Review: ILY From 38000 Ft (2016)

027848600_1462360041-FA_POSTER_70x100_-_ILYF3800FT_-_Text_2

Saya sebenarnya agak anti nonton film yang beginian karena saya pikir gak jauh beda dengan film-film FTV yang sering ada di layar televisi. Kayak bisa nonton dirumah gitu. Seperti film-film dari Screenplay Productions sebelumnya, Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016) yang lalu yang tidak mendapatkan review yang cukup baik, terutama Magic Hour. Film-film drama remaja romansa semacam ini seperti hanya mengandalkan bintang utama yang itu-itu saja dan adegan-adegan romantis yang bikin mau muntah saja. Ya, tapi untuk kali ini.. saya mau tidak mau harus menyaksikan karena sebenarnya penasaran juga. Dan juga kemarin mereka dengan niat mengadakan konser musik di SCTV untuk Launching film ini dan menurut saya niat mereka patut diacungi jempol dan dengan jumlah penonton yang sudah menembus satu juta penonton dan menjadi film ke-7 tahun ini yang menembus satu juta, mereka layak mendapatkanya dengan usaha yang mereka kerahkan untuk kesuksesan film ini. Ya, jadi untuk masalah promosi mereka sih hebat banget.

kisah “ILY From 38000 Ft” berawal dari Arga (Rizky Nazar) yang “menyelamatkan” gadis bernama Aleta (Michelle Ziudith) dari seorang pria yang menggoda Aletta sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Bali. Kemudian, mereka dipertemukan kembali ketika Aletta ingin membantu Arga dan tim nya karena tim nya sedang membutuhkan host untuk acara di Geography Channel. Sepanjang proses syutingnya, Aletta dan Arga semakin dekat dan mempelajari satu sama lain sampai dua-dua nya benar-benar merasa nyaman dengan satu sama lain. Sampai ketika mereka harus berpisah karena Aletta yang harus kembali ke Jakarta. Namun, Arga mempunyai janji untuk datang mengunjungi Aletta di Jakarta. Janji tersebut tidak ditepati oleh Arga yang tak kunjung datang menemui Aletta.

Well, memang saya tidak berharap apa-apa sih diawal karena saya sudah tahu apa yang akan saya dapatkan. To be honest, “ILY From 38000 Ft” tidak buruk-buruk amat. Tidak buruk bahkan. Namun memang ada beberapa yang membuat saya mengernyitkan dahi sepanjang film. Yang pertama adalah dialog nya, yang menurut saya terlalu dipaksakan agar merasa romantis. Yang dapet bukan baper malahan jijik mendengar perkataan yang keluar yang begitu berlebihan. Siapapun yang menulis skripnya, menurut saya ini adalah the biggest turn off dari “ILY From 38000 Ft”.

Hal lain yang menyebalkan adalah musik nya. Entah Rossa, entah lagu Kiss Me itu entah rendisi siapa, menurut saya benar-benar menganggu. Walaupun hanya sebuah hal yang minor namun tetap membuat mengurangi tingkat kenikmatan dalam menyaksikan film ini. Sebenarnya saya agak terpukau dengan production value yang berani lewat lokasi syuting nya yang eksotis, pemandangan-pemandangan nya yang memanjakan mata. Terbukti bahwa “ILY From 38000 Ft” tidak dibuat asal-asalan. Sekitar 1 jam pertama saya cukup menikmati, namun lewat dari itu “ILY From 38000 Ft” seperti menjadi sebuah sinetron yang sangat maksa, terlalu didramatisir dan gak karuan.

“ILY From 38000 Ft” pada beberapa bagian memang mampu membuat hati penontonya terenyuh, jujur saja ada di beberapa bagian yang menurut saya pas. Namun dalam porsi yang terlalu banyak dan penonton yang disodorkan terus-menerus dengan adegan-adegan yang dengan niatan untuk menjadi sebuah adegan yang mampu meneteskan air mata malah penonton jadi muak karena terlalu didramatisir. Apalagi 10 menit terakhir yang menurut saya sangat begitu dipaksakan dengan flashback-flashback yang mungkin menurut Asep Kusdinar mampu menyelesaikan konfliknya begitu saja, jadi “ILY From 38000 Ft” ending nya terkesan terlalu digampangkan dengan penyelesaian konflik yang basi. “ILY From 38000 Ft” juga seperti merendahkan kepintaran para penontonya dengan hal-hal yang tak masuk akal. Beberapa hal seperti dengan begitu saja dilupakan tanpa penyelesaian yang jelas.

Awalnya saya sudah mengira film ini hanya seperti sebuah FTV namun ditayangkan di layar lebar, hasilnya saya terlalu meremehkan. Namun, suatu hal yang saya sudah punya ekspektasi tinggi diawal nya adalah dari Departemen Akting nya. Melihat betapa para pemain nya begitu akrab dan klop, rasanya saya berpikir bahwa dalam film ini mereka akan berakting ya selayaknya mereka bertemu saja, senatural mungkin. Namun, menurut saya akting sebagian besar pemain nya terlalu berlebihan. Sebelum ke akting, pengembangan karakter-karakter di film ini sangatlah buruk. Terutama karakter yang diperankan oleh Derby Romero yang tiba-tiba di pertengahan film hilang bak ditelan bumi. Potensi sebuah cinta segitiga dalam cerita ini yang mungkin saja bisa menambah warna dalam cerita nya tidak digunakan secara baik. Untuk akting nya, tidak ada yang benar-benar memukau, seperti yang saya katakan tadi beberapa malah berakting dengan terlalu berlebihan. Penggunaan aktor dan aktris pendukung pun sangat disia-siakan, mereka tidak diberikan waktu untuk bersinar. Namun, satu pemain yang mencuri perhatian saya adalah Ricky Cuaca. Ricky Cuaca benar-benar penyejuk suasana, bagaikan penyelamat ketika film sudah mulai terasa melalahkan. Satu-satunya pemain yang bermain dengan natural dan dengan jokes nya yang benar-benar memang lucu.

Secara keseluruhan, “ILY From 38000 Ft” tidaklah buruk. Keniatan dari masing-masing crew dan semua orang yang terlibat dalam pembuatan film ini benar-benar terlihat. Saya juga menyukai sinematrografi nya. Bagaimana “ILY From 38000 Ft” dapat menghadirkan keindahan-keindahan pemandangan dengan lokasi yang eksotis nya. “ILY From 38000 Ft” juga terasa begitu segar dibandingkan film-film drama romansa lainya lewat ceritanya yang memang walaupun tidak baru namun setidaknya mencoba untuk tampil baru dengan twist yang pada akhirnya gagal untuk menambah nilai plus untuk “ILY From 38000 Ft”. Di beberapa bagian, “ILY From 38000 Ft” tampak berhasil meluluhkan hati penontonya namun di beberapa bagian pula terasa begitu menggelikan dengan dialog-dialog nya yang terlalu dipaksakan untuk romantis. Walaupun ceritanya agak acak-acakan di paruh keduanya, “ILY From 38000 Ft” masih jauh dari kata mengerikan.

ILY.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s