Review: Galih & Ratna (2017)

9ba6331b45414fa9584a78d47da46379.jpg

Sinopsis: “Galih & Ratna” mengisahkan tentang Ratna (Sheryl Sheinafia) seorang gadis SMA yang baru saja pindah dari Jakarta menuju Bogor yang sama sekali bukanlah keinginan dari Ratna sendiri sampai ia bertemu dengan seorang pria remaja bernama Galih (Refal Hady) yang merupakan seorang sosok misterius, pendiam, kutu buku namun mencuri perhatian Ratna. Dimulai dari sama-sama mendengarkan lagu di Walkman milik Galih sampai Ratna membantu Galih membangun kembali toko kaset “Nada Musik” yang semakin lama semakin terpuruk yang membuat Ibu Galih (Ayu Dyah Pasha) merasa bahwa menjual toko tersebut adalah alasan yang tepat. Namun, hal itu tidak mematahkan semangat Galih ketika bersama dengan Ratna mencari cara-cara kreatif agar tetap menghidupkan toko kaset yang dulunya milik ayah Galih. Lewat proses tersebut, keduanya mulai mengetahui hal yang mereka sukai antar satu sama lain namun juga perbedaan yang membuat kisah cinta Galih & Ratna tak semulus kaki Sheryl Sheinafia, kata pak Guru (Joko Anwar).

Sangat sulit sekarang ini untuk menemukan sebuah film drama romantis remaja di Indonesia yang benar mengena di hati tanpa berusaha terlalu keras untuk menjadi sebuah drama tearjerker yang pada akhirnya tampak gagal total dan terlalu maksa. Namun, “Galih & Ratna” hadir dengan segala “kerendahan hatinya”, menyajikan sebuah drama romantis remaja yang simple namun mengena. Tidak bertele-tele dan cukup memorable. Sebelum Rangga & Cinta, hadir lebih dahulu Galih & Ratna. Jadi tentu saja akan sangat banyak penonton yang ingin bernostalgia menyaksikan kisah cinta antara Galih & Ratna. Membuat Lucky Kuswandi menanggung banyak beban karena ekspektasi orang yang mungkin berekspektasi untuk menyaksikan sebuah kisah legendaris dari Galih & Ratna ini. Saya tidak bisa memastikan bahwa pada akhirnya mayoritas penonton akan puas dengan hasil Lucky Kuswandi ini. Namun, untuk saya pribadi “Galih & Ratna” merupakan sebuah drama yang sangat sangat enjoyable untuk disaksikan terlepas dari beberapa kekuranganya yang menurut saya pada akhirnya akan mengurangi beberapa poin dari “Galih & Ratna”.

Untuk para pemain, Sheryl Sheinafia memerankan tokoh Ratna dengan sangat tepat. Tidak berlebihan, tidak juga terlalu bergaya-gaya sok lembut dan sok manis. Pokoknya dengan takaran yang pas dan begitu juga dengan Refal Hady. Memiliki karisma yang terpancarkan dengan jelas setiap wajahnya terpampang di layar bioskop. Namun, dari Departemen Akting yang mencuri perhatian malah justru adalah pemain-pemain pendukungnya. Sebut saja, Stella Lee yang memerankan tokoh Erlin. Agra Piliang, Rain Chudori, Anneqe Bunglon. Dan juga nama-nama yang cukup besar seperti Indra Birowo, Ayu Dyah Pasha, Marissa Anita dan juga Joko Anwar sebagai bapak guru yang galak dan tegas. Semuanya hadir dengan sangat natural dalam memerankan tokoh masing-masing.

“Galih & Ratna” juga terkesan tidak terlalu berusaha keras untuk tampil sebagai drama romantis yang benar-benar romantis, let it flow saja. Tanpa adegan-adegan sok romantis yang menjijikkan. Dari adegan-adegan manis yang kecil-kecil saja “Galih & Ratna” mampu tampil dengan lucu dan membuat hati terenyuh. Ditambah lagi dengan diselipkan nya joke-joke penyegar agar penonton tidak merasa bosan dengan hanya menyaksikan Galih dan Ratna saling bertukar pandang dan tersenyum satu sama lain. Lelucon-lelucon tersebut memang hit and miss. Seperti Tantri, tante nya Galih yang menurut saya agak terlalu berlebihan. Namun, lelucon-lelucon lainnya berjalan dengan lancar dan setidaknya jika tidak mampu membuat penonton terbahak-bahak mampu membuat penonton tersenyum.

Kelemahan “Galih & Ratna” justru terletak dari bagian akhirnya yang menurut saya menghancurkan segala yang sudah dibangun dari awal hingga akhir. Walaupun memang tidak semua butuh conclusion yang manis, namun serasa keluar dari bioskop wanting more. Seperti butuh penjelasan yang lebih berarti. Bagaikan seorang perempuan yang ditinggalkan oleh kekasihnya tanpa alasan yang jelas. Dan juga penyelesaian konflik yang menurut saya terlalu diabaikan.

galihratnaStillFotoLowResPOD0017.jpg

Secara keseluruhan, “Galih & Ratna” adalah attempt yang baik dari Lucky Kuswandi untuk menghadirkan kembali kisah legendaris dari pasangan Galih dan Ratna. Lebih “kecil”, imut dan simpel terasa “Galih & Ratna” mengena di hati dengan berbagai adegan-adegan manis yang dihabiskan dengan sepasang kekasih ini. Walaupun sebenarnya “Galih & Ratna” belum benar-benar tampil setingkat dan sekuat dengan… let’s say Ada Apa Dengan Cinta 2, “Galih & Ratna” masih mampu menghibur penontonya dengan kisah yang ditawarkan terasa begitu fresh. Dengan lelucon-lelucon yang bekerja dengan baik di sepanjang film dengan takaran yang pas dan waktu yang tepat (adegan favorit saya adalah ketika jual beli mixtape mulai terkenal di sekolah, really funny) dan juga dengan lagu-lagu catchy yang menemani penontonya dari awal hingga akhir. Rendisi baru yang menyegarkan dari GAC yang mengisi soundtrack film ini dan juga alunan lagu oleh Sheryl Sheinafia yang menambah keindahan “Galih & Ratna” ini. “Galih & Ratna” berakhir dengan, menurut saya kurang spektakuler dan kurang menggigit namun masih benar-benar tampil dengan baik sebagai sebuah drama romansa remaja

four-star-rating-md20.png

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s