Review: La La Land (2016)

1.jpg

Terpaksa harus menempatkan La La Land di deretan film yang saya tonton di tahun 2017 walaupun rilisnya di tahun 2016 karena memang di sebagian negara memang diputar pada tahun 2017. Saya jujur saja syok ketika melihat bahwa peminat La La Land  ternyata cukup banyak. Ketika menyaksikanya kemarin, tempat duduk nya full mungkin hanya tersisa tiga baris kedepan. Agak tidak nyangka bahwa banyak orang yang memang senang atau mungkin tertarik menyaksikan sebuah film drama musikal yang memang not everyone’s cup of tea. Setelah menyabet 7 piala di Golden Globe kemarin, rasanya mungkin itu yang membuat penonton penasaran sebagus apakah film La La Land  ini dan saya tidak akan terkejut jika La La Land  kembali menyapu bersih di Oscar nanti. Setelah Whiplash, yang menurut saya sebuah pencapaian yang sangat membanggakan. Damien Chazelle kembali mengutarakan kecintaan nya terhadap musik jazz lewat La La Land yang mengisahkan tentang Mia (Emma Stone) seorang wanita muda yang ingin menjadi seorang aktris namun selalu gagal dalam audisi-audisinya dan Sebastian (Ryan Gosling) yang selalu ingin membangun sebuah kafe bertemakan jazz, wait.. pure jazz. No Samba! Mereka berdua bertemu di sebuah kemacetan kota Los Angeles yang kemudian dipertemukan lagi ketika Mia memasuki sebuah restoran dimana Sebastian sedang menunjukkan kepiawaianya dalam bermain piano. Dibalik perbedaanya, akhirnya keduanya memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan dimana keduanya sama-sama mendukung satu sama lain dan berperan pentin dalam mengejar mimpi masing-masing.

lalaland.jpg

La La Land mengisahkan tentang bagaimana orang mengejar sebuah mimpi namun ketika mengejarnya ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Bukanlah sebuah cerita yang rumit sekali, bahkan sepertinya sering kali rasanya menyaksikan film-film tentang mengejar mimpi semacam ini. Namun, La La Land  masih mampu hadir dengan sangat refreshing dan never before seen. Menyaksikan kisah romantis antara sepasang kekasih yang sama-sama struggling di kota yang sering menghancurkan hati banyak orang dan menyaksikan mereka bertumbuh, berkembang dan blossomed membuat La La Land terasa sangat indah untuk disaksikan. Apalagi lewat gambar-gambar indah yang dari awal hingga akhir memanjakan mata para penontonya. Pengambilan gambar sudut-sudut kota Los Angeles yang sangat-sangat luar biasa cantik.

Hal menakjubkan lainya adalah dari Justin Hurwitz yang mampu mengaransemen lagu-lagu yang sangat catchy. Diawali dengan sangat optimis lewat “Another Day In The Sun” yang mampu membangkitkan semangat penonton seperti sekilas gambar tentang bagaimana La La Land untuk 2 jam kedepan. Kemudian, “Somewhere In The Crowd”, “City of Stars” dan kemudian tidak lupa pula dengan audisi Mia, “The Fools Who Dream” yang merupakan sebuah penampilan yang sangat kuat dan meyakinkan dari Emma Stone yang tidak menyangka bahwa Emma Stone mampu tampil dengan begitu convincing dan passionate. Namun, favorit saya adalah “A Lovely Night” yang mempertemukan Mia dan Sebastian dan sebuah adegan yang memang sangat lucu, manis, menakjubkan, membuat penontonya tersenyum-senyum sendiri akan adorable nya adegan tersebut.

la-la-land-ryan-gosling-emma-stone-1.jpg

Tentu saja, La La Land tidak akan seberhasil ini tanpa kehebatan dari dua pemain yang memainkan tokoh utamanya Ryan Gosling dan Emma Stone. Ryan Gosling sendiri yang belajar bermain piano hanya dalam 3 bulan namun mampu tampil dengan sangat percaya diri dan meyakinkan seperti telah memainkan piano tersebut sepanjang hidupnya. Dan juga Emma Stone yang kembali harus belajar tarian jenis ballroom walaupun sudah pernah belajar ballet dan tap dance sebelumnya. Dedikasi yang diberikan oleh kedua pemain utamanya terpancarkan sepanjang film betapa meyakinkanya keduanya dalam memerankan tokoh masing-masing. Terpancarkan pula dari chemistry antara Ryan Gosling dan Emma Stone yang mungkin juga berkat bantuan dari faktanya mereka pernah bermain dalam dua film yang sama sebelumnya (Crazy, Stupid Love dan Gangster Squad). Namun, yang mencuri perhatian memang Emma Stone dari awal ia muncul di layar bioskop hingga credits bergulir.

Secara keseluruhan, La La Land adalah sebuah keindahan 128 menit yang mulut ini tidak akan pernah berhenti memuji film ini. Walaupun memang hal yang menghentikan saya untuk memberikan film ini nilai A+ adalah dipertengahan dimana La La Land mulai mengarah ke sisi drama dan konflik dan terasa sedikit menjemukan namun kemudian kembali dikuatkan dengan ending nya sekitar beberapa menit sebelum filmnya berakhir yang sangat-sangat emosional dan sangat menyayat hati tanpa terlihat terlalu didramatisir dan tanpa terlihat terlalu berusaha keras untuk membuat penontonya meneteskan air mata. La La Land tetap berhasil tampil dengan emosional yang membuat mata beberapa penonton kemarin sembap setelah menyaksikanya dan saya pun masih tercengang ketika credit bergulir. Oh what a great experience! Thankyou, Chazelle!  

4-5-star-rating-md7.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s