Review: The Purge: Election Year (2016)

file_749823_Purge1.jpg

Rasanya, bagi saya The Purge (2013) memiliki premis yang sangat menarik, refreshing dan baru. Tiga tahun yang lalu, membaca premis nya saya seperti girang sendiri karena sebagai pecinta film horor slasher semacam ini seperti dream come true bagi saya. Walaupun sebagai hasilnya, The Purge (2013) yang memiliki potensi besar untuk menjadi sebuah film home invason dengan premis menarik dan ide yang baru itu gagal menjadi sebuah film horor yang menghibur secara keseluruhan. Hal ini tidak membuat James DeMonaco putus asa. Menghadirkan seri keduanya yang berjudul The Purge 2: Anarchy (2014) yang menurut saya jauh lebih baik dibandingkan seri pertamanya, walaupun ada kekuranganya di beberapa bagian namun secara keseluruhan jauh lebih baik dibandingkan seri pertamanya. The Purge: Election Year mengisahkan tentang seorang calon presiden, Charlie Roan (Elizabeth Mitchell) yang ingin memenangkan pemilihan presiden Amerika dengan misi dan tujuan utamanya untuk menghentikan aksi pembersihan yang dikenal dengan nama Purge yang diadakan setiap tahun untuk meningkatkan ekonomi Amerika dengan membludak nya jumlah penduduk di Amerika. Le0 (Frank Grillo) yang selamat dari Purge dua tahun yang lalu kali ini bekerja sebagai kepala keamanan. Segala hal yang sudah direncanakan Leo dan anak buahnya kemudian hancur ketika bawahan nya sendiri mengkhianatinya yang membuat Leo harus lekas membawa Charlie Roan ketempat yang aman. Sampai ketika mereka bertemu dengan para penjaga toko, Joe (Mykelti Williamson), Marcos (Joseph Julian Soria) dan Laney Rucker (Betty Gabriel) yang bersama-sama hanya ingin bertahan hidup dari 12 jam yang mengerikan ini.

the-purge-election-year-3.jpg

The Purge: Election Year hadir dengan ide yang baru, yang lebih menyegarkan dibandingkan dua seri sebelumnya. Tidak hanya menyajikan aksi kejar-kejaran antara para purger dan para penduduk yang waras, melainkan kali ini lebih berfokus pada segi politik. Agak cerdas memang, apalagi dengan panas nya dunia politik di Amerika tahun ini yang menurut saya lebih ke hot mess dibandingkan aksi kompetitif antara dua calon presiden Amerika. The Purge: Election Year menggunakan momentum yang ada dan menghasilkan sebuah film yang relatable dengan apa yang sedang terjadi di Amerika pada saat ini. Sehingga penonton tahu jelas apa yang terjadi dan dapat merasakan secara langsung. Menyaksikanya dengan nuansa yang berbeda namun masih terasa relatable.

Saya memang sangat mengapresiasi niat baik James DeMonaco untuk kembali menghadirkan sebuah seri lanjutan dari The Purge ini dan sekaligus menghadirkan sebuah ide yang baru lagi. Alhasil, The Purge: Election Year malah seperti kacang lupa pada kulitnya. Atmosfir The Purge terasa sangatlah kurang, seperti menyaksikan sebuah seri dari film lain bukan seri The Purge sendiri. Daya tarik utama penonton adalah untuk menyaksikan perayaan pembersihan yang kejam, brutal dan sadis ini. Namun, sangat disayangkan hal itulah yang justru paling minim di sepanjang film The Purge: Election Year ini. Kurangnya aksi potong-memotong, kejar-kejaran, bunuh-bunuhan jelas membuat The Purge: Election Year menjadi lagi-lagi sebuah seri yang memiliki potensi besar namun gagal dalam menghibur penontonya. Ingat dengan aksi gila para purger dengan membawa pedang, gergaji atau apapun itu? Sangat disayangkan rasanya jika hal-hal tersebut hanya dijadikan sebuah sampingan.

the-purge-election-year.jpg

Secara keseluruhan, The Purge: Election Year yang merupakan salah satu film horor yang paling saya antisipasi di tahun 2016 ini gagal menjadi sebuah horor andalan 2016. Niat baik James DeMonaco untuk menghadirkan sebuah ide yang baru rasanya gagal dengan eksekusi nya sendiri yang lackluster. Walaupun tidak sepenuhnya buruk, seperti aksi baku tembak di beberapa menit akhir yang masih layak tonton, dan juga dengan hadirnya sosok-sosok baru sebagai contoh nya The Candy Girl yang merupakan sosok penyelamat di film ini dan juga dengan hadirnya karakter-karakter baru yang rootworthy. Hal-Hal inilah yang masih mampu menghidupkan The Purge: Election Year sehingga tidak menjadi sebuah film yang benar-benar usang dan membosankan. Tidak lupa pula The Purge: Election Year Diselingi dengan lelucon-lelucon yang lucu dan dengan karakter Joe Dixon yang likeable. Dengan The Purge: Election Year yang mengalami penurunan kualitas dan seri yang tidak membaik pula. Apakah memang James DeMonaco harus merelakan saja berakhirnya seri The Purge ini?

Untitled-1.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s