Review: Life (2017)

hero_Life-2017.jpeg

Sinopsis: Mengisahkan tentang enam orang pekerja di stasiun luar angkasa David (Jake Gyllenhaal), Miranda (Rebecca Ferguson), Rory (Ryan Reynolds), Sho (Hiroyuki Sanada), Kat (Olga Dihovichnaya) dan Hugh (Ariyon Bakare) yang bertugas untuk meneliti bahwa terdapat kehidupan di luar bumi, yakni di Mars lewat sampel tanah dari Mars yang diambil. Ketika terdapat tanda-tanda kehidupan dari organisme yang dinamai Calvin tersebut, Hugh terus merawat organisme tersebut yang kian hari kian membesar. Namun, yang tak mereka sadari adalah bahwa organisme tersebut bukan organisme biasa. Calvin adalah alien yang cerdik yang mencari segala cara untuk memangsa para mahkluk hidup yang tinggal di stasiun tersebut. 

Saya selalu menyukai film-film space semacam ini. Sepertinya setiap tahun mereka merilis setidaknya satu. Melihat mereka melayang-layang diangkasa karena tidak ada gravitasi seperti semacam kepuasan sendiri. Apalagi jika dibalut menjadi sebuah sajian horor mencekam bertemakan alien. Bayangkan saja, teror ruang sempit, dimana kita menyaksikan keenam manusia siap-siap diburu oleh sebuah alien ceras. CGI untuk  “Life” juga tampak mengesankan bagaimana “Life” mampu menghasilkan sebuah monster yang awalnya lucu semacam Groot menjadi sebuah monster mengerikan bernama Calvin tersebut. Calvin yang kian membesar juga meningkatkan tingkat kengerian dari “Life” itu sendiri.

pri_33911011.jpg

“Life” yang justru memakai nama-nama besar seperti Ryan Reynolds dan Jake Gyllenhaal justru merupakan kelemahan dari film ini. Ryan Reynolds yang sebagai Rory yang merupakan inti dari segala lelucon yang terjadi di stasiun luar angaksa tersebut hanya sebagai pemeran pendukung. Sehingga, “Life” hadir dengan begitu kelam di sebagian paruh filmnya. Untuk masalah akting, sebagian besar dari pemain-pemain nya terasa masih kaku dan masih kurang natural. Terbukti dari akting Derry dan Kat yang masih terasa kurang lepas. Jake Gyllenhaal pun sedikit mengejutkan karena ia terlihat tidak benar-benar passionate dalam karakternya sebagai David. 

“Life” hadir sebagai sebuah film horor slasher yang mencekam dari menit ke menit. Terdapat berbagai cara bagi Calvin untuk berusaha menerkam mangsa-mangsanya. Battle kecerdasan antara para pekerja luar angkasa dan alien tersebut nampak sangat menyenangkan tiap menitnya. Untuk masalah membuat penonton kehabisan nafas dan menghentakan kaki karena tegang sepertinya Daniel Espinosa telah menguasainya dengan baik. Namun, tampak sangat jelas perjalanan “Life” dari awal hingga ke posisi tersebut. Di awal dimana “Life” terasa berjalan dengan sangat lambat untuk mencapai titik terbaiknya yaitu terletak di bagian akhir dari film ini sendiri.

Life_2017-21.jpg

Tujuan utama “Life” untuk menghadirkan sebuah teror ruang sempit yang mencekam tampak cukup berhasil dengan setiap momen-momen berusaha dibangun dengan semencekam mungkin. Seperti detik-detik bagaimana Calvin sudah mengcengkram tubuh mangsanya atau ketika Calvin mulai memasuki celah-celah sempit sehingga ia bisa berada dimana saja. Membayangkan hal-hal seperti itu saja mungkin sudah membuat para penonton ketakutan sendiri, atmosfir yang dibangun dengan cukup baik. Walaupun tidak memberikan hal-hal baru dan segala yang terjadi seperti sudah bisa dilihat di film-film sebelumnya, “Life” masih mampu hadir sebagai sebuah film yang menegangkan dengan tingkat geregetan nya yang cukup. “Life” juga berusaha meninggalkan kesan terakhir lewat ending nya, yang walaupun sebenarnya agak cukup mudah ditebak namun malah justru menjadi bagian terbaik dari sepanjang film “Life”.

3-5-star-rating-md2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s