FAVORITE MOVIES REVIEW #2: MARI LARI (2014)

wpid-mari-lari

Sangat jarang sekali melihat film Indonesia bertemakan olahraga lari. Mungkin banyak film Indonesia bertemakan olahraga lainya seperti bulutangkis (King), sepakbola (Cahaya Dari Timur) namun lari? Saya baru kali ini menyaksikan nya. Betul-betul disayangkan saya tidak menyaksikanya di layar lebar karena tidak kesampaian. Karena hasilnya, Mari Lari adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa. Film yang begitu mengena di hati dan menyentuh tanpa harus terlihat berlebihan dan berusaha untuk membuat penontonya menangis. Wajib tonton!

Mari Lari mengisahkan tentang pemuda bernama Rio (Dimas Aditya) yang tidak pernah menyelesaikan apa-apa dalam hidupnya. Mulai dari karate, bermain piano sampai homestay di Australia semuanya tak pernah ia selesaikan dengan sepenuhnya. Begitupula dengan perkuliahan Rio yang tidak mulus, 7 tahun Rio berkuliah dan tidak lulus-lulus juga karena masalah skripsi juga pekerjaan Rio sebagai salesman yang tidak lancar pula. Karena Rio yang tak kunjung berwisuda pula, Tio (Donny Damara), ayah rio memutuskan untuk mengusir Rio dari rumah. Sudah lama hidup sendiri, Rio pun akhirnya kembali kerumah karena sang Ibu (Ira Wibowo) meninggal dunia dan menitipkan kunci kepada Tio sebagai pesan terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Karena Rio tak pernah menyelesaikan sesuatu dalam hidupnya dan merasa tak pernah membahagiakan kedua orang tuanya, Rio ingin membuktikan kepada ayahnya dan juga demi mewujudkan keinginan ibunya untuk berlari di Bromo, Rio pun mengikuti marathon tersebut. Rio yang canggung dan kebingungan karena tidak pernah mengikuti marathon sebelumnya akhirnya bertemu dengan Annisa (Olivia Jensen) yang juga adalah pelari dan merupakan bagian dari Indo Runners. Annisa membantu Rio mewujudkan keinginan nya tersebut. Dengan bantuan Annisa, Rio menjadi semangat mengikuti Bromo marathon tersebut.

Ibnu Jamil (Reza-sahabat Annisa) Olivia Jensen (Annisa) Dimas Aditya (Rio)

Banyak sekali tema yang diusung dalam film ini, salah satunya father and son. Kisah antara ayah Rio dan Rio yang mampu membuat saya meneteskan air mata. Mari Lari juga dengan sangat cerdas menampilkan kisah ayah dan anak tanpa terlalu didramatisir layaknya sinetron-sinetron Indonesia zaman sekarang. Semua dalam takaran yang pas. Bahkan dengan adegan-adegan kecil seperti ketika Tio memberikan minum kepada Rio dan adegan-adegan ayah dan anak yang untungnya disiapkan di bagian akhir. They’re really saving the best for the last. Dan juga tema lainnya seperti zero to hero, dari Rio yang awalnya tidak mampu menyelesaikan apapun, kemudian ia belajar dan kita mampu melihat pengembangan karakter Rio.

Delon Tio mampu mengembangkan naskah tersebut menjadi film yang tidak lelah untuk dinikmati. Membagi porsi nya dengan sangat baik dan cerdas. Bagian awalnya memfokuskan kepada kisah antara Rio dan Annisa dan juga kebimbangan Rio memilih antara 2 pilihan dimana ia harus agak mengorbankan satu pilihan tersebut dan bagian akhirnya memfokuksan dengan kisah Rio dan Tio dan menurut saya hal ini sangat berpengaruh kepada film secara keseluruhan. Mari Lari tidak pernah tampil membosankan di hampir 2 jam durasinya. Jika dipikir-pikir, hampir 2 jam untuk film semacam ini biasanya sudah merasa kebosanan, namun Mari Lari berhasil membuat saya tidak sadar bahwa saya telah menyaksikan film nya selama hampir 2 jam. Malah jadi ingin lebih.

Mari Lari juga sangat cerdas menyampaikan informasi-informasi mengenai marathon, dari mana asalnya kata marathon. Juga dengan tips-tips berlari dengan benar, ya memang ada tips nya. Dan saya belajar banyak juga dari film ini. Dan film nya tak terkesan menggurui malah informasi-informasi yang disampaikan dikemas dengan sangat baik. Dibuat dengan versi animasi nya, sebagai contohnya. Pesan dan informasi pun tersampaikan dengan sangat baik karena penyampaianya yang enak dan mudah untuk dicerna. Mungkin hal yang sedikit menganggu adalah product placement nya yang tiba-tiba ada Ultra Milk lah, atau apa pun itu.

mari-lari-pics-1

Chemistry antar pemain nya pun terlihat sangat natural. Walaupun terkadang Dimas Aditya agak kaku main nya dan juga pemain pendatang baru lainya yang masih agak awkward contohnya pemeran Cika dan juga Bayu. Namun secara keseluruhan semuanya bermain dengan sangat baik. Olivia Jensen dan Dimas Aditya yang walaupun terkadang agak kaku namun secara keseluruhan ketika dalam satu scene terasa chemistry nya juga dengan chemistry Donny Alamsyah dan Dimas Aditya.

Secara keseluruhan, Mari Lari adalah salah satu film Indonesia favorit saya. Tujuan nya untuk menginspirasi dan memotivasi penontonya sangat berhasil bagi saya karena saya betul-betul merasa bahwa pengarahan yang dilakukan Delon Tio secara keseluruhan betul-betul efektif. Dan juga dengan penampilan yang kuat dari masing-masing pemainya juga dengan tema father and son yang sangat mengharukan. Ditemani pula dengan lagu-lagu yang asik dan ear catchy, “Marilah Berlari” dari Alexa. Mari Lari dikemas dengan sangat menarik dan merupakan sebuah film yang sangat menyentuh dari awal hingga akhir.

MARILARI.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s