REVIEW: DANUR (2017)

danurjadwal-tv

Synopsis: Danur bermula ketika Risa (Asha Kenyeri Bermudez) yang menginginkan seorang teman di ulang tahun ke-8 nya. Permohonan Risa terwujudkan saat itu juga ketika ia didatangi oleh tiga bocah pria bernama Janshen, William dan Peter. Namun, tiga teman baru Risa ini bukanlah teman biasa, melainkan merupakan mahkluk halus yang berasal dari rumah tersebut. Sejak hari itu, Risa menghabiskan hari-harinya bersama tiga teman barunya tersebut. Namun, sang Ibu (Kinaryosih) sudah mulai merasakan hal-hal aneh terjadi pada putrinya. Sampai pada akhirnya sudah tidak tahan lagi, mereka pun pindah rumah. Hingga beberapa tahun kemudian untuk merawat sang nenek (Inggrid Widjanarko), Risa (Prilly Latuconsina) harus kembali ke rumah lamanya bersama adiknya Riri (Sandrinna Michelle). Hal-hal aneh mulai terjadi ketika tiba-tiba mereka kedatangan seorang pengasuh bernama Asih (Shareefa Danish) yang kedatanganya memiliki niat terselubung.

Saya sangat excited dengan kehadiran film-film horror lokal yang benar-benar menyuguhkan sebuah sajian yang benar-benar horror tanpa berbau seks. Dan rasanya sangat jarang bagi kita untuk menemukan horror yang benar-benar berkualitas, memang sekarang horror dengan unsur seks sudah menurun jumlahnya, menurun sangat drastis, namun masih butuh penyesuaian bagi pembuat film-film horor untuk kembali menyajikan horor dengan hasil yang benar-benar memuaskan. Danur merupakan salah satu attempt yang sebenarnya tidak sepenuhnya gagal namun masih jauh dari kata sempurna. Harus diapresiasikan Awi Suryadi yang berusaha membuat sebuah horor dengan sentuhan-sentuhan Insidious didalamnya. Dan dengan segala kreativitas Awi Suryadi, saya benar-benar menghargai karyanya dan usahanya untuk menyajikan sebuah horor yang benar-benar horor.

Danur-BookMyShow-2-e1490705659588.jpg

Danur diawali dengan sangat meyakinkan. Memiliki sebuah adegan pembuka yang cukup membuat bulu kuduk berdiri, seperti memberikan peringatan akan seperti apa Danur untuk sejam kedepan. Unfortunately, It went downhill from there… Sayang sekali karena gimmick nya sudah sangat bagus. Isu tentang Prilly dirasuki setan dan dihantui karena tidak menyertakan para hantu-hantu di posternya lah atau orang yang kesurupan sehabis menyaksikan trailer Danur sampai sengaja menyediakan beberapa kursi bagi para arwah untuk ikutan nonton filmnya. Promosi gencar-gencaran yang dilakukan tim Danur ini memang layak diacungi jempol. Usaha yang dikerahkan berhasil karena Danur mampu menarik perhatian 80 ribu penonton dihari pertama filmnya dirilis.

Sayangnya, sepertinya hanya hal diatas yang bisa saya benar-benar puji dan yang benar-benar berhasil dari Danur secara keseluruhan. Oke, mungkin Shareefa Danish sebagai penyelamat Danur. Shareefa remains the queen of Horror! Segala tatapan bengis dan dingin dan gerak-gerik kaku yang mengerikan rasanya terpancarkan dengan sangat baik. Shareefa sebagai seorang pengasuh misterius benar-benar mampu memberikan sebuah kengerian sendiri bagi Danur. Saya membayangkan wajahnya ketika sedang menyetir di malam hari saja sudah merinding ketakutan. Shareefa memang benar-benar mampu memberikan sebuah penampilan yang benar-benar total. Ia seperti tidak harus berusaha dengan keras untuk tampil menakutkan karena hanya dari tatapan kosong nya dan gerakan kecil yang ia lakukan mampu membuat penonton ketakutan. Saya mengingat ketika Shareefa pertama kali muncul di layar bioskop, para penonton sudah mulai ketakutan sendiri.

film-danur-i-can-see-ghosts-2017.jpg

Prilly Latuconsina juga memberikan sebuah penampilan yang sebenarnya tidak buruk namun sangat disayangkan karakter nya disini seperti sebuah karakter yang sangat kosong dan hampa. Penonton seperti belum bisa sepenuhnya berada pada sisi Risa karena memang Risanya sendiri kebingungan. Risa tidak diberikan pendalaman karakter yang berarti begitupula dengan karakter nenek, Inggrid Widjanarko. Mengapa sang nenek begitu? Apa penyebabnya? Bagaimana yang terjadi pada nenek itu? Segala pertanyaan terlontarkan tanpa jawaban yang meyakinkan. Dan juga teman-teman Risa seperti Jansen, William dan Peter yang tidak diberikan latar belakang yang jelas. Hanya gambaran-gambaran kecil. Sangat disayangkan karena kita sangat-sangat membutuhkan kisah-kisah tiga bocah. Apalagi nambah durasi, dengan durasi yang sangat-sangat singkat (78 menit), Awi bisa menambahkan durasinya mungkin untuk memperjelas kisah tiga bocah tersebut. Kinaryosih sebagai seorang Ibu juga sangat membingungkan. Sesekali ia marah, kemudian ia kembali lagi baik. Aktingnya masih kaku jika membandingkan dengan akting-aktingnya Kinaryosih di film-film lainnya.

Danur bukanlah sebuah horror yang gagal total. Sesekali mampu menyajikan beberapa jump scare yang berhasil. Beberapa momen, ya saya mengitungnya, tiga kali mampu membuat jantung saya berdebar kencang dan adapula beberapa momen yang benar-benar membuat saya merinding. Namun, jump scare tersebut juga menjadi kelemahan Danur. Terkadang beberapa kali terlihat terlalu dipaksakan untuk jadi sebuah adegan mengagetkan padahal sebenarnya biasa saja. Malah justru adegan-adegan kecil yang membuat saya ketakutan seperti adegan Asih di balkon, ya Tuhan. Gerakan-gerakan Asih dan putaran-putaran Badan Asih jauh lebih efektif dibandingkan kebanyakan jump scare yang terlihat dipaksakan. Hal-hal yang mengganggu lainnya adalah dari Tata Suara yang terlalu berisik dan terlalu disengaja membuat penonton kaget-kagetan. Banyak sekali suara-suara disturbing yang mungkin bertujuan untuk membuat penonton takut namun malah berakhir annoying.

076684400_1490858736-youtube.JPG

Pada akhirnya, Danur hanya sebuah horror jump scare after jump scare tanpa sebuah kisah yang benar-benar digali dengan baik. Beberapa jump scares memang berhasil membuat penonton kaget namun lama-kelamaan penonton menjadi kecapekan sendiri karena memang tidak ada hal yang benar-benar membuat penonton menjadi penasaran sampai akhir. Momen-momen yang ditunggu untuk menjelaskan siapa sosok Asih pun menjadi anti-klimaks, tidak se-epic yang saya perkirakan. Danur diakui mampu menghasilkan visual-visual yang cantik. Jelas di adegan-adegan akhir yang mampu memberikan sebuah gambar-gambar menawan dengan sentuhan warna hijau dan merah yang cukup mencekam. Dibalik segala kekuranganya, Danur masih berhasil membangun sebuah atmosfir mencekamnya dan juga dengan bantuan Shareefa Danish dan beberapa momen-momen mencekam dan menegangkan. Juga dengan alunan lagu “Boneka Abdi” yang terngiang-ngiang dikepala. Ini adalah percobaan Awi Suryadi untuk membangkitkan horor Indonesia kembali. Memang pada akhirnya, Danur terasa nanggung di segala bagian namun setidaknya ini adalah niat baik dari seorang Awi Suryadi. “Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka…….”

2-5-star-rating-small-md19.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s