuah sajian inspiratif sepertinya gagal karena “Annie” begitu melelahkan untuk diikuti dalam durasinya selama 100 menit lebih. Mungkin Will Gluck mengira bahwa lagu-lagu didalamnya mampu membuat penonton sedikit terbangun dari tidur yang panjang. Apa yang membuat saya cukup kebingungan dan mengernyitkan dahi sedikit adalah karakter Annie disini yang terbilang terlalu dewasa untuk sebuah gadis berumur 10 tahun. Karakter yang seharusnya dibuat untuk dicintai cenderung terlihat sebagai seorang gadis kecil yang agak nakal dan menyebalkan. Tidak adanya chemistry diantara Jamie Foxx dan Quvenzhane pun sedikit membingungkan. Tidak adanya terlihat ikatan dan kedekatan diantara kedua pemeran utama di dalam film ini. Rose Bryne jujur saja telah memberikan yang terbaik walaupun karakter nya tidak diberikan kesempatan lebih melainkan hanya pemanis namun saya tidak akan protes. Cameron Diaz pun terlihat begitu menyebalkan namun bermain dengan baik lewat karakter nya yang juga sepertinya terlupakan dan tidak diberikan waktu untuk bersinar. Sepertinya kemampuan berakting Cameron Diaz yang cukup baik sedikit tersiakan di dalam film ini.

Secara keseluruhan, “Annie” adalah sebuah film yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk setidaknya menjadi tontonan yang menyentuh hati. Quvenzhane Wallis adalah sebuah gadis kecil yang sangat bertalenta dan begitupula empat gadis kecil lainya yang tidak diberikan sebuah porsi yang pas walaupun mereka sebenarnya sama talented nya dengan Quvenzhane Wallis. “Annie” sangat disayangkan adalah film yang benar-benar mengecewakan dan melelahkan untuk dinikmati ketimbang sebuah film drama-musikal yang menginspirasi. Walaupun karakter Annie disini kita tahu adalah seorang gadis kecil penuh harapan. Untung saja ada lagu-lagunya yang sebenarnya sangat enak untuk dinikmati dengan adegan-adegan tarian yang sangat enak dipandang. Juga dengan bagaimana pemain-pemain didalamnya berjuang dengan keras untuk menjadi seseorang yang mampu bernyanyi dengan baik walaupun latar belakang mereka sebenarnya bukan musical namun mereka setidaknya berjuang dengan sepenuh hati. “Annie” sayangnya masih tergolong sebagai film yang disia-siakan walaupun berpotensi menjadi film yang sangat inspiratif, hasilnya sebaliknya.

2-star-rating-md1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s